Day 3 - Anak Warnet yang Tidak Pandai Main Lompat Karet
Benar adanya bahwa di balik kelebihan, Allah juga memberikan kita kekurangan.
Being the tallest in every occasion doesn’t mean I’m good at games. Especially traditional games—the ones that require agility, stamina, and full-body coordination. I suck. Period.
Aku selalu buruk dalam permainan tradisional. Bahkan saat menulis ini, aku kesulitan mengingat nama-nama permainan yang pernah kumainkan. Tapi setelah sedikit menguras otak dan brainstorming, beberapa nama muncul juga: lompat karet, patok lele, pecah piring, petak umpet. Di antara semuanya, dengan jujur aku akui—aku buruk dalam semuanya. Setidaknya aku jujur, tidak seperti NPC di cerita sebelah yang mengklaim dirinya "pengatur strategi ulung" tapi kalah di detik ke-5.
Aku, bersama anak-anak dari gang belakang, biasanya berkumpul di lapangan bola dekat rumah untuk bermain. Anak perempuan bermain lompat karet, anak laki-laki main bola. Aku ikut-ikutan aja walau hanya jadi topping alias anak bawang. Gambar ini misalnya, teman-temanku sangat jago melompat dan melewati karet yang lebih tinggi dari kami, aku dengan kaki jenjangku malah atraksi konyol yang membuatku akhirnya hanya jadi beban kelompok.
Lucu juga kalo diingat-ingat.
Tidak ada banyak memori yang menempel dari permainan-permainan itu. Mungkin karena aku tidak benar-benar pandai bermain. . Selain karena memang tak pandai bermain, aku juga… mager. Jiwa magerku ternyata sudah membara sejak kecil.
Justru memori paling kuat dari masa itu adalah... warnet.
Sangat jauh dari kata “tradisional”, tapi kecanduan main warnet adalah salah satu highlight masa kecilku. Sekitar kelas 3 SD, ada warnet baru buka di pinggir jalan dekat rumah. Buatku dan teman-teman, itu seperti taman bermain baru. Perlahan kami meninggalkan lapangan tempat kami biasa main karet—di mana aku selalu jadi “anak bawang”—dan mulai rajin ke warnet!
Akun Facebook yang kupakai sampai hari ini bahkan didaftarkan oleh kakak OP warnet itu. Semoga jadi pahala jariyah buat si kakak, karena memudahkan aku belanja di Marketplace, hehe.
Biasanya aku menyisihkan uang jajan dari Mama untuk ke warnet. Tapi kadang, aku juga aji mumpung, sepupuku yang dapat jajan lebih sering mentraktirku main warnet. Satu jam, dua jam, bahkan tiga jam adalah rekor terlama aku duduk di depan monitor. Belajar? Tentu saja tidak.
Hiburanku? Menonton video Orang Arab Gila di YouTube, yang hobinya nge-prank teman sendiri. Lalu cekikian rame-rame di com kami. Kadang baca, kadang dengerin lagu mantan pertamaku—Justin Bieber. Aku selalu update kehidupan asmara Justin dan Selena. Bocil hopeless romantic sejati. Sekarang kupikir-pikir, ya ampun… sungguh tidak produktif. Tapi kembali ke tulisanku di hari pertama: aku hari ini adalah komoditas dari masa lalu. Maka aku terima diriku yang dulu—tidak pandai bermain lompat karet, tapi jadi member tetap warnet.
Dan ternyata, kecanduan warnet itu tidak sia-sia. Saat masuk SMP, pelajaran TIK jadi hal yang gampang. Nilaiku tidak pernah di bawah 95. Aku bahkan sudah paham seluk-beluk komputer dan isinya, ketika teman-teman lain masih kesulitan buka Word.
Jadi, apakah aku menyesal tidak bisa main lompat karet? Tidak.
Apakah aku masih tidak bisa main patok lele dkknya sampai hari ini? Iya.
Tapi kalau kamu butuh orang yang tahu cara main Zuma sambil streaming Justin Bieber dan buka lima tab Facebook, aku adalah orang yang kamu cari.
Dan siapa tahu, mungkin kalau waktu bisa diputar balik, aku tetap akan memilih warnet daripada pecah piring.
Soalnya… yang pecah-pecah itu cukup hati aku aja. Game over.







