Sepenggal Cerita Pensi
Pertemuan kita terbilang biasa saja. Berawal dari teman sekelas yang sangat canggung dan benar-benar tanpa interaksi bahkan saat kita harus satu kelompok untuk mengerjakan tugas. Entah itu karena aku yang pada dasarnya sangat pemalu dan penakut untuk memulai percakapan dengan orang yang tidak dekat, bahkan dengan teman sekelas sekalipun, atau kamu yang memang terkenal irit bicara dan super cuek. Intinya kita memang seperti orang asing terlepas dari fakta bahwa kita teman sekelas dan tak jarang kita duduk di baris yang berdekatan.
Satu semester berlalu, saat itu aku sudah bisa berbaur dengan sebagian besar teman-teman sekelas, masih sedikit canggung dan label pemalu masih menempel di namaku. Kita masih belum ada interaksi sama sekali, bahkan sekedar senyum formal untuk menyapa saat bertemu di luar kelas atau sekolahpun tidak pernah. Anehnya teman-teman sekelas tidak merasa terganggu atau curiga dengan hubungan kita yang super asing ini. Di semester ini pula acara besar sekolah dilaksanakan. Acara pensi tahunan yang digabungkan dengan diesnatalis sekolahku ini lumayan populer di kota mengingat beberapa artis terkenal ibu kota sengaja diundang untuk memeriahkannya. Di sana aku menjadi salah satu panitia dan kamu juga demikian. Kebetulan aku tergabung di sana karena aku merupakan perwakilan eskul yang aku ikuti (aku salah satu pengurus harian di eskul English Club jadi aku sering ikut acara kepanitiaan sekolah hehe). Sedangkan kamu sendiri jelas tergabung dalam anggota kepanitian karena saat itu kamu menjadi pengurus OSIS dan acara inipun salah satu proker unggulan OSIS.
“gabung ke devisi apa?” Tanya Rena teman satu eskulku yang juga menjadi panitia.
“perkap,” jawabku seadanya. Saat itu sedikit tidak puas dengan pembagian anggota untuk tiap devisi karena aku di tempatkan di devisi yang terpisah dari teman-teman dekatku dan di devisi ini kebanyakan adalah anak laki-laki mengingat devisi perkap adalah devisi yang harus mondar-mandir di jalanan untuk mencari perlengkapan acara.
Lewat beberapa rapat yang sudah dilalui, kami devisi perkap memutuskan untuk membagi anggota supaya kerja kami lebih efisien. Aku kembali dibuat dongkol. Kali ini oleh Afrizal, PJ devisi perkap, karena aku dimasukkan ke tim yang tersibuk karena harus menangani devisi dekor.
Mendekati hari-h semua devisi menjadi super riweuh. Termasuk devisi perkap yang mulai sibuk mencari berbagai bahan-bahan yang dibutuhkan berbagai devisi. Afrizal selaku PJ mulai pening karena demand dari devisi-devisi lain terkhusus devisi dekor yang memang sangat membutuhkan bantuan devisi kami.
“Je, rumah lo dimana?” Tanya Afrizal saat kami sedang kumpul di kelasku untuk mendiskusikan barang-barang yang akan dicari.
“Di Griya Asri,” jawabku dengan alis yang berkerut bingung dengan pertanyaan tiba-tiba Afrizal.
“cantik,” seru Afrizal sambil menjentikkan tangan. “lo mulai sekarang kalo mau cari barang-barang sama Nanda aja,” katanya yang membuatku semakin bingung pasalnya aku biasanya bersama Afrizal saat mencari keperluan devisi dekor. “rumah kalian kan searah tuh lebih gampang kalo mau kemana-mana kalo sama gue kan beda arah. Makan waktu banyak mana gue harus bolak-balik ke rumah lo yang di ujung Indonesia itu,” jelas Afrizal yang kubalas dengan decakan karena ia mengungkit rumahku yang memang terbilang jauh dari sekolah.
“iye,” jawabku singkat.
