Galur.
Tenang, aku tak kan pernah beranjak. Jika kemauanmu yang selalu membuatku tersedak. Dan, kaupun harusnya sadar. Bahwa hanya aku yang tak pernah beranjak setelah kau tinggalkan dengan hati yang masih nanar. Setiap denai yang aku lalui, aku merasa kulminasi dalam hidupku kian lesap. Hingga sekarang aku berlindung di sengkuap dalam hatiku untuk belajar dari elegi yang selama ini aku pelihara. Surabaya, Dan masih menikmati galur kehidupan.








