Waktu lagi sering-seringnya main quora, aku pernah nemu quorawan yang me-repost ini. (Source: instagram (at)raguellewi)
Catchy banget judulnya! Posisinya saat itu aku sama temenku juga lagi menempa diri dengan hard convo bertubi-tubi, jadi menurutku postingan ini nggak cuma berlaku buat pasangan doang, tapi keluarga dan pertemanan juga.
Nah hari ini aku mempraktekkan hard convo dengan seseorang dan rasanya tuh challenging. Ada banyak pertanyaan yang bahkan meskipun udah disusun sejak merencanakan pertemuan, tetep aja amburadul di hari-H karena saking hard-nya yang mau dibicarakan. Dari malam aku udah lumayan keringet dingin bahkan mules ngebayangin seberapa bisa aku menyampaikan itu tanpa bikin salah paham dan seberapa siap aku terhadap respon beliau.
Selama dialog berlangsung, aku juga sering bilang, "aduh aku nggak tega ngomongnya," karena aku tau yang bakal diomongin sangat berpotensi melukai ego beliau, huhu gomen (〒﹏〒). Kita juga banyak canggung di awal karena pikiran satu sama lain udah penuh duluan sama asumsi yang nggak dikomunikasikan. Sampai bingung ngawalin dari mana jadi aku ngarang dulu, tapi emang gak jago ngarang jadi ya udahlah jelek.
But terima kasih sangat banyak untuk kamu yang ternyata bisa menangani percakapan yang hard tadi dengan tetap tenang dan clear. Aku nggak nyangka bisa semelegakan ini akhirnya. Semoga kamu juga ikutan lega, karena kan tujuannya dari awal emang mau bikin kamu lega atas pertanyaan-pertanyaan kamu. Kalau belum lega juga feel free to ask karena kayanya masih banyak aja yang mau diomongin meski nggak tau apa.
Terus ya.. aku bilang juga ke dia bahwa yang aku sampaikan tadi sebenarnya sudah terkonversi menjadi versi yang sangatlah ringan, kind honesty lah ya istilahnya. Jauh beda dengan apa yang aku prepare di notes sebelum ngobrol; benar-benar menusuk, brutal honesty.
Tapi ya.. mungkin kami belum sedekat itu juga untuk bisa brutal honesty. Masih terlalu rentan soalnya wkwk. Belum seperti aku kepada "teman-teman melukai egoku" yang lain (si ENFP, ISTJ, INTJ, ENTP, INTP) yang sudah dapat dipastikan nggak akan saling jauh hanya karena satu-dua kejujuran yang brutal, juga nggak akan drama maupun overthinking berasumsi setelah hard convo.
Kalau dari segi ketepatan, kayanya tadi pesanku (yang dengan kind honesty) juga nggak 100% tersampaikan. Tapi gak masalah karena aku juga berusaha memahami posisi lawan bicara, yang mungkin akan kelimpungan juga kalau dibanjiri brutal honesty di satu waktu bertubi-tubi.
It's very fine. Problem solving hari ini mungkin belum sepenuhnya clear tapi sudah sebagian melepaskan beban hati dan pikiran. Kalau kata STAYC di lagu Teddy Bear mah, "No need to rush, no hurries. Anyway, we're all living life for the first time. There isn't one right answer, one hunnit. Stop expecting one, you'll get disappointed."
Ya, berhentilah berekspektasi. Ini hidup pertama untuk kita semua. Masalah yang tadi juga mungkin masalah pertama untuk kita. Eh enggak sih. Kalau masalah yang kaya tadi, aku dulu udah pernah cuma problem solvingnya berantakan. Tapi pasti ada sudut pandang baru yang aku peroleh dari masalah yang sama di waktu yang berbeda dengan manusia yang berbeda.
Akhir kata, untuk orang-orang yang bersamaku hari ini, aku ingin memandang setiap dari mereka adalah manusia. Yang berhati, berjiwa, dan bermasa depan. Seperti kata Kak Iwan Santosa, "ketika aku ingin marah pada orang lain, aku ingat kalau dia cuma manusia yang sedang belajar tentang kehidupan. Dan kebetulan aku adalah bagian dari pelajaran itu. Kalau gak parah banget, ya udah lah."
— Giza dan kehidupannya menjadi manusia bersama manusia lainnya. Besok-besok mau nulis tentang filosofi landak kalau mood.