Enam Purnama 2017
“Dek, percaya sama Anin, adek sekolah lagi itu insyaALLAH perkara waktu aja kok, entah kamu sekolah profesi, atau sekolah di luar kayak Anin. Allah itu pingin lihat usahamu sedikit lagi mbul”
-Avina Anin Nasia, 1 Januari 2017.
Mengawali tahun 2017, sejujurnya berat sekali buat saya. Lebay sih. Saya merasa membawa PR di tahun 2016 yang belum kunjung saya selesaikan, salah satunya adalah studi master. Kalau boleh sedikit flashback, 27 Oktober 2016 lalu, tepat ketika saya berusia 24 tahun, saya mendapati e-mail dari LPDP dan dinyatakan tidak lolos seleksi administrasi. Phew. Masih inget banget, dengan datarnya menyampaikan hal ini ke Mama dan Mbak Anin, “adek ngga lolos”. Justru waktu itu Mama yang panik. Hahaha, sekarang boleh saya (atau kita) menertawakan, tapi waktu itu justru semakin sedih, dan semakin percaya, kalau kesedihan anak itu 100 kilo, kesedihan ibunya bisa ribuan bahkan jutaan kali lipat. Di satu sisi, ada satu masa di awal tahun 2017 dimana saya tidak terlalu sering bercerita pada Ibu saya, khawatir makin panik, tapi saya tidak berhenti untuk terus meminta doa restu Mama. Berbekal quote dari bang haji Rhoma Irama, “doa ibumu dikabulkan Tuhan, dan kutukannya jadi kenyataan”.
Januari
14 Januari 2017, saya memberanikan diri untuk IELTS. Menurut saya, ini salah satu hal yang patut saya syukuri, karena Allah berikan keberanian untuk tes. Sehari setelahnya, saya dan kakak saya (dan Alivia yang saat itu masih dalam kandungan kakak saya) jalan-jalan ke Tunjungan Plaza dan makan bareng hahahaha. Ini hiburan awal tahun banget, karena untuk pertama kalinya kami jalan bareng berdua, menikmati setiap langkah dengan cerita-cerita konyol, dan tingkah lakunya yang tak kalah menyebalkan. Masih inget juga, masa-masa trimester pertama mbak Anin, bukan hanya dia saja yang trauma, saya sepertinya lebih trauma, karena nggak tega melihat dia sering banget mual. Tapi Alhamdulillah, kakak saya strong enough, buktinya bisa jalan-jalan ke TP. Di awal tahun ini, belum-belum saya udah dibeliin novel “Tentang Kamu” nya Tere Liye dan komik “Miiko”. Bonus, ditraktir makan Pizza Hut, meskipun dia sempet mual, dan saya adalah orang yang bisa ketularan mual hahahaha.
Ada satu rangkaian kalimat mbak saya yang membuat saya tertegun.
“Mbul, kamu jangan egois, sekarang kamu sedang proses menyelesaikan apa yang jadi tugasmu ke orangtua. Selama ini Mama sama Bapak berjuang cuma buat anak-anaknya aja Mbul. Kamu jangan mudah rapuh gitu ah, ini belum apa-apa dibanding nanti kamu kalo udah sekolah. Jalani aja, nikmati aja, fokus juga. Ngga usah macem-macem kamu kak”
Di pekan berikutnya, saya kembali menghadapi masa-masa seolah jadi anak tunggal, karena kakak saya kembali ke Belanda, menuju pangkuan suami, eh. Penuh drama, macet dimana-mana, tapi Alhamdulillah masih bisa ketemu mbak Anin di Bandara Juanda. Masih inget banget, bagaimana dia begitu berapi-api menyemangati saya untuk tidak pupus di tengah jalan.
“Kamu ini baru memulai perjalanan, kak. Jangan mudah patah, harus strong soalnya kamu kan Putri Jawa Timur hahahaha. Jangan nangis kak, kalo nangis nanti kamu ngantuk, nggak produktif”
-Avina Anin Nasia, sesaat sebelum check in.
