Mungkin cinta tak harus selau bertemu, cukup berjarak saja dengan ruang dan waktu. Apakah tidak cukup bagiku terpisah antara agama yang dua?
seen from Yemen
seen from Yemen
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Spain
seen from China

seen from Canada
seen from Russia
seen from Yemen

seen from Germany
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Canada
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Russia
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Philippines

seen from United States
Mungkin cinta tak harus selau bertemu, cukup berjarak saja dengan ruang dan waktu. Apakah tidak cukup bagiku terpisah antara agama yang dua?
Long Distance
Sebentar, susah untuk mengurangi apa yang memang terjadi, namun bila diceritakan semuanya pasti akan sangat sulit untuk menempatkan titiknya.
Jarak bukan sebuah alasan untuk kita tetap bertahan.
Bukan juga karena waktu yang jarang yang menjadikan kita sering berpelukan.
Menyapa tanpa saling menatap mata,
Mengetuk pintu tanpa saling terpaku.
Berpegang tangan bahkan masih menjadi angan.
Bukan karena aku seorang puitis dan romantis, tapi lebih kepada sebuah keinginan untuk meniti hidup sampai kita sama - sama menangis.
-.
Aceh,. December 3.2017
J-U-J-U-R
Berkata sebenar-benarnya, apakah sulit? Menghendaki hal yang sedikit baik atau tak ingin memperlihatkan karena tak ingin ketahuan, apakah harus berdusta? Pertama kali mencoba untuk berkata atau bertindak tidak sesuai pada tempatnya mungkin tidak enak, resah, ada sesuatu yang mengganjal. Namun, ketika kedua, ketiga, keempat, kelima, bahkan berkali-kalinya, pasti akan mengatakan "ah tidak mengapa" Penyakit loh itu. Emang sih ngga akan ada yang tau kamu jujur atau ngga. Cuma diri kamu sendiri sama Tuhan yang tau. Tapi, apakah orang lain perlu untuk terus-terusan dibohongi? Padahal sepandai-pandainya kamu mengumpat pasti akan ketauan juga. Jujur itu kunci kehidupan loh. Bagaimana hidupmu akan nyaman kalau kamu sendiri ngga jujur sama diri kamu? padahal tanpa kamu tau, sebenarnya orang lain bisa tau kalau kamu ngga jujur. Berdasarkan investigasimdan penelitian dari kepekaan indera ketujuh manusia bisa mendeteksi kebohongan. Jangan sampai! Katanya sayang sama diri sendiri, katanya sayang sama pasangan, katanya saupyang sama teman, terus ngapain masih main kucing-kucingan. Memanganya kalau jujur tapi menyakitkan mereka akan menerkam kamu hidup-hidup? Kan enggak! © witles 28.3.2017
Mencintaimu sungguh sederhana. Sesederhana diriku memeluk namamu dalam doa. Sesederhana berbicara denganmu tanpa bertatap muka.
Wiwit Lestari
Pemikiran
Lama ngga nulis dan bercerita jadi kangen sama tulisan sendiri. Bukan novel ataupun mahakarya sih, tapi mungkin kisah hidup sepanjang tulisan di tumblr yang based on real life bisa jadi bacaan atau sekadar hiburan, syukur-syukur bisa memotivasi atau menginspirasi orang-orang. Sudah memasuki wayahnya lulus dari universitas nih. Jujur agak bosan dan jadi luntang-lantung tanpa target, saking banyaknya gabut dan mondar-mandir cari kesibukan. Sekalinya lagi banyak order, pas kebetulan dipekerjakan sebuah koperasi, diminta tolong bantuan, pas banget lagi musim-musimnya revisi. Udah hampir 2 bulan nih nungguin ibu dosen yang kesana kemari sibuk gitu, aku juga pengen kaya mereka punya kesibukan dan dibutuhkan banyak orang. Sudah pernah merasakan dan rasanya lumayan ngga enak. Tapi risiko sih jadi orang sibuk. Berdoa, giat usaha dan semoga ngga melenceng dari target. Biar bisa balikin modal Bapak buat nguliahin