PRAKTEK SCRIPTWRITING: JOHN WICK, CONTRACT DEALING SCENE
Kalau biasanya naskah dulu baru film, sekarang film dulu baru naskah. Untuk praktek ini, saya mencoba menaskahkan salah satu adegan favorit saya dalam film bergenre action John Wick yang dibintangi oleh beberapa aktor ternama; yang saya tahu sih Keanu Reeves dan Willem Dafoe, hehe :p
Karena hukumnya makruh untuk tugas kali ini memakai adegan murni ciat-ciat dan tembak-tembakan, saya lalu menjatuhkan pilihan pada adegan saat Marcus, pensiunan assassin tersohor, diminta untuk membunuh teman baiknya, sang lakon John Wick, oleh si antagonis mafia bangkotan Viggo.
Mohon maaf jika kurang nyaman dengan tumpang sari bahasa, karena ditakutkan ‘feel’-nya akan hilang jika dialog aslinya diterjemahkan.
INT. DAPUR. PAGI
ZOOM OUT dari sayuran (wortel, seledri dan sawi) di talenan.
Marcus dengan mantel mandi sedang memasukkan potongan wortel
ke food processor ketika seseorang membunyikan bel pintu
rumahnya.
INT. RUANG MAKAN. PAGI
ZOOM IN dari lorong masuk menuju ruang makan Marcus.
Marcus membuka korden ruangan. Viggo sudah duduk di ujung
meja makan memunggungi kamera, menunggu Marcus untuk
berdiskusi.
ANGLE ON Viggo
Marcus memberi jus sayuran buatannya kepada Viggo
VIGGO
(menerima gelas)
Thank you.
Viggo hanya mengernyitkan alis saat mencium bau jus tersebut
dan batal meminumnya.
MARCUS (OS)
To what do I owe this visit?
ANGLE ON Marcus dari belakang Viggo.
Marcus menuang jus dari food processor.
VIGGO
I have a job for you.
MARCUS
(meletakkan food
processor)
And I've got a phone.
ANGLE ON Viggo
VIGGO
(tersenyum sambil
meletakkan tangan di
dagu)
Hmm. I want to offer you this face
to face
ANGLE ON Marcus
VIGGO (OS)
...seeing as how you might find it
personal.
ANGLE ON Viggo, ZOOM IN perlahan
VIGGO
Would you kill John Wick for two
million dollars?
Marcus terdiam sejenak mendengar tawaran Viggo, lalu meminum
seteguk jusnya.
CLOSE UP ON Viggo
VIGGO
After all, you were close.
CLOSE UP ON Marcus
MARCUS
(serius)
Is the contract exclusive?
VIGGO
No, it's open. It's a timely
matter.
Marcus masih mendengarkan dengan seksama.
VIGGO (OS)
It has to be handled quickly.
MARCUS
(menghela napas)
Consider it done.
CLOSE UP ON Viggo
VIGGO
(tersenyum puas)
Thank you Marcus, I know I can
trust you.
ANGLE ON ruang makan.
Viggo beranjak dari kursi, persetujuan kontrak dengan Marcus
telah selesai.
VIGGO
(berjalan sambil
membenarkan jas)
Thanks for the drink.
Insert Soundtrack
Bagi yang belum melihat John Wick dan memerlukan pancingan:
Cukup saya rekomendasikan. Selain memiliki premis yang ringan untuk film bertema berat (mafia vs mantan mafia), film ini juga memanjakan pecinta film action berkerah putih.
MILI. Itulah nama band musik yang masuk dalam daftar favorit saya setelah memainkan beberapa lagunya lewat game ritmik yang sangat dianjurkan saat ini –Deemo. Tetapi kali ini saya tidak membahas mengenai game yang memang bikin banyak orang brebes mili itu.
Band ini berasal dari Jepang. Sulit diduga karena vokalis sekaligus pembuat liriknya sangat fasih dalam berbahasa Inggris (setidaknya untuk ukuran orang Jepang yang terlabel kacau dalam aplikasi ejaan dan grammar, hal itu tidak berlaku untuk sang vokalis).
Tak kenal maka tak sayang, idiom ini agaknya terbalik untuk saya ketika mengetahui eksistensi band ini, karena saya baru ‘mengenal’nya setelah cukup lama terdiam di pojokan mencari-cari lirik dan interpretasi lagunya yang, ternyata, tidak seriang apa yang diperdengarkan.