Dan mulai saat itu aku dan kamu jadi dekat karena kemana-mana boncengan berdua mengelilingi kota untuk mencari keperluan devisi dekor. Kita yang awalnya asing itu mulai mengikis jarak dengan saling mengenal apalagi setelah kamu tau aku juga gemar menonton sepak bola dan kita memiliki klub jagoan yang sama. Kamu tidak sekaku yang aku kira tapi tetap agak menyebalkan karena kamu sering sekali merespon kata-kataku dengan keheningan sunyi.
Sore itu sepulang sekolah aku dan kamu sedang duduk di salah satu warung es campur karena kehausan mencari barang yang tadi tak kunjung ketemu.
“lo pesen apa?”
“samain aja.”
“hah?” tanyamu kamu mendekat selangkah ke arahku.
“disamain aja,” ulangku, tiba-tiba grogi karena kamu membuat jarak kita tiba-tiba menjadi sempit. Padahal aku sudah biasa dibonceng naik motor tapi entah mengapa gestur kecilmu barusan membuatku gugup sesaat.
Kamu kemudian ikut duduk denganku. Kita duduk berhadapan di bawah pohon beringin di samping alun-alun kota. Kamu langsung sibuk dengan ponselmu akupun sibuk mengabari mama dan papa kalau aku kembali pulang terlambat karena setelah ini aku dan kamu masih harus kembali ke sekolah untuk rapat.
“Je,” panggilmu yang mengalihkan fokusku dari ponsel. “lo kalo ngomong dikerasin ya, gue kadang gak denger kalo lo ngomong soalnya suaranya kecil.” Kamu tersenyum saat mengatakan itu.
Aku pun ikut tersenyum begitu sadar selama ini kamu bukan cuek dengan cerita atau kata-kataku tapi kamu memang tidak mendengar aku sedang berbicara.
“emang kecil banget suaranya?”
“iya, suara lo kecil, lembut, sama angin aja kalah,” katamu lagi. “gue kadang ngantuk kalo lo ngomong soalnya sayup-sayup gitu,” tambahnya sambil bercanda.
“rese!” kataku kesal tapi tersenyum saat mengatakannya.
Kita kemudian terhanyut dengan obrolan. Aku yang bercerita tentang pagi sialku karena terlambat berangkat sekolah gara-gara keasyikkan menonton spongebob hingga akhirnya dihukum mencabuti rumput di halaman sekolah. Padahal hanya terambat dua menit! Kamu juga bercerita mengenai kelakuan antic Ucup, teman sebangkumu, yang selalu membuatmu gagal fokus saat sedang mendengarkan Bu Yati menjelaskan trigonometri. Entah bagaimana aku mulai terbiasa dengan suaramu yang enak didengar saat sedang bercerita atau tingkahmu yang kadang selalu membuatku senam jantung. Tapi bukannya khawatir dengan jantungku aku malah senang diperlakukan demikian. Misalnya kamu yang selalu membukakan pintu saat kita masuk ke sebuah toko dan menahannya hingga aku masuk. Juga kamu yang tidak pernah membiarkan aku kesusahan membawa bahan-bahan yang dibeli karena kamu dengan senang hati akan membawanya terlebih dahulu.
Karena keasyikkan mengobrol kita jadi lupa waktu sampai aku tersadar sudah ada miscall dari Afrizal hingga belasan kali dan mengirim pesan untuk secepatnya kembali ke sekolah. Aku mengangkat panggilan Afrizal yang baru saja masuk.
“buruan kalian balik ke sekolah!” perintahnya dengan nada yang terdengar agak kesal. “kenapa sih kalian kalo nyari bahan-bahan lama banget sampe harus ditelpon ratusan kali baru kalian mau balik,” gerutunya yang membuat aku otomatis melirikmu yang juga menatapku dengan satu alis terangkat.
Oiya, aku dan kamu mempunyai tradisi kecil. Kita yang pada dasarnya memnag hobi jajan selalu menyempatkan untuk mampir ke kedai-kedai di pinggir jalan, seperti sekarang ini. Kemarin kita sudah pernah jajan batagor yang katamu sangat enak dan legendaris saat kita kebetulan melewatinya setelah belanja alat-alat melukis yang dibutuhkan devisi dekor. Waktu itu kita juga sempat makan ketoprak favoritku saat kita lewat di bunderan kota. Gara-gara kebiasaan kita ini Afrizal jadi sering ngomel karena kita selalu ngaret.
