WP #19 TADIKA MESRA
Ketika dalam mencintai, kita menemukan nyaman yg palsu. Ketika tulusnya perasaan ternyata semu.
Cintamu Palsu!
Selamat membaca :))
-------------------
Atas waktu yang berlalu dan menjadi saksi bisu, tentang senyum kecilku yang malu-malu, tentang angan yang menari atas lakumu padaku, akan sajak-sajak manis yang kau selipkan diantara lembar buku, juga sorot hangat matamu yang diam-diam menjadi pencarianku.
Salahkah jika aku lantas berbalik arah saat tau aku tergelincir dalam pesona yang salah?
Maya; mimpi yang kau rajut bersamaku diantara rinai hujan sore itu.
Semu; segala rasa yang kau tumpahkan padaku.
Palsu; semua tindak tandukmu yang memikatku.
Terimakasih atas kisah fiktif yang telah kita lewati bersama. Cukup sampai sini saja. Aku pergi. Tidak untuk kembali.
-
Dan waktu lagi-lagi menjadi saksi bisu, tentangmu, tentangku, tentang kita yang dulu. Apa boleh kusebut kenangan? Ah, bahkan mengingatnya pun mungkin kau tak akan sudi.
Salahkah jika aku berharap kau tak akan berbalik arah dariku? Salahkah bila sekarang ku katakan bahwa aku menyesali semuanya?
Malam ini, kepala yang kosong tiba-tiba penuh. Sadar akan resiko melukai yang terberat bukanlah dilukai, melainkan kehilangan. Sebab itu menjalani luka adalah sebanding untuk kesalahan yang telah selesai bertanding. Kau hilang tanpa aba-aba, dan aku harus belajar merelakan.
@manifestasi-rasa x @rfabs
--------------------
Aku masih ingat betul, kekasih
berbait kata yang—entah sengaja atau tidak—kauucap dengan malu-malu di sepanjang jalan mengitari Musée du Louvre.
Dua belas février, Musim masih gigil, tapi aku, gugur, mungkin juga semi,
entahlah.
Tapi, kekasih
Sejak saat itu,
aku tak pernah lagi mahir membaca ramalan cuaca di kepalamu. Kau terlalu terik untuk aku yang seringkali rintik.
Tiga puluh Juillet, deretan pesan bertanda seru yang terakhir kali kubaca.
Andai saja waktu itu, suaramu sempat kurekam, ingin sekali detik ini kukirimkan agar kau sedikit mengerti, betapa dulu, kau pernah seserius itu.
Ah, Sudahlah.
-
Kekasih?
Masihkah pantas gelar itu untukku? Setelah banyak harap yg terucap, juga luka yg menggarap. Tak bisakah kita berpisah saja, Tuan?
Ah, rupanya kita semua kanak-kanak perihal kasih dan rasa. Sajak yg ku kirim pun hanya bualan belaka atas nama penasaran terhadap cinta. Sebagian waktu yg ku habiskan pun, hanya bermain-main saja layaknya anak muda pada umumnya. Kita tidak pernah seserius itu, Tuan!
Terimakasih telah sanggup ku jadikan pelarian.
Dasar keparat!
@kertasnasi x @worldofneptune
--------------------
Atas semua sikap baik serta isyarat yang seperti mengarah kepadaku, salahkah aku menumbuhkan harapan itu, apakah semesta mengiyakan mauku?
Jika memang hubungan ini tak mendapati restu, anggap saja cintaku yang palsu,
sebab percuma kita berjuang tak kenal waktu, namun masih ada yang meragu.
Padahal teruntukmu aku tak pernah menyelipkan sedikitpun ragu,
tapi seiring berjalannya waktu kamu nampak tak sungguh dan selalu menarik-ulur perasaanku.
Bukannya aku tak sungguh untuk memilikimu,
Apa perlu aku jelaskan pada semesta bahwa sebenarnya detak jantung dan nyawaku tersenyum kala bersamamu?
Percuma, jika aku terus-terusan merangkai berjuta alasan untuk meyakinkanmu, saat ini, mungkin hanya kata maaf yang pantas terucap dari mulutku.
"Puan, maafkan aku."
"Tuan, maafmu telah sampai ke telingaku. Ternyata, selain 'alamat palsu', cintamu pun demikian."
Sudahlah, menyesal memang selalu pada penghujung waktu.
Untuk dan dari; @fadlybachtiar x @langitawan
--------------------
Selamat pagi, selamat malam dan selamat berbahagia. Kali ini benar-benar kudoakan agar kamu selamat, karena sebagian hatiku menyumpah serapahimu dan mengharapkan celaka atasmu.
Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu yang tak seberapa itu. Semoga kamu tak kena tuah karena pernah menghancurkan hatiku, menodai kepercayaanku dan mengkhianati janjimu.
Dari aku, yang kau bilang akhir tapi akhirnya tersingkir.
-
Kau memang akhir bagiku, tapi akhir kesedihanku.
Dari banyaknya persinggahan, rupanya kamu bukan yg bisa ku jadikan pijakan. Tapi terima kasih sudah pernah singgah.
Dan jika ternyata aku membuat hatimu patah, maaf itu (tak) sengaja.
@kujagabulanbersinaruntukmu x @worldofneptune
--------------------
Aku pernah terluka dengan sisa pecahan hatiku sendiri, sebab terlalu percaya namun kemudian kau khianati.
Aku pernah begitu bahagia dengan hadirmu di sisi, tapi ternyata aku terlena, bagimu aku hanya tempat singgah sebelum kau berlalu pergi.