Ciri khas yang terlihat –atau dalam konteks ini, terdengar—dari gubahannya adalah permainan musik klasik dengan sentuhan tekno modern yang bukan seperti lagu-lagu classical-dubstep pada umumnya. Lagu-lagunya memiliki kesan magis, manis, ceria dengan rasa kesedihan, kemarahan atau penyesalan yang terlalu nyata untuk disembunyikan. Dentingan piano dan gesekan violin-cello yang ‘tepat guna’ menjadi sarana pengantar cerita yang dapat mengaduk emosi pendengar –meskipun sebagian lagunya adalah instrumental. Warna suara si vokalis, momocashew, yang terkesan riang mengambang sangat cocok dengan identitas audio yang diusung MILI.
Dikatakan pengantar cerita, karena lagunya tidak hanya menyuguhkan pemanja telinga, tetapi juga ada faktor pembangun imaji, meskipun akhirnya tetap berujung pada opini tiap individu. MILI cenderung suka menyelipkan kata-kata simbolis, seperti bahasa Latin dan istilah-istilah ilmiah untuk mendukung kesan estetis. Tidak jarang juga Ia memakai tema majas metafora dan dongeng klasik, sehingga mayoritas liriknya tidak dapat memberi jawaban pasti, memberi ruang untuk menduga-duga apakah lagu tersebut memang literal fantasi atau kiasan bagi kehidupan realita.
Contoh lagu yang paling mudah dimengerti adalah Nine Point Eight.
Lagu ini adalah bukti bahwa MILI memiliki trik tersendiri dalam berkisah. Seperti krim kue yang sengaja dibuat terlalu manis untuk menutupi adonan setengah gosong –manis manis pahit. Jika hanya didengar sekilas, mungkin tidak akan tertangkap bahwa lagu ini sebenarnya membahas tentang seseorang yang bunuh diri, tetapi jika kita mau mencari, terdapat petunjuk bahwa si ‘aku’ dalam lagu itu depresi karena ditinggal mati, dan memilih untuk menyusul dengan bantuan akselerasi 9.8 meter per sekon –alias gravitasi. Revelasi ini saya dapatkan ketika iseng mengecek kolom komentar yang biasa diisi user-user yang lebih awas dalam hal interpretasi karya seni, dan terkonfirmasi, lirik dalam lagu tersebut lebih menggambarkan kebahagiaannya menyusul orang yang dicintai –sebuah ironi. Berikut adalah versi video tipografis liriknya (perhatikan nama-nama bunganya, bikin baper :‘3 )
Jika membahas ‘feel’ musiknya sendiri, bagi saya, band ini adalah band pertama yang berhasil menghidupkan indra lain hanya dengan organ rungu. Memang terdengar aneh, atau mungkin daya imajinasi saya yang terlalu kuat. Pada akhirnya, semua kembali pada pribadi masing-masing ketika mendalami sesuatu. Input yang sama hasilnya tetap bisa berbeda karena tiap orang memiliki internal yang unik bagi mereka sendiri. Hal itulah yang mungkin secara sadar atau tidak diterapkan MILI dalam mendesain lagunya, membuat lahan diskusi di channel Youtube dan blog-blog penggemar. Sehingga lagunya bukan sekedar lewat kuping kanan-kuping kiri, tetapi memberi impresi karena adanya proses mengolah informasi. Dengan hasil olahan itu, kita bisa menentukan apakah kita suka atau tidak, cocok atau tidak dengan selera –yah, meskipun saat sedang ingin santai saya mungkin lebih memilih lagu yang ‘langsung terlihat ke intinya’; pokoknya enak dan cocok.
...sebenarnya saya masih memiliki beberapa band dan komposer yang ingin saya bagikan dan ‘dunia harus tahu’, tetapi agaknya akan terlalu panjang dan menurut saya, band ini masih berada di bawah bayangan –underrated. Saran saya ketika mendengarkan lagu band ini, pakailah headset, atau setel dengan speaker yang jernih, karena sayang sekali jika detail pertemuan instrumen-intsrumen di dalamnya hilang ditelan dunia luar.