Day 4 - 7 Icons tuh dulu hype banget. Jangan cuma kenal NewJeans doang. Hormati sejarah.
Menurut analisis amatiranku, aku ngerasa masa kecilku dan masa kecil anak sekarang sebenarnya nggak jauh beda. Pola hiburannya sama-sama banyak, cuma beda di sumber informasi aja. Dulu hiburanku datang dari HP-nya Mama, laptop kakak, dan TV yang boleh nyala cuma dari pulang sekolah sampai sebelum jam les.
Misalnya nih, jam 12 siang, aku—dengan aroma matahari, rambut pirang hasil kelamaan main, dan kulit setengah gosong—langsung ngacir ke rumah setelah uwak becak sukses mengantarkanku dengan selamat. Sebelum Mama sempat tanya apa-apa, aku udah auto lapor:
“Mah, tadi nilai Bahasa Inggrisku 100… Matematika 70.”
Matematika memang selalu jadi hantu dalam hidupku—bahkan sampai sekarang. Setelah itu, aku bakal rapiin tas, gantung seragam, dan langsung duduk sopan depan TV, siap menekan tombol 1 dan 0 di remote buat nonton Magic School Bus di SpaceToon. Kayaknya nggak perlu aku jelasin soal Magic School Bus deh—yang baca ini pasti tahu. Kalo nggak tahu, berarti masa kecilmu kurang SpaceToon.
Habit itu lanjut nonton drama Korea di Indosiar, beberapa yang pernah ditayangin ada Playful Kiss, Pasta, dan Cruel Tempation. Dita kecil sudah terpapar drama makjang, atau nonton Unyil dan Si Bolang. Setelah nonton dan makan siang, biasanya aku bakal siap-siap untuk pergi les. Selain TV—karena dulu belum ada wifi/paketan yang easy access untuk bocil maka solusiku adalah kakak sepupu yang kuliah dan dapat wifi kampus. Aku tinggal request, terus tinggal nunggu "requestan anda sudah terdownload" datang dalam bentuk flashdisk. Disini aku kenal Super Junior dengan legendary Mr. Simple-nya.
Dan aku ngga akan pernah lupa: waktu kelas 6, aku dan teman-teman bikin girlband berisi 7 orang. Kiblat kami? 7 Icons.
“Biasku Natly, encop ya we, yang lain cari bias sendiri!”
Kami sempat latihan dance lagu “Playboy” pas jam istirahat. Waktu itu rasanya udah siap debut banget setelah melihat SNSD sunbaenim. But ended up, grup kami harus disband setiap kali bel masuk kelas bunyi. Jadi grup ini emang konsepnya reborn setiap hari lalu bubar 30 menit kemudian. Agensi mana yang kuat rekrut kami? SM Entertainment juga nyerah sepertinya.
Flash forward ke hari ini.
Anak-anak sekarang punya stimulus informasi yang lebih variatif, dari YouTube, TikTok, Google, sampai AI. Ini bikin anak-anak sekarang jadi tech-savvy banget. Sebagai guru, aku lihat ini sebagai hal yang menguntungkan—karena mereka cepat tangkap, dan bisa mevisualisasikan materi dengan lebih akurat. Tapi di saat yang sama, ini bisa jadi pedang bermata dua kalau nggak dikontrol.
I'm not going to yapping about how my era was much better than today cause in my perspective it's same just different in form, furthermore karena seperti kata kembaranku—Taylor Aulia Swift, "What past is past".
Aku nggak mau naif. Dulu pun, waktu aku masih SD sampai SMP, aku juga udah tahu hal-hal yang sebenarnya belum waktunya aku tahu. Karena ya… kita hidup di zaman yang makin cepat dan terus berubah. Dan hal itu juga yang terjadi pada anak-anak sekarang. In their perspective they need to keep up with the trend so they have something to talk with their friends.
Bedanya adalah: dulu aku tahu hal aneh karena nonton drama makjang abis pulang sekolah. Sekarang mereka tahu hal aneh dari FYP TikTok seperti Ballerina Cappucina dan Tung Tung Tung Sahur.
So, hal yang paling penting sekarang adalah mengajarkan boundaries kepada anak-anak terkait hal yang boleh mereka konsumsi dan bagaimana cara menyikapinya. Poin yang juga jauh lebih penting adalah, gapapa banget sebagai orang (yang otw) tua untuk coba keep up dengan dunia anak sekarang. Bukan karena dunia mereka jauh lebih baik, tapi agar kita juga bisa paham bagaimana perspektif dan serunya dunia mereka. So, we have something to share in common!
Furthermore, I’ve come to realize that while the tools and channels have changed, the essence of childhood remains the same—curiosity, creativity, and a strong desire to belong. both generations share the same goal: to find fun, express themselves, and connect with others—even if it’s through a cringy TikTok dance or a 7 Icons tribute performance during lunch break.
Mereka cuma perlu diajak ngobrol. Ditemenin. Dipandu.