"Waktu tak bisa diulang, waktu adalah konsekuensi. Waktu adalah tentang apa yang kamu pilih."
Dalam sebuah ruangan seputih pualam; ditemani sedikit kegelapan di beberapa sisinya, seorang anak perempuan tengah terduduk memeluk boneka domba miliknya. Wajahnya sudah pucat sejak memasuki ruangan ini untuk menjalani rutinitas bulanan selama setahun terakhir. Bukan karena takut terhadap seorang manusia yang berada di depannya, ia takut akan banyak hal lain yang kebanyakan orang tak bisa melihatnya.
Aku adalah pembimbing waktu, aku menerangi semuanya, aku membantu orang-orang melihat dunia yang gelap, tetapi sayangnya tak ada satu patah kata pun bisa kubuat demi menolongnya.
“Aku melihatnya lagi malam ini. Ia hitam legam bak sebuah bayangan, badannya sangat kurus menyisakan tulang kering kerontang, merangkak sangat cepat di antara koridor depan kamarku. Kukunya tajam membelah angin malam, menghasilkan bunyi gemeretak ketika bersentuhan dengan lantai kayu rumahku.” Elisa, gadis kecil yang selalu kulihat sebulan sekali selama setahun terakhir membuka mulutnya dengan bibir gemetar.
“Setiap malam, selalu terjadi setiap pukul satu dini hari, seorang wanita berusia lima puluh tahunan; berambut pirang dengan mata birunya mengintip di antara celah kamarku. Kadang tak mengganggu, kadang ia begitu merusak pikiran yang sedang tertidur. Ia tak jahat, malah sesekali begitu baik hingga mau menyanyikan ninabobo untukku.”
“Kadang-kadang duduk di kursi goyang, gaun putih kusut bernoda darah di badannya mengganggu penglihatanku. Kotoran itu—entah apa, rasanya seperti mengingat sebuah kejadian kelam yang tak bisa kuingat lagi.”
Anak kecil ini memeluk bonekanya lebih erat dari sebelumnya, ia selalu ketakutan setiap kali bercerita kepada orang tua ini. Semua cerita yang ia ceritakan memang amat membuatku takut sampai kadang terpikir untuk pergi saja dari ruangan ini. Tetapi aku tak bisa, mereka berdua membutuhkanku di saat-saat seperti ini.
“Pak, apakah di ruangan ini aman?” Tangan anak perempuan berambut hitam gemetar hebat, ia duduk di sebuah kursi pada satu ruangan. Merasa teramat takut sekaligus terganggu oleh semua pengalamannya—dengan penampakan-penampakan yang membuatnya merasa terus diawasi setiap saat, setiap waktu, setiap ia mengedipkan mata. Bayangan hitam di koridor, wanita tua bergaun putih pengintip pintu kamar yang mengagetkan setiap malam pukul satu dini hari membuatnya terasa melihat mimpi buruk di dunianya sendiri.
Semuanya terjadi begitu saja tanpa bisa dicegah, sebuah musibah, wabah mengerikan tak bisa dihentikan bahkan oleh pikiranmu sendiri. Ia hidup sebatang kara, tidak ada teman hidup untuk sekadar membangunkannya dari mimpi buruk ini. Ia sendiri dan kesepian.
“Di ruangan ini hanya ada kita berdua, ini sangat aman. Silakan lanjutkan kapan pun kamu siap.” Dia tersenyum, pria penolong murah senyum itu selalu membuat si anak mengingatkan pada sosok ayahnya yang ramah.
“Dari dalam lubuk hati terdalamku, aku mendengarnya, suara mengerikan dari lorong neraka terdalam, suara iblis-iblis mengerikan memekik meminta tolong. Mereka menyuruhku untuk melakukan kerusakan, terus-menerus tanpa memedulikan penolakanku. Ia menarik jiwaku ke dalam api kegelapan neraka tempatnya berasal.”
Orang tua di hadapannya turut menenangkan si anak. Elisa—nama anak itu—terdiam sesaat untuk suatu alasan. Matanya kembali menerawang ke sana ke mari, mencari sesuatu, atau merasakan ada sesuatu?
“Kamu boleh melanjutkan kapan pun kamu mau,” ujar Pak Tua berbaju putih di hadapan Elisa kembali bermanis mulut.
“Setiap hari saat aku berjalan pulang dari tempat les, tetangga depan rumah, ia menatap tajam ke arahku, berharap aku mati saat itu juga. Oh, dan kalau Anda mau tahu, Pak, itu tidak masalah buatku—jika saja ada yang berharap aku mati. Sesungguhnya, aku ingin segera pergi dari dunia kefanaan ini. Ia ambisius, ia akan membunuhku dengan cara tersulit sekali pun.”