Tak perlu lama-lama untuk merealisasikan pesan mbak Anin, 27 Januari 2017, saya mendapati hasil IELTS saya, masih 6.0. Baik, saya paham bahwa perjalanan di tahun 2017 masih 27 hari. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki, masih ada kesempatan untuk belajar lebih giat lagi. Masih ada rejeki untuk tes lagi. Insya Allah. Januari, terima kasih, telah mengenalkanku, betapa perjuangan itu sungguh-sungguh di mulai, betapa modal dari perjuangan adalah niat yang lurus, keyakinan pada Allah dan pada diri sendiri, ketenangan dalam berpikir.
Februari
Hal yang paling beda di bulan ini adalah akhirnya seorang Valina Khiarin Nisa adalah jadi anak kontrakan. Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa, dan dengan didorong keinginan luhur, untuk lebih interaktif sama orang lain, akhirnya saya dipertemukan dengan Kontrakan Muslimah Andalusia, yang isinya akhwat-akhwat sejati semua, kecuali saya. Terima kasih kepada Sayyida Farihatunnafsiyah, yang sudah mengizinkan saya untuk menjadi bagian kecil dari Kontrakan Andalusia. Senangnya adalah, saya tidak merasa kesepian, ada teman untuk berbagi cerita, ada teman yang menasehati, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan yang paling penting adalah…. Membuat kesedihan menjadi sebuah kebahagiaan yang patut disyukuri. Mengubah air mata menjadi gelak tawa. Mengubah kantuk menjadi senam irama, mengubah ngigau jadi shalat tahajjud. Hahaha. Thanks Andalusia!
Bagaimanapun, teman-teman Andalusia adalah teman-teman yang sangat pengertian. Bagaimana tidak? Ba’da shubuh, saya sudah mengganggu mereka dengan memutar listening IELTS menggunakan speaker.
“gaes, monmap yaa. Valin izin belajar IELTS, ngga ada waktu lagi buat belajar IELTS selain bada shubuh dan diatas jam 10 malem.”
Dan mereka sangat-sangat pengertian, Alhamdulillah. Haru banget kalau ingat betapa mereka menyemangati, betapa mereka senantiasa mengirim doa.
Kabar baik di bulan ini adalah, Fakultas Psikologi memfasilitasi saya dan teman-teman asisten dosen lainnya (yang membutuhkan) untuk les bahasa inggris (khususnya IELTS) di IALF Surabaya. Masyaa Allaah, sebuah kesempatan yang belum tentu saya dapatkan dua kali, tanpa pikir panjang,
Ada sebuah pepatah manis, bahwa lebih baik berjuang bersama-sama daripada sendirian. Di bulan ini pula, saya kembali dipertemukan dengan mereka, sahabat saya. Grienda Qomara, mengajak untuk membuat IELTS Club, khususnya writing dan speaking. Selain Grienda, ada mas Gading, mas Hakim, Abdul Ony, Febryan, Izhar dan Sofi. Meskipun hanya beberapa kali pertemuan, saya merasa sangat terbantu. Setidaknya saya semakin sadar, bahwa modal utama nulis dan bicara adalah membaca. Mas Gading, selalu berbaik hati memberikan feedback speaking, dan menyarankan saya untuk lebih rajin baca artikel. Hahahahah ampun kakak. Kerasa bangetlah, saya emang nggak punya ide yang oke tiap kali diminta cerita dua menit (speaking for IELTS part 2). Ah iya, alhamdulillah, makasih banget untuk Grienda Qomara, salah satu nakama, alias sahabat senasib sepenanggungan yang berkenan mengajak saya dalam club IELTS ini. Makasih juga untuk semua teman-teman yang terlibat, walau cuma beberapa pertemuan, tapi manfaatnya terasa sampai sekarang :) semoga jadi amal jariyah mereka.
