Jembatan Rangke - the dormant project
DIA:
Yang sebenar benarnya Arung gundah, namun sinar wajahnya pandai berbohong. Hanya tinggal satu jengkal lagi bayangan ujung pohon tebu menyentuh kaki lumbung. Pada saat itulah Dayana menunggunya di bawah jembatan tua Rangke, tempat pertemuan rahasia mereka. Kali ini berbeda, biasanya ia selalu berharap air timbaannya segera memenuhi semua periuk. Bahkan kadang ia ingin membuat satu atau dua periuk retak. Kali ini berbeda, dia ingin mengisi semua periuk di Ngalangjeni. Agar tak perlu mengayuh hati ke jembatan Rangke.
AKU:
Arung gundah, bukan karena sore mulai merambat malam. Namun karena soal yang ingin disampaikannya pada Dayana. Entah jadi baik atau buruk beritanya kelak, yang pasti Arung harus segera menepis ragu yang membuatnya sering termangu. Dari sekian pertemuan rahasia, telah beberapa kali lidah pendeknya ingin mengucap kata. Sering tak sempat karena penyangga Rangke nampak seinci lagi akan rubuh. Sekian sore sekian malam, pertemuan rahasia itu selalu berakhir pelukan perpisahan. Mudah-mudahan tidak untuk kali ini.
DIA:
Batu yang dilempar Dayana sudah hampir cukup untuk dibuat tungku. Sampai yang terakhir berapi ketika menumbuk batu besar, terkikis sabarnya. Dayana berdiri dan naik ke jembatan untuk menengok apakah rintang menghalang Arung. Namun hanya jalan berujung sepi yang dia dapat. Pikirannya mulai mencari benar yang salah. “ Bahkan nyamuk pun tak datang untukku “, dalam hati Dayana. Mencari benar dengan pergi ke gubuk Arung pun diurungkan karena pamali. Bukan Dayana yang mengikat jembatan Rangke sebagai sore yang mempertemukan bulan dan matahari. Janji sangatlah sakral di Ngalangjeni. Lebih dari pemberian semusim hujan.
AKU:
Kadang Arung ragu, janji yang terucap tak sedemikian sahih karena lidah tak pernah tahu nasib yang melintang dalam takdir. Namun harfiah manusia untuk selalu berikrar. Seperti saat ini, cemas menanti apakah ikrar Dayana cukup tangguh melawan adat Ngalangjeni. Tiang yang selalu tegak berdiri memagari hasrat menatap mata dan mengusap wajah, adalah ia yang tak mafhum manusia selalu bergejolak dengan dirinya mencari yang hakiki, untuk menambat tangis dan mengurai tawa. Tak cukup rasanya periuk hati Arung menampung percikan itu. Di bawah Jembatan Rangke, pendar kian memancar tapi tetap tak bersuara. Hanya Sangkun yang bisa menerka kebisuan warna nila setiap senja.
DIA:
Ya, Sangkun. Sudah 4 kali upacara Haruan terlewati, sejak pertama Sangkun sadar pertemuan Dayana dan arung di bawah jambatan Rangke bukan tak sengaja. Satu lagi, selain sore, yang tau pertemuan mata Arung dan Dayana lebih dalam dari sumur Tenggigi. Kecewanya kali ini hanya kalah satu kedipan dari Dayana. Kemudian ia melihat Dayana memutuskan untuk berjalan mundur dari jembatan Rangke, agar kepulangannya masih bisa mempertemukan, kalau kalau Arung membuat kejutan di ujung jalan. Sangkun berdiri dari jongkoknya, terus memperhatikan Dayana yang semakin mundur jauh dan menghilang karena jalan yang menurun. Setelah menunduk sebentar, Sangkun keluar dari tempat sembunyinya dan berjalan menuju jambatan rangke. Ia turun ke sungai kering itu. Tiba tiba ia dikagetkan oleh paras yang biasa ia lihat dari jauh. Yang ditunggu Dayana sekarang sedang berdiri menatapnya dari atas jembatan. Mereka berpandang. Mata Arung mepertanyakan keberadaan Dayana dan keberadaan Sangkun di di bawah jembatan. Mata Sangkun mempertanyakan dari mana saja peran utama wanitanya itu dan sanggupkah kata membuat ia berhak berdiri di atas tanah Dayana dan Arung.
*lalu habis.
*dari proyek hati masa lalu, aku dan dia 2005