Tentang Aku
Rintik begitu deras berjatuhan dari langit, Bandung sudah tak lagi kering. Mentari enggan sekali untuk menyapa, ia lebih memilih bersembunyi di balik mendung. Jam mengayunkan jarumnya tepat pada angka satu, mempersilahkan diri untuk cepat berlalu dari tempat ini. Sudah satu jam aku menunggu hujan reda, di bawah atap halte nenyembunyikan diri dari hujan. Gawai di tangan sudah mati sejak lima belas menit lalu, aku tak bisa memainkannya untuk sekedar memesan ojek online, ataupun untuk menghubungi kawan. Menurut jadwal, siang ini kuharus pergi ke kampus untuk segera duduk di kelas, baik untuk mengikuti pelajaran ataupun hanya sekadar mengisi absen saja. Sudah gemetar kaki ini, menahan dinginnya angin yang menyusup masuk melalui pori-pori.
Mencintai seseorang tidak harus dengan selalu memiliki, ada kalanya kita harus mengikhlas demi sebuah kebahagiaan. Namun, tak bisa memiliki juga bukan berarti harus melupa. Memang sulit mematikan perasaan pada orang yang kita temui setiap hari, begitulah kondisi hidupku sekarang. Sebuah perasaan yang tak sempat diungkapkan, sehingga semua hanya isapan jempol semata. Setiap hari hati ini selalu diselimuti oleh sebuah rasa yang terbelenggu, sakit menyayat inti jantung.
Namun, kehidupan harus tetap berlanjut, harus tetap melangkah agar tidak digilas roda kehidupan. Aku harus tetap membangun kehidupan dari hari ke hari, agar semakin dekat dengan tujuan dan cita-cita hidup. Biar kondisi hati tak ada yang mengisi, tapi hidup bukan tentang patah hati lalu galau saja. Tapi hidup adalah bagaimana harus bangun dan tidak terjerembap dalam belenggu perasaan semu yang tak kunjung nyata.