Aku dan kamu bergegas kembali ke sekolah karena merasa tidak enak dengan teman-teman yang lain yang sudah menunggu kami. Dan karena rasa bersalah kita sangat besar akhirnya kita memutuskan untuk patungan membelikan es campur untuk teman-teman di sekolah.
“nih.” Kamu menyerahkan hoodiemu kepadaku saat aku hendak naik keboncengamu. “dipake udah sore anginnya kenceng,” katamu menambahkan.
“dih, apaan nih?” Mataku melebar kaget “gak usah deh nanti lo malah yang masuk angin, lo kan yang ada di depan,” tolakku merasa tidak enak juga meskipun dalam aku tidak karuan mendapat perlakuan yang terbilang manis darimu.
“buruan dipake,” katamu bersikukuh dan kebal dengan tolakkanku. “gue pake kaos dibalik seragam jadi gak dingin.”
Aku dengan malu-malu akhirnya menerima hoodiemu. Dalam hati aku menambahkan supaya kamu jangan khawatir dengan dingin karena aku mau-mau saja kalau disuruh memelukmu dari belakang untuk menghalau dingin. Hehehe.
Sesampainya di sekolah Afrizal dan teman-teman tidak jadi memarahi kita karena sogokkan yang kita berikan ampuh mengusir amarah dan emosi mereka. Aku dan kamu berhigh five merayakan keselamatan kita ini. Saat rapat selesai kamu menawarkanku untuk diantar pulang tapi kali ini aku menolak karena aku dan Afrizal harus berdiskusi dengan Anita PJ dekor yang ternyata sudah menunggu aku dan Afrizal sejak tadi. Begitu selesai diskusi aku terkejut mendapatimu sedang bercakap-cakap dengan anak-anak dekor yang saat itu sedang sibuk membuat properti. Kamu otomatis berdiri dan menyudahi percakapanmu saat melihatku keluar dari ruangan.
“kok masih di sini?” tanyaku bingung.
“lo pasti mau pulang naik ojek?” kamu balas bertanya bukannya menjawab pertanyaanku.
“yaiyalah, masa mau jalan kaki,” jawabku memngingatkanmu seberapa jauh jarak rumahku dengan sekolah yang mana tidak memungkinkan aku untuk jalan kaki. “jangan bilang lo nungguin gue dari tadi karena mau nganterin pulang?”
“Ge er,” balasmu sambil tersenyum tengil. “orang nungguin jaket yang dari tadi lo pake.”
Aku yang terkejut dengan jawabanmu itu langsung salting, gugup, dan yang jelas sangat malu karena sudah berasumsi yang bukan-bukan. Mungkin pipiku sudah sangat merah karena aku sendiri merasakan kegerahan yang menjalar dari pipi hingga leher.
Kamu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Entah apa alasannya, mungkin saja karena kelakuan konyolku barusan dan reaksi berlebihan yang aku tampilkan.
“bercanda, gue emang nungguin lo balik,” katamu setelah selesai menertawaiku. “udah malem gini masa lo mau naik ojek sendirian.”
“ya masa mau naik ojek bertigaan sama lo nanti dikatain cabe-cabean dong,” dengusku menutupi tingkah saltingku yang tadi.
“yaudah, gue anter aja. Lumayan kan lo hemat ongkos dan lebih aman,” katamu mencoba meyakinkanku.
Malam itu aku pulang diantar kamu dan begitupun hari-hari selanjutnya kamu akan mengantarku dengan alasan lebih praktis arena rumah kita searah.
Tak terasa acara diesnatalis sudah tiba. Aku dan kamu yang sejak kemarin sibuk membantu devisi dekor kini bisa duduk di salah satu sudut lapagan, ikut menikmati acara seperti pengunjung lainnya karena tugas kita sudah terselesaikan. Kamu baru saja datang dengan dua tangan membawa es krim yang sepertinya baru saja kamu beli.
