Minggu pagi ini aku bangun disebabkan ponselku yang layarnya berpendarkan namamu dengan pesan “Nanti siang jadi makan bareng? Laptopmu jangan lupa dibawa ya.” Kubalas oke plus emot senyum. Senyum yang juga terbentuk di wajahku. . “Habis uninstall ubuntu, keluar pop up ini, udah restart tapi gini terus, gimana nih?” . Kamu mengklik dan menekan kombinasi tombol tak familiar. Loading, booting. Muncul jendela hitam penuh kode yang tak kupahami. Kamu mengetik berbagai huruf angka, dan voila, muncul windows berputar-puta dan home display berlatar kucing kesayanganku. . “Ubuntu itu gak bisa diuninstal kalo cuma ngehapus partisi, soalnya boot loadernya gak bisa nemu direktori root linux, makanya eror, kamu gak bisa login deh, kamu pake dual booting..” . “Intinya dah bisa kan?” potongku. . “Iya, udah.” katamu tersenyum. . “Yee makasiih ya.” . “Peluk dulu dong.” kamu merentangkan tangan sambil tertawa. . “Dih males, bukan muhrim, tuh, tiang listrik pelukin!” ucapku sambil menunjuk ke arah seberang jalan. Kamu lantas berdiri, mendorong pintu kaca di belakang meja, meninggalkanku yang bertanya “Kamu mau kemana?” . Tak lama, kamu berteriak memanggil namaku dari seberang jalan, sambil memeluk tiang listrik. Berpasang-pasang mata melihat dan menunjuk kearahmu sambil cekikikan. Aku terkesiap kaget, sambil memberi isyarat supaya kamu segera kembali ke dalam cafè. . “Kamu ngapain tadi?!” ucapku sebal. Kamu kembali duduk sambil tertawa. “Lah kan tadi kamu yang nyuruh.” . “Kan tadi aku asal ngomong aja. Ngapain diseriusin?” . “Kapan sih aku pernah gak serius sama kamu, Ta.” . Pipiku terasa menyemburat hangat. Sudah pasti merah. Aku tersenyum. Gemas. . “Ta, nanti jadi ngukur? Aku nggak mau gaunmu panjang-panjang ya. Nanti nyerimpet.” . “Ih gakpapa dong, Kate Middleton aja panjang bajunya berkilo-kilo.” . “Ntar nggak bisa dansa.” . “Emang kamu mau ngajakin dansa?” . “Iya, asalkan diiringi musik dangdut.” . Kita tertawa renyah. Melepas resah, lelah. Aku tersenyum sambil menatap dua kotak bludru merah dan dua buah kertas mengkilap di atas meja. Tertulis namaku dan namamu. Di dua kertas undangan yang berbeda. . @30haribercerita #30HBC21 #30hbc18mengarang #writingchalenge #flashfictions (at Singosari)







