Gotta love that hot pink 💖💕 for #weddingstationery #passportweddinginvitation #weddingpassport #vinyl #vinylrecords #henparty #henpartyaccessories #henpartywristband #woodstock #weddinginvitation
Special request: One of our very first passport invitation designs all the way back from 5 years ago. How time flies! #viciousdesigns #passportinvitation #destinationwedding #baliwedding #weddingpassport #invitation
Wedding #passportinvitation for a #gujaratiwedding in USA. #redandgoldinvitations #goldfoilprint #weddingpassport #hinduweddingcards #gujaratiinvitation #indianweddingcards.in #sevencolourscard #bespokeinvitations Send us an enquiry email at [email protected]
Setelah melewati beberapa kali revisi, akhirnya undangan kami jadi. Sempet shock karena warna yang ada saat revisi dan hasil akhirnya jadi agak beda, terutama warna toskanya. Ketika sampai ke Putra Karya dan ngelihat hasilnya aku langsung terdiam, mak deg! Kok warnanya nggak bagus. Aku cerita ke suami. Awalnya suami juga ikut bingung dan minta untuk dikirimin foto hasilnya. Kemudian dia ngejelasin bahwa mesin printer produksi masal dan mesin printer biasa adalah berbeda, untuk ketajaman warna pastilah lebih bagus pake printer biasa, apalagi HP laser jet. Kalau di awal dulu pingin tau hasil cetak akhir real-nya seperti apa, ya kita harus berani bayar untuk minta dicetak satu piece undangan dengan harga bisa beberapa ratus ribu karena printer produksi masal seperti itu kalaupun kamu cetak satu buah ataupun ratusan buah, harganya sama. Itulah kenapa, semakin banyak kita pesan undangan, bisa semakin murah. Saat revisi-revisi undangan lalu, aku terpukau dengan hasil warnanya bagus karena Mas dari Putra Karya dan aku pun sendiri mencetaknya pakai printer biasa. Sempet kepikiran saat itu apa aku cetak undangan lagi ya? Kalau iya, boros. Ya sudah lah, pasrah.
Saking ngerasa down saat itu, aku pun memutuskan liburan ke Krakatau. Temen-temen yang tahu aku liburan ke sana pasti menyangkanya aku ke sana pure dalam rangka liburan, padahal itu sebenarnya adalah semacam pelarian karena undangan hehe.
Semakin mendekati pernikahan semakin nggak pede dengan hasil undangan. Saatnya membagi undangan tersebut ke mertua, kata Ibu mertua, undangan passport keren kok dan soal warna nggak terlalu masalah. Oke, jadi semangat lagi! Suami pun ngasih tahu lagi, untuk orang lain, mereka akan mengira bahwa undangan kami bagus (semoga) dan tidak akan terlalu diperhatikan soal warna yang menurutku nggak bagus karena mereka kan nggak ngeliat warna di saat masih revisian. Kenapa aku down, ya itu karena ekspektasiku tidak tercapai, yang dari proses disain hingga cetak akhir, cuma aku dan suami yang tahu warna-warna aslinya.
Cover depan amplop undangan.
Cover wedding passport.
Bagian doa.
Informasi di dalam wedding passport termasuk juga barcode akun Facebook kami.
Halaman terakhir.
Barcode berisi informasi peta, bisa di-scan pakai app barcode scanner.
Aku lumayan deg-degan saat ngebagiin undangan buat di kantor. Apa kata mereka ya? Alhamdulillah undanganku jadi hits karena belum pernah ada yang seperti itu bahkan ada yang bilang kalau itu bukan passport tapi buku nikah hahaa. Mereka juga terkesan dengan dimasukkannya barcode untuk peta dan bahkan di undangan kami ada barcode akun Facebook kami hehe. Setiap ada yang tanya tentang undangan kami, aku bercerita bahwa itu adalah disain suamiku. My husband got many compliments! Kata Mama, undangan kami unik dan di Mojokerto Mama belum pernah lihat yang seperti itu hehe.
Makasih ^^
Makasih ^^
Makasih ^^
Seperti itulah kisah undangan nikahku. Intinya, orang nikahan itu siap-siap nggak semuanya sempurna. Lama-kelamaan aku bersyukur memilih undangan passport karena orang-orang bisa mengingat, “Oh iya nikahan Cicis yang undangannya passport itu”. Semakin lama diliat juga, undangan itu cukup bagus kok warnanya. Makasih kepada Putra Karya dan terutama makasih banget ya Hun dan maaf sebelumnya kalau aku dulu nggak nerima idemu itu. ^^