“nih.” Kamu mengangsurkan es krim rasa coklat itu kepadaku.
Kemudian kita terjebak dalam diam dengan suara musik dari panggung yang terdengar memekkan telinga sebagai pelengkap. Malam itu aku terbius dengan keindahan dekorasi sekolah yang kini berubah menjadi meriah dan elegan seperti pesta-pesta klasik eropa. Selain itu, guest star yang tahun ini diundang memang sukses meramaikan acara, tadi aku juga mendengar guru-guru yang memuji pensi yang diusung tahun ini. Aku sebagai salah satu panitia yang bertanggung jawab dengan terwujudnya acara ini jelas sangat bangga.
“cantik banget ya?” ucapmu dari sisi kananku.
“he’eh.” Aku mengangguk setuju. “anak-anak dekor sukses besar nih,” lanjutku masih mengagumi dekorasi yang indah di panggung dan sekitarku ini.
“bukan dekorasinya,” koreksimu yang membuatku buru-buru memandangmu dengan bingung. Saat itu jantungku kembali berdegup kencang karena kamu sudah terlebih dahulu memandangku. Apakah kamu tau bagaimana wajahmu di bawah terangnya sorot lampu? juga senyum tipismu yang kelewat manis itu? atau pandangan matamu yang meneduhkan tiap mendengarkan aku berbicara? Asal kamu tau semua aspek yang meliputimu kini selalu membuatku gugup tanpa sebab. Harusnya aku terbiasa dengan adanya dirimu tapi kini aku semakin belingsatan tiap dekat kamu. Rasanya jantungku selalu dipompa secara berlebihan hingga rasanya mau pecah. Aku juga kesal dengan eksistensimu yang selalu sukses membuat otakku berhenti bereaksi dan melakukan segala sesuatu dengan tidak sinkron. Dan sekarang aku mendadak tuli terhadap dentuman musik yang harusnya membuat telingaku terganggu itu. Fokusku sekarang hanya pada sosokmu yang sedang berbicara di sebelahku. Mengantisipasi kata-kata yang akan terucap dari bibirmu. “penyanyinya cantik, hehe”
Aku mengerjapkan mataku begitu kamu menyelesaikan kata-katamu yang diakhiri oleh cengira itu. Sedikit kecewa dengan lanjutan perkataanmu barusan tapi toh apa yang aku harapkan dari perkataanmu? Ih, aku kesal sendiri dengan diriku yang selalu ge er tiap ada di dekatmu. Aku buru-buru mengalihkan pandanganku untuk kembali memandangi panggung. Pura-pura fokus dengan penampilan penyanyi cantik itu padahal sebenarnya aku sedang sibuk mengatur debaran jantung supaya kembali normal. “gue kalo jadi laki-laki pasti naksir dia sih. ngefans berat kali ya,” timpalku disertai dengan tawa yang kuharap tidak terdengar memaksa.
“gue juga naksir sih,” ujarmu yang kubalas dengan anggukan memaklumi. “naksir elo maksudnya.”
Saat itu, jam itu, menit itu, dan detik itu seluruh isi kepalaku terasa kosong dan nge-lag. Aku benar-benar sangat terkejut hingga tidak bisa bereaksi apapun. Rasanya aku bisa mengucapkan selamat tiggal kepada jantungku karena sempat berhenti memompa sebelum kemudian mempompa dengan sangat kuat sekali. Fix, jantugku rusak kalau begini jadinya. Dan aku akan memintamu untuk bertanggung jawab atas itu.
Setelah menjadi patung selama beberapa detik, aku akhirnya berani menoleh ke samping dan mendapatimu sedang tersenyum. Tetap manis meskipun aku bisa membaca raut nervous yang kamu coba sembunyikan. Aku yang melihatnya merasa lega karena kamu pun merasakan apa yang kurasa. Alih-alih balas meledekmu dengan kegugupanmu, aku justru mengangguk sambil tertawa. “sama, gue juga.”
“maksudnya naksir sama gue juga kan? Bukan sama penyanyi yang cantik itu kan? Atau maksud lo, lo juga naksir sama diri lo sendiri?”












