Diari #02: 10 Cute Superheroes
Hai, kenalkan ini adalah 10 orang siswa kelas 3 SD di SDN 1 Karangkamiri! Mereka bertubuh mungil dan semuanya berwajah imut! Kalian tidak akan bisa menahan diri untuk tidak berkenalan dengan mereka kalau kalian ada di sana bersamaku.
Namanya Anisa, tapi dia biasa dipanggil Icha. Icha adalah anak yang suangaaaaat nempel padaku. Dia sangat suka memberiku surat-surat yang isinya memintaku untuk tinggal di Karangkamiri lebih lama :( Dia juga anak yang memintaku berjanji untuk kembali lagi ke sana bulan Agustus. Dia adalah anak yang bisa berkaca-kaca bola matanya hanya karena aku pergi ke puskesmas dan tidak mengajar di kelas. Icha adalah anak yang sangat ceria dan ia sangat suka mengedip-ngedipkan genit matanya. Cita-citanya adalah menjadi seorang guru dan dokter.
Kalau anak lelaki yang satu ini namanya Andika, tapi biasanya dipanggil Dika. Dika adalah anak yang pendiam, namun ia tidak pernah menyerah ketika menemui soal perkalian puluhan kali satuan dan pembagian ratusan bagi puluhan yang-aku-tahu membuatnya pusing! Dika sangat suka menggambar sejak kecil. Yang aku suka adalah dia sangat baik pada teman-temannya! (akan kuceritakan pengalaman kebaikannya yang pernah aku temui) Cita-citanya adalah menjadi seorang polisi.
Anak cowok bermata besar ini namanya Robi! Robi adalah anak super polos dari yang terpolos yang pernah ada di muka bumi ini haha. Walaupun suka melamun, tapi setiap perkataan yang keluar dari mulutnya bisa membuatmu ingin menjembel pipinya karena gemas. Dia punya hubungan yang rumit (love-hate relationship) dengan temannya, Nova. Robi seringkali membuat Nova menangis, namun di satu sisi selalu jadi angel buat Nova di saat Nova sedih! Cuteness overloaded in this kid! Dia bilang cita-citanya mau jadi polisi, tapi di akhir mengubahnya jadi pembalap. Katanya, dia bosan karena semua anak cowok mau jadi polisi.
Kalau yang ini, namanya Dewi. Dewi adalah anak paling jangkung di kelasnya. Selain itu, Dewi juga anak yang sangat periang! Dan dia selalu punya banyak cerita saat di kelas. Ada satu hal yang sangat kuingat dari Dewi. Jadi, Dewi memang masih agak kurang dan belum lancar di perkalian. Oleh sebab itu, saat kelas tambahan, Dewi diberikan soal yang berbeda. Pernah suatu kali, di hari-hari menjelang kepulangan kami ke Depok, Dewi menyalin perkalian di bukunya dengan getol, berulang kali. Padahal selama ini, ia tidak pernah melakukan hal tersebut :( Sumpaaaah, aku dibuat terharu dengan kegigihannya! Cita-citanya adalah menjadi dokter.
Namanya Fajar. Dia adalah anak hostfam-ku di minggu terakhir yang sangat pandai menggambar. Ia sangaaaaaat sulit untuk diajak menulis di kelas, tapi ia punya kreativitas luar biasa untuk anak seusianya. Meskipun kadang aku suka gemas karena dia suka menaikkan kakinya ke atas bangku, tapi aku tetap sayang pada Fajar! Dia satu-satunya anak yang memberikanku fotonya untuk kusimpan sampai saat ini. Cita-citanya menjadi astronot dan artis. Namun suatu hari dia pernah hampir mengubah cita-citanya dari astronot menjadi polisi. Alasannya, karena ia tidak mau meninggalkan mami dan bapaknya jikalau dia jadi astronot. Fajar anak yang sangat penyayang terlepas dari ke-bangor-an yang suka dilakukannya.
Kalau yang ini, namanya Heni! Heni adalah anak yang ceria, tapi sangat pemalu jika urusannya adalah tampil di depan kelas. Heni adalah anak yang paling heboh kalau aku menghapus hari kepulanganku di papan tulis. Heni punya kemampuan matematika yang luar biasa dan dia cepat dalam berhitung. Aku paling suka dengan suara tertawanya yang khas. Cita-citanya adalah menjadi seorang dokter!
Namanya Nova. Nova punya masalah dalam membaca hingga saat ini. Meskipun sudah memasuki kelas 3 SD, Nova mengalami keterlambatan dalam membaca. Jujur, aku sedih karena sampai akhir, aku cuma punya sebuah foto ini bersama dengannya. Aku punya banyak sekali kenangan dengan anak ini, mulai dari lelah-lelahnya menghadapi dia saat sedang rewel, mengajaknya bicara, membuatnya mau terbuka, membuatnya mau belajar huruf denganku, sampai bahagia-bahagianya ketika dia mau bicara, dia mau belajar di saat aku sudah demot parah, dan di saat dia mau tampil di panggung meskipun dia adalah anak yang sangat super duper pemalu. Anak ini benar-benar luar biasa kalau kalian tahu bagaimana medan perjalanan dari rumah menuju sekolahnya. Harapanku besar padanya, agar dia bisa jadi lebih berani dan bisa membaca setidaknya satu kata tanpa perlu mengeja hurufnya satu per satu. Cita-cita Nova adalah jadi polisi, setelah sekian lama dan sulitnya aku mengorek informasi terkait cita-citanya.
