Untuk Calon Imamku
Buat calon imamku dimasa depan, whoever or wherever you are, this letter is for you.
Aku yakin akan ada saatnya dimana aku juga merasakan rasa sukacita yang selama ini hanya bisa kusaksikan dari undangan pernikahan yang kuhadiri. Rasa bahagia bercampur haru karena akhirnya aku berhasil menemukan “teman hidup” yang kelak akan jadi imamku, rasa sedih yang sudah pasti akan aku rasakan karena harus meninggalkan ibu serta adik-adikku.
Aku cuma mau bilang, “kemana aja kamu selama ini? kenapa lama sekali kamu menuju pelabuhan terakhirmu? tahukah kamu sudah berapa kali aku terjatuh, menangis karena menaruh hati pada orang yang salah? berkali-kali aku dipatahkan denga kenyataan dia bukan jodohku.Tak henti-hentinya aku berdoa dan berharap agar laki-laki yang Tuhan pilihkan untukku segera didekatkan dan bisa bertemu.” Aku tidak marah atau kesal hanya saja begitu banyak pengalaman pahit soal asmara yang aku lalui. Banyak jurang curam, batu terjal yang harus kuhadapi hanya untuk bisa menemukanmu.
Sudah tak teringat betapa sering aku menangis di sepertiga malam hanya meminta untuk dikuatkan dan diberikan keikhlasan apapun kehendak dan rencana Tuhan nanti. Kamu tahu, tumbuh besar tanpa seorang ayah bukan hal yang mudah. Terlalu mudah percaya dengan laki-laki, selalu memilih orang yang salah, begitulah aku kata teman-temanku. Aku penasaran, apakah kamu juga melalui jalan curam dan terjal untuk akhirnya menemuiku? Apakah kamu juga mengalami puluhan kali patah hati dan kecewa seperti aku? Apakah kamu juga sempat putus asa dan berpikir mungkin jodohku tidak di dunia? Jika iya, maka aku paham betul apa yang kamu rasakan.
Percayalah, rasa sakit dan kecewa yang membuatmu jadi pribadi yang lebih kuat. Dan mungkin untuk itu, Tuhan mempertemukan kita pada akhirnya. Karena Tuhan tahu kita dua orang terkuat yang bisa melalui rasa kecewa itu, sehingga kita pun akan kuat untuk mengarungi ujian rumah tangga bersama nantinya. Aku yakin pilihan Tuhan tidak pernah salah, pasti selalu yang terbaik. Jika kamu memang yang Tuhan pilihkan untuk jadi calon imamku, artinya hanya kamu yang bisa menyembuhkan kekecewaanku atau mungkin kita sama-sama saling menyembuhkan luka satu sama lain, saling berproses dan mencintai lebih dalam karena kita tahu betul bagaimana dikecewakan.
Dear calon imamku, aku akan setia menunggumu datang di pelabuhan terakhirmu. Doaku semoga kamu tetap kuat dan terus berjuang ya, jangan patah semangat, terus berdoa supaya Tuhan memudahkan jalanmu untuk menemuiku. Yakinlah disaat yang tepat, ditempat yang tak terduga kelak kamu akan menemuiku, calon ibu dari anak-anakmu.
Pesanku aku yakin kamu pria kuat yang berhati lembut dan bijaksana, teruslah berproses menjadi individu yang lebih baik. Akupun sama. Sampaikan semua pesan dan rindumu hanya kepada Tuhan, kelak Tuhan yang akan menyampaikannya padaku.
Bekasi, 12 Desember 2021.
Dari calon istrimu.

















