Manusia. Kenapa manusia seringkali terjebak pada pemikiran akan hal-hal relatif? Bukankah penilaian relatif itu sungguhnya semu? Tak ada yang begitu tampan atau tidak tampan. Tak ada yang benar-benar mahir atau sama sekali tidak mampu. Bukankah di mata semesta itu semua tak berguna? Malam tetap bahagia bersama bintang-bintangnya. Hujan tetap menyapa, ada atau tanpa guntur di sampingnya. Malam tidak khawatir manusia masih merindu senja. Hujan tidak ambil pusing apakah pelangi akan tiba. Toh, semesta tetap berjalan seperti seharusnya. Benarkah kegamangan akan penilaian relatif itu yang sebetulnya dipikirkan manusia? Atau jangan-jangan hanya sebagai excuse/alasan ketidakberanian saja? Hasil takkan pernah muncul jika tidak ada aksi yang dimulai atau coba diperjuangkan. Selebihnya hanya masalah persepsi dan tingkat penerimaan. Memulai kemudian berserah. Bukankah itu lebih baik? Jadi, sudah siap berjuang kah? -NL, 20.01 2018 #VisitMerbabu2018 #merbabumountain #viaselo #3142mdpl #ExploreIndonesia #tulisanbebas