aku. Walaupun emang ngga diminta. Nanti dicicil tiap bulan aja ya kalau sudah berpenghasilan, dan penghasilannya ngga ecek-ecek kaya sekarang. Sekarang baru bisa beliin kado tiap ulang tahun doang, belum bisa memberikan sesuatu yang wah gitu. Ya, itu menurutku aja. Kadang suka berpenyakit hati gitu, suka iri suka kepengen kaya si A, si B, si C, dan lain-lain. Sampai lupa kalau kebanyakan ‘ngiler’ ingin seperti orang lain, nanti aku ngga pernah bisa melihat ke bawah lagi. Penyakit hatinya aku emang sering muncul, tapi bukan karena aku ingin ikut-ikutan menjadi seperti itu, Cuma kadang iri aja sama kisah mereka yang mulus-mulus aja. Atau mungkin Cuma aku yang kebanyakan berpikir mereka “wah” aku “yah”, jadinya berasa aku yang ngga ada apa-apanya. Well, jelek emang penyakit itu, ngga pernah bikin ngga suka sama orang kok, Cuma bikin merenung aja “kok aku ngga kaya dia, kok aku begini, kok dia bisa, kok dia ... kok diaa... bla bla bla...” Penyakit dari dulu sampai sekarang yang ngga pernah hilang adalah penyakit minder. Dari dulu ngga pernah ilang ini penyakit. Ya mungkin karena aku selalu merasa aku biasa saja dan orang lain aku anggap memiliki sesuatu yang istimewa makanya aku selalu minder kalau bergabung sama orang yang memiliki gaya selangit dan kemampuan di atas rata-rata. Well, jangan ditiru penyakitnya kalau bukan buat memotivasi diri supaya lebih baik lagi dan lebih menjadi orang. Kadang kalau dengerin cerita orang itu rasanya enaaak banget, berasa masuk ke dunianya dia, Cuma aku ngga tau aja dibalik dirinya yang seperti itu bagaimana dia pada kenyataannya. Udah waktunya cari-cari pekerjaan, ‘jual ijazah’ mencari perusahaan, instansi pemerintahan, kantor independen, dan aneka macam tempat ladang penghasilan yang diridhoi Allah. Harus lebih giat lagi mengedepankan passion yang dimiliki. Apa tujuannya bekerja? Ngga melulu tentang uang sih, walaupun aku butuh. Ingin jadi orang dengan kedudukan yang tinggi, terkenal, tapi punya banyak waktu untuk pergi-pergi. Mungkin jadi pengusaha cocok deh buat kriteria seperti itu. Ngga terikat waktu, seragam, peraturan, kita bosnya, kita bisa ongkang ongkang kaki semaunya, tidur sepuasnya, yang penting omzet sesuai target aja. Kalau di atas 4,8M setahun harus ada pembukuan, kalau dibawahnya boleh Cuma pencatatan aja. Kan jadi inget pelajaran diklat brevet. Jadi inget, dulu awal masuk kuliah banyak yang membanggakan orang tuanya karena punya banyak aset. Kalau orang tuaku, asetnya ngga ada. Tipi aja udah puluhan tahun diminta ganti, ngga diganti-ganti. Yang penting kebutuhan tercukupi, dan hidup ngga Cuma hari ini. Boleh jadi hari ini kita terima uang puluhan triliunan, bukan ngga mungkin besok kita ngga mewujudkan keinginan yang kita mau, terus merasa udah banyak uang jadi malas kerja lagi, ongkang-ongkang kaki emang puas, tapi nanti uang pasti terkuras. Wong kita hidup kan perlu uang. Ibarat kata, buang air aja bayar kok sekarang. Ngga sih dari dulu. Dulu temanku bercerita banyak tentang keinginannya, dan yaa memang keluarganya berada, buat ganti jenis hape tiap hari juga bisa lhaaa~ sampai aku mikir “oh jadi kamu enaknya, ngga perlu begini begitu terseok sana terseok sini, jungkir balik dan semacamnya ngga kaya aku”. Dulu dia bilang, aku kuliah ngga disuruh lulus cepet kok, nanti aku nikah orang tuaku yang nyiapin kok, kalau udah lulus aku ya dirumah aja, orangtuaku ngga nyuruh aku kerja kok. Dalam hatiku: “masya Allah nikmat nian hidupmu “ Ada lagi ini juga hampir sama kayak yang di atas, ngga terikat target, ngga