Almost
I..don’t like this word. Setuju banget kalau ada yang bilang “almost is never enough”. Hampir lulus, hampir bekerja, hampir berhasil. Actually, that is my situation. Attending my Apothecary program and soon...will officially graduate as a Pharmacist. Saya berada di zona yang galau luar biasa.
I have tons of worries nowadays. Keep asking my self, what I really want. Perjalanan kuliah hampir satu semester ini seringkali membuat saya merenung. Bukan karena beban tugas yang -gak usah ditanya lagi da pasti banyak pisan-, tapi karena saya semakin gatau mau ngapain abis lulus ini. HAHA.
I do have plans. The realistic and the ultimate-imaginary ones. Plans A to Z with many choices, thanks to Allah for putting me in this kind of proffession. But hey, I keep thinking about the imaginary one. Like “Could I just get married, get scholarship and going study somewhere with him. Just two of us in the middle of the bigger world. Cheering and encouraging him no matter what. Have my own business so I can behave like a boss while raising my kids as a superb mother and turn them into sholeh and sholehah which are also hafidz and hafidzah, Aaamiin.”
Kenapa saya bilang itu ultimate-imaginary? because it’s very important, yet I haven’t done anything to make it comes true.
Suatu ketika saya pulang dan terlibat perbincangan dengan Ayah dan Ibu, mereka seringkali bilang “Teh, tuh lihat adikmu hafalannya udah banyak sekarang, katanya nanti kalau lulus SMA insya Allah sudah selesai hafalan Qur’annya (re: hafidz). Terus dia mau lanjutin ke Madinah aja katanya, biar anak ibu dan ayah ada yang jadi ustadz”.
Saat yang lain juga ibu sering bilang dengan binar yang sulit digambarkan, “Teh, waktu ‘idul fitri kemarin dede nangis dan meluk ibu sambil bilang ’bu, maafin dede ya belum banyak hafalannya, belum bisa memenuhi impian ibu...’”. JLEB.
Can you imagine what kind of feeling I have?
Bangga? Jelas! He’s my brother after all. And I’m really really really proud of him. Tapi perasaan yang mendominasi saya saat itu adalah regret. I really am regretting for not pay attention to what kind of person my parents wants me to be. Which is selama ini mereka bangga dan ridho dengan semua perjuangan dan pencapaian saya untuk sampai ke titik ini, tapi akan lebih bangga kalau saya bisa menjadi muslimah yang kaffah, Apalagi kalau bisa sampai hafidzah. Bukan sekedar mencari keridhoan tua, tapi juga untuk memenuhi tugas sebagai khalifah di bumi dan hamba Sang Pencipta kehidupan yang hakiki.
So, I’m rebuilding my ultimate dreams and creating my revolution plans. Walaupun sekarang terlihatnya imaginary, semoga suatu saat nanti bisa terealisasi. Not almost happen, but truly happening.
Untuk sekarang, fokus belajar biar lulus dan segera dapat merealisasikan visi-visi hidup ke depan! yeaaaay~~
Me, and my chaos mind.
Insany.
