“Aku benci semua tetanggaku, mereka menyebutku gila hanya karena berbeda dengan mereka, hanya karena aku bisa melihat yang tidak bisa lihat, mendengar suara-suara gelap dari neraka. Andai saja, mereka bisa mengambilnya dariku, akan kuberi dengan sukarela semua musibah yang mereka sebut sebagai ‘anugerah untuk malaikat kecil’.”
“Aku tidak tahu apakah aku harus marah, gelisah, takut, bersedih, atau ekspresi lain manusia. Apakah aku masih manusia?”
“Kamu tahu itu tidak benar, Nak. Tentu saja mereka keliru jika menyebutmu begitu. Kamu ingat apa saja yang pernah kau capai? Kamu bahkan meraih peringkat pertama selama ujian selama dua belas kali berturut-turut dengan nilai hampir sempurna, itu semua adalah pencapaianmu. Jangan pedulikan mereka yang membencimu, fokus saja kepada mereka yang menyayangimu setulus hati. Di luar sana, aku yakin ada lebih banyak orang yang menyayangimu ketimbang pembenci. Apa pun yang orang-orang jahat katakan, abaikan saja, itu tidak benar.”
Elisa menghela nafas berat, berhenti untuk kemudian meminum air di gelas tadi, lantas memandangi ruangan putih batu pualam. Potret-potret di dinding membuat suasana semakin mencekam malam itu, ketika pilar-pilar kilat menyambar disertai hujan deras, anak itu masih dengan wajah dinginnya.
“Aku masih sangat mengingatnya, Pak. Pada bulan Juli satu tahun lalu, saat kapal feri yang kutumpangi menabrak batuan dekat pulau misterius hingga kami semua harus bertahan hidup di sebuah pulau terpencil di tengah laut. Semuanya berubah sejak saat itu.”
“Kami bertahan hidup sekuat yang kami bisa. Beberapa dari rombongan meninggal karena kelaparan setelah perbekalan habis tenggelam. Luka-luka serius di badan, hingga dehidrasi. Banyak dari kami meregang nyawa saat kapal tenggelam meninggalkan orang-orang yang dicintainya.”
“Itu sangat buruk, aku ketakutan ketika melihat kapal mulai oleng. Kala itu, ada seorang petugas membantuku untuk menyelamatkan diri. Awalnya aku hendak menolak, namun dengan bujuk rayu petugas bahwa orang tua, teman-temanku akan selamat. Aku akhirnya pergi juga, meninggalkan mereka di pulau itu, tetapi entah di mana.”
Si anak perempuan berusia dua belas tahun menghela nafas panjang dengan hidung, ia keluarkan dengan mulut perlahan-lahan, teratur, sambil menatap orang tua berpakaian putih di depannya hanya untuk memastikan bahwa ia asli. Wajahnya sepucat salju, air matanya mulai mengalir deras membasahi mantel merah tua pemberian ibunya.
“Pak psikiater, apakah waktu bisa diulang? Andai bisa, aku hendak mengulang kejadian sebelum tragedi maut itu merenggut orang tersayangku. Aku akan membatalkan semua rencana perjalanan kami.” Ia tampak sangat putus asa.
“Tentu saja waktu tidak bisa diulang, Nak. Tetapi waktu adalah konsekuensi; apa pun pilihanmu ketika itu, menghasilkan sebuah jalur cerita yang tidak bisa ditebak atau diubah sesuka hati. Tetapi, jika kamu menerima semua konsekuensi dengan lapang dada, semua ini akan beranjak membaik. Aku berjanji.” Pak Psikiater meraih sebuah kertas putih di meja kerjanya, beserta pulpen kemudian diserahkan kepada si anak perempuan.
“Tulislah doa, semangat, dan harapanmu.”
Anak itu meraihnya tanpa antusias, meski tangannya sudah tidak gemetar sejak meminum air putih tadi, hatinya masih merasa ketakutan, beban begitu berat membebani pikirannya. Kemudian menorehkan tinta pada secarik kertas, sedikit demi sedikit.
“Teruntuk ibu, ayah, teman-temanku yang kusayangi. Aku turut menyesal karena kalian turut menjadi korban berlibur di atas kapal feri, rasanya aku benar-benar salah telah membawa maut untuk kalian. Mungkin, kalau saja aku menolak hadiah kelulusanku, kalian masih hidup sampai sekarang. Semoga kalian berbahagia di alam sana. Aku turut berduka sedalam luka di hatiku untuk kalian yang kucintai.”
Orang tua di hadapannya tidak mengintip sedikit pun, walau ada sedikit rasa khawatir akan surat itu. Mungkin saja, jauh di lubuk hatinya, Elisa merasa putus asa karena takdirnya. Namun, Pak Psikiater hanya diam memandanginya selagi menulis, tidak berani menyapa atau sekadar melihat tulisannya. Ia hanya percaya padanya, ada semangat harapan di jiwa Elisa.