Maret
Bulan Maret, bulan ke-lima saya bekerja di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Kecemasan-kecemasan itu mulai hadir. Saya mulai mencari beberapa informasi beasiswa, entah beasiswa dalam negeri atau luar negeri. Semua jenis beasiswa saya coba, mulai StunEd, Australia Award Scholarship, LPDP dan masih banyak lagi. Di bulan maret ini, saya mulai Les IELTS Preparation di IALF Surabaya. Antara senang, karena ternyata Fakultas benar-benar membiayai les, dan cemas, karena bagaimanapun biaya transport akan meningkat. Alhamdulillah, karena saya satu kelas dengan Binari, saya ngga perlu sering-sering naik ojek online atau taksi online, saya bisa nebeng Binari. Terlepas dari itu, salah satu teman baik saya sebenarnya juga mengingatkan saya untuk mengurangi intensitas naik ojek online, atau bahkan berhenti menggunakan. Hehehe, terima kasih teman baik. Ada banyak yang cukup saya lewatkan di bulan Maret 2017, kondangan demi kondangan akhirnya tidak bisa saya datangi karena keterbatasan fisik. Saya perlu istirahat untuk kembali belajar. Di bulan ini juga saya belajar menjalankan apa-apa yang menjadi skala prioritas saya, kondangan tetap jalan, tapi tidak semua. Mengaji tetap jalan, karena memang sudah diagendakan sepekan sekali, tidur secukupnya, belajar semaksimal mungkin, makan makanan sehat, hahahaha, dan hiburan seperlunya. Alhamdulillah, meskipun dengan rutinitas yang terkesan begitu-begitu saja (pagi kerja, sore les, malem belajar, subuh belajar), saya tetap bisa menikmati momen bersama keluarga, momen bersama teman kontrakan atau teman teman dekat saya. Tertekan? Ya jangan ditanya, tapi selama bisa mengendalikan tekanan, hal itu memicu saya untuk bisa memberikan yang terbaik, minimal menjadi orang yang lebih menghargai waktu. Saya hanya percaya pada pepatah, obatnya galau adalah menyibukkan diri kita. Ketika sibuk melanda, insyaAllah kita tidak punya waktu untuk menggalau tiada guna. Saya kira ini hanya pepatah, but I’ve been there. Saya tahu rasanya ketika kegiatan ini itu benar-benar menguras waktu, tenaga, pikiran, sehingga tak ada waktu untuk berpikir hal-hal yang tak perlu dipikirkan. Alhamdulillah, Terima kasih Maret :)
April
Masih sama seperti bulan Maret. Setiap sore selalu ke IALF Library buat belajar. Sampai kontrakan selalu malam, dan kembali berkutat dengan IELTS. Tapi ada yang beda di bulan ini. Saya makin rajin senam irama di pagi hari sama teman sekontrakan saya, Sayyida Farihatunnafsiyah. Masih inget banget, prinsipnya adalah : setelah mengerjakan IELTS Listening 3 set, baru boleh senam irama. Hahaha. Dan entah kenapa bulan April ini kok playlist saya agak rusak. Selain lagu-lagu berbahasa inggris (saya sengaja tidak mendengarkan lagu bahasa Indonesia sampai IELTS saya mencapai target), ndilalah kok ada playlist lagu berbahasa Spanyol, yang tak lain dan tak bukan adalah Amigos X Siempre :( Baiklah, setidaknya saya sedikit belajar bahasa pengantar Spanyol. Hahaha.
Yang sedikit beda di bulan ke-empat di tahun 2017 ini adalah, akhirnya saya jalan-jalan. Fakultas Psikologi Universitas Airlangga mengadakan rapat tengah tahun di Banyuwangi, yeaaay. Saya kira 2017 ini begitu monotone dengan persiapan studi saja, nyatanya Allah selalu punya kejutan di balik setiap perjuangan. Menikmati pantai dan debur ombak, masya Allah.
Mei
Kalau diingat kembali, bulan ini penuh kepadatan dan kepanikan. Yang saya ingat di bulan Mei adalah mau tidak mau saya harus ambil tes IELTS, karena akhir mei sudah bulan ramadhan, dan deadline pendaftaran administrasi LPDP adalah 7 Juli 2017. BAIKLAH. Siap nggak siap, akhirnya saya mendaftar tes untuk tanggal 20 Mei 2017. Selain mempersiapkan IELTS di tanggal 20 Mei, ternyata dua pekan sebelum that date, saya dan teman-teman asisten dosen juga menjadi panitia hore hore Kelas Inspiratif Psikologi Universitas Airlangga. Pembicara yang diundang tak tanggung-tanggung, tiga puluh empat inspirator (menyesuaikan usia Fakultas Psikologi Unair yang mencapai 34 tahun, hamdalah).
