Q : Terus kenapa di iklan gembor kampanye tentang susu?
A : Ya namanya juga perusahaan. Tujuan utamanya apa? Profit maximum.
Q : Terus kalo ngga minum susu, kalsium di dapet darimana?
A : Pernah denger buah sama sayur ngga?
Q : Kata dokter-dokter juga, susu itu bagus kok. Malah ada yang bilang, kalo mau cepet hamil banyak minum susu.
A : Terus bener hamil? Suka pusing ngga? Gampang batuk pilek ngga? Punya maag ngga?
Q : Tapi kan... susu itu bagus. Liat tuh anak kecil yang kuat minum susu pasti lucu-lucu.
A : Gampang sakit dan...... susah makan
Dari sisi marketing, saya berdecak kagum sama marketer produk-produk tersebut. Gila, keren abis. Bukan cuman sadar, tapi mengetahui. Lebih dari itu, sudah suka. Bukan bukan, sudah preferensi. Hah, bukan juga. Sudah sampai tahap yakin. Melewati 90% tahapan kesiapan membeli.
Hasil riset dari Fiske dan Hartley ternyata benar, komunikasi lebih efektif bila disampaikan oleh sumber yang ahli.
Mencantumkan informasi yang menambah pengetahuan audiens juga ternyata efektif. Susu mengandung AHA, DHA, blablabla. Keyakinan audiens langung drastis meningkat. Bener kata erikarlebang, mau ditambah embel-embel ERK atau AP saja kayanya percaya..
Selain itu juga, brand equity dari produk-produk tsb sudah sangat kuat. Sehingga konsumen sudah kebal terhadap segala pengaruh dari luar. Salah satu ciri dari consumer loyalty.
Kalo dianalisis pake profitabilitas konsumen-produk, sudah jelas masuk ke kelompok yang layak dikejar. Konsumen platinum dan gold.
Menurut saya pribadi, dalam fenomena produk susu ini faktor sosial dan budaya sangat mempengaruh akan perilaku konsumen.
Ah. U know what I mean lah yaaa. Skip skip.
Mungkin bener, marketer sama seller itu beda tipis. Seperti mind set orang-orang awam selama ini. Padahal, marketer berbicara masalah memuaskan konsumen. Bukan sekedar volume penjualan.
Ditulis, mahasiswi pemasaran yang terjebak antara #kibulansusu dan #kibulanteorikuliah.