disuruh cepet lulus, ngga ada kegiatan malah. Cuma tahun kemarin, semester terakhir aku ngabisin matkul jurusanku dia minta diajak ke seminar-seminar buat ngedapatin sertifikat. Jujur pas semester 6 semester terakhir kuliah itu udah ngga pengen ada pernak-pernik acara berbayar dan kalo ngga bersnack, bermakan siang, bergratisan, berfaedah, dan bersouvenir. Wkwkwk ..lagi minim budget pas semester 6 kemarin karena mepet puasa, lebaran, KKN, dan alhamdulillah tercukupi. Yah melebar ceritanya udah 3 halaman. Intinya balik lagi ke cerita teman-temanku. Yang ngga Cuma satu orang yang bilang begitu. Kadang suka minder kok dia punya segalanya, kok dia enak ya, kok aku ngga. Tapi, ya itulah semua ada masanya. Kalau sekarang aku ngga punya apa-apa beberapa tahun kemudian bukan ngga mungkin aku masih sama seperti sekarang. Yang tiap akhir bulan minta ditelepon karena uang tinggal 20rb dan ortu nyuruh pinjem temen kos buat makan sehari, aku nya ngga mau. Pernah juga waktu emang lagi saking takutnya membebani bapak, pas bapak telepon kalau lagi riweuh keadaan dan mama butuh banyak asupan rezeki dan bertahan 4 hari dengan uang 20rb, sehari makan sekali dan Cuma 5rb. Ya dulu masih awal masuk kuliah aku Cuma tau makan ramesan. Kadang sampai apal si ibunya ditambahin nasi lah, dikasih gorengan lah, yaa itu nikmatnya dikasih. Terus nyari-nyari event yang gratis tapi ada snack dan makan siang, model seminar dari ojk, bi, kampus, instansi, dll pasti aku dateng. Manfaatnya banyak, ketemu temen baru, motivasi nanya tinggi biar ngga Cuma dapat ilmu aja pas duduk tapi juga dapat souvenir. Sampai ngga keitung dan entah dimana alas mouse saking banyaknya udah tersebar dimana mana, kadang buat kipasan aja, wkwk. Payung juga, udah berapa jenis payung dari yang masih bisa dimasukin ke ransel sampe payung abang-abang bakso yang gede banget, di rumah numpuk dan dipake orang rumah dan akhirnya pada ketinggalan entah dimana. Wkwkwk tenang masih banyak payungnya, gratis ini modal nanya doang atau jawab doang. Kadang suka mikir aja, setiap orang besar dan sukses yang aku temui, yang aku pelajari kisah hidupnya, mereka berasal dari bawah, hingga nama mereka harum dan terkenal karena keistimewaanya dan mempedulikan bagaimana latar belakangnya. Hanya niat dan giat. Sudah itu saja, dan mereka berhasil. Suka mimpi dan bayangin kalau aku jadi salah satu yang seperti mereka, dengan mampu mengelu-elukan kemampuan diri sendiri tanpa merepotkan orang lain, sehingga pada akhirnya ortu, keluarga, pasangan, saudara, sahabat, bahkan orang yang tidak mengenal menjadi bangga akan diri kita yang mau berusaha. Sekalipun ortu ngga nyuruh kita harus menjadi apa nantinya, sekalipun ortu menjamin seperti apa hidup kita di masa depan karena uang mereka masih banyak, sekalipun orang lain ngga pernah minta kita sebaik apa adanya, tapi setidaknya diri sendiri mampu menyemangati agar tercapai semua yang diingini. Bukan lagi karena berdiri di depan karena di belakang ditopang karena ada yang mendanai. Cukup didoakan, disemangati, dan menjadi diri sendiri. Sampai kemarin dapat ‘tamparan keras’ dari Bapak, Bapak bilang, “orang tuh bangga bisa apa – apa sendiri, jangan minta terus. Apalagi harus bapak lagi yang biayai. Kan sudah cukup sampai S1 janji bapak, ngga usah iri, jadi pribadi yang lebih baik lagi dari saudara dan teman-temanmu, yang menjalani hidupmu kan kamu, kamu yang tau bagaimana baiknya, ngga perlu mikirin kok aku berusaha sendiri kok aku susah sendiri, toh yang nikmati hasilnya ya kamu