Jujur saja, saya punya tekad diam-diam mendaftar tes IELTS, tidak bilang siapa-siapa, kecuali ditanya. Bagi yang bertanya, baru saya jawab sekaligus minta doanya. Tapi entah kenapa, terkhusus teman-teman kontrakan, saya merasa punya hutang budi karena selalu mengganggu pagi mereka dengan Mp3 “IELTS Listening, Section 1” Hahahahaha, saya pun menyampaikan rencana saya untuk tes di tanggal 20 Mei 2017. Sekaligus meminta doa semoga diberikan keputusan terbaikNya. Tak lupa, saya juga saat itu masih sering nyampah di Grup Sabar Semangat Legowo, yang tak lain dan tak bukan adalah Geng Kondangan. Pokoknya panen doa sebanyak-banyaknya ke orang-orang yang baik, karena kita tidak tahu lewat mulut siapa Allah mengabulkan doa kita (Masyrifah, 2015).
Dua puluh mei dua ribu tujuh belas.
Melangitkan tawakkal setinggi-tingginya. Saya paham, saya agak lemah di bahasa Inggris. Tapi hari itu adalah kesempatan terakhir saya untuk ikut tes IELTS (yang mana hasilnya akan jadi penentu apakah tahun ini saya bisa apply beasiswa LPDP Magister Luar Negeri atau tidak). Sekuat-kuatnya ikhtiar, tetaplah Allah penyusun skenario terbaik. Tanpa karuniaNya, kita bisa apa? Yang saya yakini di hari itu adalah, saya telah memberikan upaya terbaik, sisanya tinggal tawakkal terhadap keputusan Allah. Sepanjang perjalanan, dan menuju speaking test, saya tak henti-hentinya membaca doa nabi Musa, “Rabbisrahlii shadrii wa yassirly amri, wahlul uqdatam millisaani yafqohu qouli”. Yang manis di momen IELTS ini adalah salah satu kekonyolan Sayyida Soepandi, yang membawakan NASI AYAM GEPREK di saat istirahat menuju Speaking Test. Mau nangis, tapi nanti sembab, jadi pusing dan nggak bisa mikir dengan jernih. Asli haru banget.
“ya soalnya kan tes IELTS sebelumnya mbak Valin kelaperan sampe minta dibawain roti kan, makanya ini Ayyi bawain makanan favoritmu, mbaa. Kasian juga kan, jomblo. Itu mas Arif dibawain makan sama istri anaknya. Kamu siapa yang bawain?”
HAHAHAHA nggak jadi nangis adalah keputusan yang tepat.
Sepulang dari tes IELTS, Alhamdulillah masih punya kesempatan untuk menyambung silaturahim dengan mbak Risza Damayanti, di Gelora Joko Samudro. Mengenal mbak Cica juga menjadi salah satu karunia Allah di tahun 2017. Semangatnya, gelak tawanya, keasyikan dan kelegowoannya untuk menjalani aktivitasnya memang bikin iri, sekaligus termotivasi. Makasih Mbak Cica! ^^
Juni
“Mamah, kalo ternyata IELTS adek belum 6.5,adek izin daftar beasiswa dalam negeri aja ya Ma. Bismillah ikut beasiswa dalam negeri tapi profesi.”
2 Juni 2017. Bukan ucapan selamat ulang tahun yang saya sampaikan ke Mama, justru pernyataan di atas. Pengumuman IELTS result bersamaan dengan milad Ibu saya. Pastinya akan berkesan banget kan, baik jika lolos maupun tidak lolos. Lucunya, hari itu hari kecelik. Jarang-jarang kan asdos dapat jatah cuti, saya termasuk yang abai terhadap kesempatan emas itu sudaraaaa. Saya masuk di hari jumat, dan menyaksikan ruang asdos begitu hening tanpa ada satu jiwa disana. Saya berusaha memahami bahwa takdir ini datang bukan tanpa maksud dari Allah. Mungkin, saya sekalian ambil hasil IELTS (?). Menanti dan menanti, sembari terus berdzikir, meyakini bahwa jika memang masih di bawah requirement, artinya saya harus realistis dengan keadaan, menyusun rencana baru untuk segera mendaftar sekolah profesi : Psikolog. Pukul 11.00. Saya mendapati sebuah e-mail dari StunEd. Saya dinyatakan tidak lolos seleksi beasiswa tersebut. Tangan saya mulai dingin. Saya tidak tahu bahwa pengumuman beasiswa StunEd juga hari ini. Sempat ada penyesalan kenapa buka e-mail sekarang, makin ciut nyali saya untuk membuka pengumuman IELTS. Saya berusaha menepis semua pikiran negative saya sambil terus menerus istighfar. Mungkin karena hikmah ramadhan juga ya, waktu itu saya tidak nangis saat membaca pengumuman ditolak kesekian kalinya.
