One Of My Favorite Things: MILI
MILI. Itulah nama band musik yang masuk dalam daftar favorit saya setelah memainkan beberapa lagunya lewat game ritmik yang sangat dianjurkan saat ini –Deemo. Tetapi kali ini saya tidak membahas mengenai game yang memang bikin banyak orang brebes mili itu.
Band ini berasal dari Jepang. Sulit diduga karena vokalis sekaligus pembuat liriknya sangat fasih dalam berbahasa Inggris (setidaknya untuk ukuran orang Jepang yang terlabel kacau dalam aplikasi ejaan dan grammar, hal itu tidak berlaku untuk sang vokalis).
Tak kenal maka tak sayang, idiom ini agaknya terbalik untuk saya ketika mengetahui eksistensi band ini, karena saya baru ‘mengenal’nya setelah cukup lama terdiam di pojokan mencari-cari lirik dan interpretasi lagunya yang, ternyata, tidak seriang apa yang diperdengarkan.
Ciri khas yang terlihat –atau dalam konteks ini, terdengar—dari gubahannya adalah permainan musik klasik dengan sentuhan tekno modern yang bukan seperti lagu-lagu classical-dubstep pada umumnya. Lagu-lagunya memiliki kesan magis, manis, ceria dengan rasa kesedihan, kemarahan atau penyesalan yang terlalu nyata untuk disembunyikan. Dentingan piano dan gesekan violin-cello yang ‘tepat guna’ menjadi sarana pengantar cerita yang dapat mengaduk emosi pendengar –meskipun sebagian lagunya adalah instrumental. Warna suara si vokalis, momocashew, yang terkesan riang mengambang sangat cocok dengan identitas audio yang diusung MILI.
Dikatakan pengantar cerita, karena lagunya tidak hanya menyuguhkan pemanja telinga, tetapi juga ada faktor pembangun imaji, meskipun akhirnya tetap berujung pada opini tiap individu. MILI cenderung suka menyelipkan kata-kata simbolis, seperti bahasa Latin dan istilah-istilah ilmiah untuk mendukung kesan estetis. Tidak jarang juga Ia memakai tema majas metafora dan dongeng klasik, sehingga mayoritas liriknya tidak dapat memberi jawaban pasti, memberi ruang untuk menduga-duga apakah lagu tersebut memang literal fantasi atau kiasan bagi kehidupan realita.
Contoh lagu yang paling mudah dimengerti adalah Nine Point Eight.
Lagu ini adalah bukti bahwa MILI memiliki trik tersendiri dalam berkisah. Seperti krim kue yang sengaja dibuat terlalu manis untuk menutupi adonan setengah gosong –manis manis pahit. Jika hanya didengar sekilas, mungkin tidak akan tertangkap bahwa lagu ini sebenarnya membahas tentang seseorang yang bunuh diri, tetapi jika kita mau mencari, terdapat petunjuk bahwa si ‘aku’ dalam lagu itu depresi karena ditinggal mati, dan memilih untuk menyusul dengan bantuan akselerasi 9.8 meter per sekon –alias gravitasi. Revelasi ini saya dapatkan ketika iseng mengecek kolom komentar yang biasa diisi user-user yang lebih awas dalam hal interpretasi karya seni, dan terkonfirmasi, lirik dalam lagu tersebut lebih menggambarkan kebahagiaannya menyusul orang yang dicintai –sebuah ironi. Berikut adalah versi video tipografis liriknya (perhatikan nama-nama bunganya, bikin baper :‘3 )
Jika membahas ‘feel’ musiknya sendiri, bagi saya, band ini adalah band pertama yang berhasil menghidupkan indra lain hanya dengan organ rungu. Memang terdengar aneh, atau mungkin daya imajinasi saya yang terlalu kuat. Pada akhirnya, semua kembali pada pribadi masing-masing ketika mendalami sesuatu. Input yang sama hasilnya tetap bisa berbeda karena tiap orang memiliki internal yang unik bagi mereka sendiri. Hal itulah yang mungkin secara sadar atau tidak diterapkan MILI dalam mendesain lagunya, membuat lahan diskusi di channel Youtube dan blog-blog penggemar. Sehingga lagunya bukan sekedar lewat kuping kanan-kuping kiri, tetapi memberi impresi karena adanya proses mengolah informasi. Dengan hasil olahan itu, kita bisa menentukan apakah kita suka atau tidak, cocok atau tidak dengan selera –yah, meskipun saat sedang ingin santai saya mungkin lebih memilih lagu yang ‘langsung terlihat ke intinya’; pokoknya enak dan cocok.
...sebenarnya saya masih memiliki beberapa band dan komposer yang ingin saya bagikan dan ‘dunia harus tahu’, tetapi agaknya akan terlalu panjang dan menurut saya, band ini masih berada di bawah bayangan –underrated. Saran saya ketika mendengarkan lagu band ini, pakailah headset, atau setel dengan speaker yang jernih, karena sayang sekali jika detail pertemuan instrumen-intsrumen di dalamnya hilang ditelan dunia luar.
Demikian, sampai jumpa di lain tulisan.
Bagi yang ingin kepo-kepo:
MILI’s Tumblr