Kini kau sudah begitu erat dipeluk rindu, sedang aku sudah terlalu menggigil dihantam kecewaku sendiri.
Bila benar katamu semua sudah menyesakkan penyesalan, maka bolehkah aku pergi tersebab kekhawatiran pada kepalsuan yang akan datang?
Jangan terlalu berharap aku mampu kembali lagi dalam sandaranmu, karna ketika telah hilang, aku suka lupa jalan pulang.
@meremahrindu x @sfwhkml9
--------------------
Dulu, aku butuh kamu karena aku tak sanggup berkawan sepi. Tak pernah sungguh untuk tinggal. Tak pernah punya rasa cinta untukmu, sampai hari itu datang. Hari di mana pada akhirnya kamu memilih membahagiakan dirimu, hari itu juga aku menyadari bahagiaku ternyata kita.
Penyesalan terbesarku adalah menjadi sebab dukamu.
Hal yang paling ingin kuulangi adalah menikmati petang denganmu di pinggir pantai sembari menggenggam tanganmu. Kalau kesempatan itu datang lagi, kupastikan aku menggenggammu dengan sungguh, sepenuh hatiku.
-
Kamu tak perlu menyesal, karena duka yang amat dalam saat itu, tak lain karena aku sendiri.
Aku yang terlalu mudah bahagia walau hanya dengan melihat senyummu. Aku yang terlalu mudah menaruh harap terlampau tinggi walaupun itu tak pernah terbersit di anganmu. Aku yang terlalu bodoh untuk menyadari bahwa semua itu hanyalah pengalih sepi bagimu.
Kini kesempatan yang kamu harapkan tidak mungkin bisa kuberikan. Ada hati lain dengan ketulusan dan keseriusannya yang tak mungkin kuberikan duka seperti yang pernah kualami dulu. Aku berharap kita sama-sama bahagia walaupun tidak dengan bersama. Maaf.
@sepiringkata x @zulzone
--------------------
Mengapa tak pernah sampai balasan tentang gelisah hatiku? Aku juga ingin tahu apa yang kamu rasakan setelah membaca semua yang ku tulis. Tulisan paling menyayat hati yang terangkai dengan linangan air mata tersebab perih yang kau beri. Tak pernah aku sesakit ini. Menjauh darimu bukan satu-satunya pilihan bukan? Bicaralah padaku, apakah akhir dari kisah ini?
Bukan maksud tuk membalas curahanmu, karena ku yakin kaupun tau tanpa harus ku beritahu. Namun semua diksimu mengisyaratkan sebuah luka, luka dari sebuah rasa tanpa balas dan berujung duka. Seolah olah akulah yang paling bersalah, menjadi tersangka utama atas semua lelah. Seolah olah kamulah yang paling tersakiti, dan akulah yang paling lihai perihal melukai. Termasuk menyakiti tapa arti.
Bisahkah tak usah melirik dan mengusik rasa yang pernah ada, dan semoga cepat berubah menjadi sedia kala. Lalu pada akhirnya kita harus belajar sedewasa mungkin, akan segala kejadian yang terjadi tanpa ingin.
@rajuami x @hafidhulhaqq
--------------------
Pada akhirnya, apa yang dinanti tak jua mencipta bahagia di pengujung perjalanan. Setelah melupakan waktu dan menjadi lelaki yang lebih tabah dari hujan, kupikir harapan itu akan bernapas lega. Namun sebaliknya, jawaban penantian yang kausematkan di perasaanku jua kausematkan di lelaki lain. Bila sudah begini, apa maumu?
-
Berhenti dan berpisah. Kata orang perpisahan tidak pernah mudah namun bagiku yang tidak mudah adalah bersama sama denganmu. Mauku sederhana, mari kita berpisah. Kau akan lega dan aku akan bahagia. Dengannya, selain kamu.
@ariqyraihan x @irnanurs
--------------------
Jalanan semakin terjal Tuan, tetapi genggamanmu semakin terasa tidak meyakinkan.
Jalanan semakin berkabut Tuan, tetapi kejujuran tampak berlarian pada tatapanmu.
Harapan terus tumbuh, sedang pada setiap isyaratmu seperti ada yang masih belum sembuh.
Waktu terus berlalu, seiring dengan ragu yang terus memburu.
Perihal maklum, aku mulai dihantui cemburu.
Perihal alasan, aku mulai lupa cara bertahan.
Tuan apakah hatimu terjebak masa lalu?
Tuan apakah aku hanyalah pelarian?
-
Atas nama perjalanan, dan keyakinan. Bersabarlah, aku tak mengelak pasti ada ragu yang masih bersandar pada hatimu.
Dustaku tak ingin ku buat dusta lagi, karena meski mau seberapapun aku mencobanya, aku tahu kau dapat mengetahui ketidakjujuranku dalam perjalanan ini.
Katamu, "Apakah hatiku terjebak masa lalu?"
Lagi-lagi bersabarlah puan, aku sedang membangun rumah di atas tanah yang berisi semak belukar berduri. Meski sesekali membuatku terluka, tenang aku tak akan pernah lari ataupun berhenti untuk terus memperjuangkan kita. Bersabarlah Puan dalam perjalanan ini, sebab dirimu bukanlah pelarian tapi sebuah perjalanan mengarungi perasaan.
@makkiahst x @mengejasendu
--------------------
Terimakasih, semoga kita semua terbebas dari cinta dan nyaman yg palsu :)
Ruang Kelas Tadika Mesra, 9 Agustus 2020