sendiri. Jangan jadi kaya Bapak, kaya Mama, yang ngga punya apa-apa. Anak itu harus jadi lebih baik dari ortunya” Iya sih banyak benernya. Memang dari dulu juga mikir, aku harus menjadi apa yang aku mau. Ortu Cuma bisa liat dan mengantarkan. Sudah sedari kecil disayang, membalikkan kasih sayang mereka itu yang ngga mudah. Untungnya mereka ngga pernah memaksakan kehendak mereka, anaknya harus jadi apa, harus menikah diumur berapa, harus memberi mereka apa, harus memiliki pasangan yang seperti apa. Well, mereka mengembalikan semua keinginan pada anaknya. Tanpa harus memaksakan keinginan dari diri mereka. Mereka selalu bilang: “kalau kamu sudah bisa menekuni sesuatu yang kamu senangi, jangan berpaling, jangan cepat bosan, loyal dan bekerja keras, rezeki mu ngga Cuma uang, kesehatan, umur panjang, jodoh, dan kebahagiaan, Mama sama Bapak ngga pernah tau di masa depan akan seperti apa, jadi harus bisa menjaga diri. Sewaktu waktu kami meninggalkan, kamu sudah punya bekal hidup sendiri.” Ngga perlu tertatih karena ngga ada warisan yang kami beri, ngga perlu menanti harta apa yang kami bagi, ngga perlu kerepotan ketika suami ngga ada, bahkan ketika suamimu meninggal kamu bisa membiayai dan hidup sendiri untuk menyekolahkan anak-anakmu di masa depan. (c) witles 10.03.2017
Tak ada ruang untuk berbagi, kecuali hatimu. Tak ada rasa ingin bertemu, kecuali merindukanmu.
WL
Sungguh dalam hatimu apakah aku? Sungguh dlam hatiku adalah kamu. Ketika mengingatmu setibanya hati rindu. Ketika merindumu setibanya langit menjadi sendu. Padahal belum sewindu kita tak bertemu.
WL
So Far, but i think this is near..
Hey, bangunlah! Tatap duniamu dengan penuh semangat.
Kejarlah yang menjadi impianmu itu agar terwujud...
Seringkali kita beranjak dari sebuah keterpaksaan dari kondisi yang menuntut kita untuk segera bangun. Tak sedikit kita merangkaikan kata-kata penuh cinta untuk membangkitkan semangat yang ada. Namun, kadang semua itu redup karena jiwa yang masih merasa lemah.
Perjalanan ini memang belum seberapa. Kita pasti tau ini akan menjadi sebuah cerita petualang yang sukses dalam meraih perjalanannya, sampai titik akhir , yang biasa mereka sebut itu puncak.
Sebenarnya dekat, namun terasa jauh. Kita terlalu lama berdiam di perjalanan. Kita terlalu asyik di penginapan. Kita terlalu sering untuk mengeluh bahwa pendakian itu melelahkan.
Pencapaian di puncak itu butuh senyawa-senyawa dalam jiwa yang positif. Yang mampu bangkit saat jatuh, yang mampu tersenyum saat bersedih, yang mampu tegar menghadapi segala rintangan yang ada.
Seringkali, pendakian itu terasa lebih lama dari estimasi waktu yang telah kita bayangkan. Tak lain karena kita terlalu lama menunda kaki kita untuk melangkah, terlalu lama berdiam untuk berpikir, dan terlalu lama menolehkan pandangan ketika kita harus menatap. Menatap dengan sungguh apa yang telah kita tetapkan dulu, mempertajam pandangan atas tatapan kepada puncak yang akan kita dapatkan. Bukan hanya kita raih lagi, namun kita akan menggenggamnya.
Sepucuk kata manis yang mungkin hambar seringkali diabaikan karena itu belum terbukti adanya. Menjadi seorang pemilih adalah apa adanya dari sifat yang ada pada diri kita. Ya, kita terlalu sering untuk mengabaikan apa yang harusnya kita lakukan untuk menggenggam puncak itu.
Perkuatlah segalanya, dalam doa, tekad, dan langkahmu. Di puncak sana banyak yang harus kau kembangkan lagi, jangan layu diperjalanan, jangan lelah dalam pendakian Asa mu ada untuk menggapai~
(c) Wiwit Lestari | Purwokerto, April 16, 2015