Aku menatap dinding ruang guru sekaligus ruang kepala sekolah. Di sana terdapat papan yang tertuliskan ruangan-ruangan yang seharusnya ada di sekolah. Ruang kepala sekolah, masjid, UKS, dan aku melihat tanda strip (-) yang bermakna tidak ada mendominasi hampir seluruh kolom papan tersebut. Di papan sebelahnya, aku melihat struktur kepengurusan yang seharusnya ada di sekolah. Ada bagian administrasi, dan lain-lain. Di sebelahnya aku melihat papan peran kepala sekolah, sebagai motivator, pengawas, evaluator, dan lain-lain.
Papan-papan itu merangkum hal-hal yang seharusnya ada di sekolah. Yang membuatku langsung membandingkan dengan kenyataan yang ada di SDN Kalibanteng ini. Boro-boro masjid, UKS, bahkan kepala sekolah saja tidak punya ruangannya sendiri. Boro-boro struktur kepengurusan, kenyataannya guru-guru di sini harus disibukkan dengan urusan administrasi, double job, bagi-bagi peran agar urusan sekolah di samping mengajar tidak terlewatkan. Karena kenyataannya sekolah bukan hanya tentang mengajar, ada peran-peran lain yang juga harus dikerjakan, yang kenyataannya di SDN Kalibanteng ini belum terpenuhi. Boro-boro peran kepala sekolah sebagai ini-itu, kenyataannya mungkin kepala sekolah harus selalu siap sedia menghadapi segala kemungkinan yang terjadi karena kurangnya SDM, harus selalu siap sedia menjadi peran apapun, sampai mungkin urusan teknis.
Kurikulum tiga belas mungkin baik. Kenyataannya tidak semua sekolah siap melaksanakannya. Kurikulum tiga belas menuntut murid untuk mencari pengetahuan seluas-luasnya, bukan hanya dari guru. Iya, mungkin itu bisa berlaku di kota, yang anak-anaknya punya akses internet, buku. Kenyataannya di sini, di desa ini, di sekolah ini, siswa hanya menerima dari sekolah, dari guru. Di luar itu sudah, mereka tidak mendapat apa-apa. Yang guru katakan itulah pengetahuan buat mereka. Tidak ada internet (Sebagian besar murid), tidak ada buku, apalagi majalah edukatif untuk anak-anak.
Kurikulum tiga belas mungkin baik. Kenyataannya tidak semua sekolah siap melaksanakannya. Kurikulum tiga belas menuntut guru untuk menyampaikan materi sesuai timeline, tema 1 sub tema 1,2,3,4 pembelajaran 1,2,3,4,5,6. Kenyataannya kemampuan murid-murid jauh di bawah itu semua. Bagaimana bisa paham hubungan jarak, kecepatan, waktu, kalau perkalian saja masih bingung. Bagaimana bisa mengerjakan satuan lusin, kodi, gros, kalau porogapit saja masih bingung. Bagaimana bisa mencapai dan melewati materi-materi itu, kalau dasarnya saja belum paham. Namun guru dituntut mengajar sesuai timeline. Belum disibukkan dengan urusan administrasi, gaji yang jauh di bawah cukup, perlu ditambah murid-murid yang sangat perlu bantuan (kita belajar menggunakan kalimat positif).
Di sini aku melihat, betapa timpang antara kondisi ideal dan kenyataan di lapangan. Di sebuah SD, di tiga desa yang terisolasi kali besar.
Tapi aku juga melihat ketulusan di sini. Apa yang orang-orang yang bertahan di sini, guru-guru yang mengajar di sini, bahkan bersedia sampai pensiun di sini, dapatkan? Tidak ada! Gaji? Kurang dari cukup, apalagi buat yang belum PNS. Ketenaran? Boro-boro, siapa yang akan meliput mereka? Perasaan sukses dan berhasil? Kenyataannya orang-orang di sini sebagian besar lulusan SD dan SMP, bahkan SMK saja sebuah target yang bermakna keberhasilan ketika berhasil dicapai. Tidak ada! Tidak ada yang mereka dapatkan! Kecuali mungkin, ketulusan dan kepercayaan, bahwa apa yang mereka lakukan akan membawa sedikit, sedikit saja, hal positif di masa depan, untuk anak-anak didik mereka.