My Brand? It's My Name Tiap kali ditanya saya ingin dikenal sebagai apa, saya selalu menjawab, "I am a Wordpreneur." Menulis novel young adult, lalu mendadak menulis thriller, eh ujug-ujug menerbitkan picture book anak. Di sisi lain saya juga dikenal sebagai content writer. Orang kantor tahunya saya Japanese Interpreter. Semuanya memiliki benang merah, sayalah bagian pusatnya😄 Saya selalu memberikan fokus 100% pada tiap hal yang saya suka. Genious zone dan main core talent saya adalah content writing, novel, dan bahasa Jepang. Untuk novel pun saya terbiasa menulis romance yang cenderung dark dan fantasi. Jadi kalau bercabang ke menulis dongeng masih ada koneksinya karena ini basicnya dunia fantasi. Saya tidak akan mencoba menulis humor dan religi. @wordholic_class sendiri bisa saja tak hanya jadi platform kelas menulis fiksi dan content writing. Sudah ada blueprint untuk membuat kelas bahasa Jepang dengan unsur pemahaman mindset belajar. Kurikulum tentu berbeda seperti para alumni kelas menulis #WordholicClass yang betah dan ketagihan ingin belajar lagi😍 Austin Kleon mengatakan tak perlu membatasi diri sendiri. Jika ingin fokus di satu genre, itu juga bagus. Saya sendiri sudah tahu apa yang saya pilih. Wordpreneur adalah saya, apa personal branding saya? Ya nama saya sendiri. Mungkin kamu kenal sosok Reffi yang menerjemahkan di event dengan bahasa Jepang dan sesekali Inggris. Mungkin kamu kenal saya dari blog. Bisa saja kamu familiar dengan novel saya. Silakan melabeli saya apapun sesuai karya yang kalian nikmati. Di #blogkatareffi slide kedua, saya menjelaskan bagaimana cara saya menekuni minat yang beragam tanpa melupakan realita dan logika. Klik www.wordholic.com atau klik link di bio. 🌻🌻 #ReffiDhinar #ContentWriting #mystory #personalbranding https://www.instagram.com/p/CM6bmHthzIa/?igshid=y9wesfwgxrnl