Rendi adalah anak laki-laki terdewasa yang ada di kelasnya. Dia sangat suka tersenyum dan dia paling tahu cara bersikap saat di kelas. Rendi juga tidak egois dan bisa mengalah pada teman-temannya. Rendi juga sangat suka menggambar, dan karya-karyanya sangat bagus untuk anak seusianya. Aku yakin Rendi adalah murid idaman dari tiap guru yang ada di dunia! Dia sangat tekun ketika diminta mengerjakan soal dan selalu mencoba untuk berusaha sendiri sebelum bertanya padaku. Cita-citanya adalah menjadi seorang polisi!
Kalau anakku yang satu ini namanya Widia. Widia adalah anak yang paling pemberani di kelas. Dia gak pernah ragu mencoba setiap hal dan yang aku salut darinya adalah dia tidak pernah takut salah dan selalu berusaha untuk menjawab pertanyaan yang kuberikan. Widia merupakan salah satu anak yang cemerlang di kelas. Meskipun terkadang ia sulit mengalah, namun Widia adalah salah satu anak yang juga peduli pada teman-temannya. Cita-citanya menjadi seorang dokter.
Terakhir, ada Yuli! Yuli adalah anak paling mungil, imut, dan punya semangat belajar dan berkompetisi yang luar biasa! Kalau ada kesempatan, aku sangat ingin membuat Yuli bisa merasakan bagaimana rasanya bersekolah di perkotaan. Bagiku, Yuli sangat berhak mengecap pendidikan yang lebih baik dan setinggi mungkin. Yuli anak yang sangat tekun dalam belajar dan tidak mudah menyerah saat menghadapi kesulitan. Kalau Rendi adalah anak yang paling dewasa dibanding teman-teman laki-lakinya yang lain, Yuli adalah yang paling dewasa dibanding teman-teman perempuannya. Yuli sangat paham suasana kelas terutama ketika tandukku mulai terlihat, haha. Cita-citanya adalah menjadi seorang dokter.
Pertama kali aku bertemu dengan 10 anakku yang nantinya menjadi siswa-siswiku selama 25 hari adalah pada hari Jumat, 5 Januari 2018. Di hari itu, aku sangat yakin bahwa mereka adalah anak-anak yang ditakdirkan untuk membuka mataku soal kehidupan.
Aku ingat saat aku memasuki kelas tersebut, hal pertama yang aku lakukan adalah mengajak mereka berkenalan dan menari poki-poki! Di luar dugaan, mereka sangat menyukai ice breaking yang kuajarkan (terima kasih pelatihan pengajar GUIM!). Berbeda sekali dengan anak-anak di perkotaan yang sangat tidak antusias setiap aku ajak untuk berirama dan berdinamika. Anak-anakku ini bahkan terus menerus memintaku mengulang tarian poki-poki. Sumpah, tarian poki-poki akan selalu jadi kenangan manis buatku (dibandingkan tarian lain yang pernah kuajarkan pada mereka).
Sejak pertemuan pertama itu, aku mafhum bahwa mereka adalah 10 anak luar biasa yang akan memberikanku banyak hal dan pengalaman. Mereka dengan segala kepolosannya khas anak kecil yang menyahut keras ketika hariku mengajar di sana semakin berkurang. Mereka yang berkata, “Ibu gak bisa ngajar di sini sampai kiamat?” kepadaku yang cuma datang mengisi hari mereka selama kurang dari sebulan. Mungkin kalau kita bandingkan kemampuan mereka saat ini dengan anak kota, mereka tertinggal jauh. Namun, mereka adalah anak-anak yang paham cara menghargai dan tertulus yang pernah aku lihat.
Satu hal yang kusayangkan sekaligus kusyukuri adalah aku cuma punya waktu 25 hari di sana untuk membuat perubahan terjadi. Mungkin menjadi baik tak selalu butuh perubahan. Aku cukup yakin anak-anakku ini sudah punya modal yang sangat baik, dan hanya butuh sentilan dari orang dewasa yang ada di sekitarnya. Dan satu hal yang kusadari adalah, mungkin selama 25 hari di sana, bukan mereka yang banyak berubah, melainkan aku. Apapun itu, aku berharap saat ini mereka punya semangat belajar. Semangat untuk mengetahui bahwa ada banyak hal menakjubkan di bumi ini, bahwa selalu ada harapan bagi mereka yang mau berusaha. Aku berharap selepas ini, mereka bisa punya memori yang baik mengenai masa kecil mereka saat dewasa kelak. Aku berharap mereka paham akan apa yang mereka inginkan. Sebab tidak semua orang bahkan tahu apa yang mereka inginkan dalam hidup. Tak masalah jika itu bukan menjadi pejabat negara. Tak masalah jika yang mereka inginkan hanya bersekolah sampai SMA. Selama mereka mengerti alasan yang mendasari hal tersebut, aku yakin niscaya keinginan mereka untuk menjadi lebih baik akan tercapai.
Terima kasih buat kesempatannya untuk bisa bertemu dan mengenal kalian, para pahlawan kecil! Terima kasih sudah membuatku sangat menikmati setiap proses selama di sana, dari mengajar meskipun dengan suara serak selama 25 hari karena keceriaan mereka yang terlalu bersinar haha, membuat media pembelajaran, dan menyusun rapor dengan telaten satu per satu.
Terima kasih sudah membuat Ibu sadar bahwa belajar tidak hanya diperoleh dari kuliahmu di kelas, dari orang-orang yang sudah punya nama, atau dari tempat-tempat manapun yang selalu kau kira bisa jadi tempat pembelajaran. Terima kasih sudah menjadi guru bagi Ibu selama 25 hari dan seterusnya. Semangat selalu anak-anak! Doaku menyertai.
Salam sayang, a proud teacher, Bu Octa.