Pukul 13:00, selepas shalat dzuhur, saya memberanikan diri untuk melihat pengumuman online IELTS. Tenang Valina, everything is okay. Saya mengucapkan itu pelan-pelan, dan……ternyata benar adanya, Allah memberikan kesempatan saya untuk melanjutkan rencana yang saya buat sejak lulus di bulan September 2015 : Melanjutkan rencana studi ke luar negeri. Alhamdulillaahirobbil’aalamiin. Saya melihat nilai overall 6.5 di pengumuman online. Bagi orang lain, mendapatkan nilai 8.5 biasa saja. Bagi saya, saat itu, adalah penentuan banget. Kalau saja saat itu yang muncul adalah angka 6.0 atau bahkan di bawahnya, saya tak ragu-ragu untuk mengubah rencana saya, tapi ternyata Allah tidak berkehendak untuk itu. Hasil IELTS 6.5 bagi saya adalah isyarat Ilahi untuk melanjutkan perjuangan yang hampir dua tahun, menyelesaikan amanah kontrak di Fakultas, 2018 berangkat atau out. Tanpa pikir panjang, setelah sujud syukur dan memeluk Bu Atika (salah satu supervisor saya di tempat kerja), saya segera pamit dan meluncur ke IALF Ngagel untuk mengambil hasil IELTS saya. Hasil IELTS ini yang bisa jadi kado ulang tahun Mama ke-53. Bonus Maxtea jumbo juga sih, hahaha. Ra bondo blas ya (?). Begitulah saya dan Mama saya, tak perlu kado aneh-aneh, yang penting saling cinta, saling mendoakan, saling memberikan masukan demi pribadi yang lebih baik ya Mam ya :)
Bulan Juni ini sebenarnya sangat berkesan, bukan hanya sekadar skor IELTS yang akhirnya mencapai target (Alhamdulillah), melainkan juga kesempatan untuk merajut silaturrahim dengan mereka, beberapa sosok orang penting yang tidak pernah kurencanakan menjadi sangat penting dalam hidupku. Saya memang suka kumpul-kumpul, apalagi sama mereka. Ingin sedikit menambah album kenangan dengan mengajak mereka buka bersama. Sedikit kecewa karena tidak full-team, tapi begitulah hidup ya. Kalau kata Ebiet G. Ade kan begini, “Cinta yang kuberi, sepenuh hatiku. Entah yang kuterima, aku tak peduli”.
Karunia Allah pasca nilai IELTS yang memenuhi target, adalah surat keputusan dari University of Groningen, bahwa saya dinyatakan diterima tanpa syarat di jurusan Reflecting on Psychology (yang saat ini sudah saya ubah di jurusan Clinical Psychology). Alhamdulillah, tepat 30 Juni 2017, saya segera mengotak atik laman aplikasi online LPDP saya, mengubah keterangan “belum memperoleh LoA” menjadi “sudah memperoleh Unconditional LoA”
Bulan Juni juga, rasanya roller coaster belum berakhir. Pilihan hidup dan timeline yang mulai bercabang. Adanya keinginan untuk ini, itu, anu, atau entahlah, keinginan itu pecah seiring dengan kondisi yang dihadapi saat itu. Tapi benar adanya, saya kembali teringat kata-kata kakak saya. Selama ini, orangtua saya yang sangat struggle dalam menghadapi kerasnya hidup, ya bukan buat siapa-siapa selain menjalankan amanah Allah, membesarkan titipan Allah, yaitu kakak saya dan saya. Tidak ada alasan bagi saya untuk berhenti berjuang atau hanya sekadar kepingin ini kepingin itu hanya karena toleh kanan toleh kiri. Ya, pasti bisa ditebak keinginan apa ini. Melihat postingan di media sosial, mendengar nasihat kanan-kiri
“Dear Valina, janganlah kamu menunda-nunda”
“Dear Valina, kamu mau aku carikan yang seperti apa?”
“Dear Valina, sekolah itu cuma suplemen, jangan jadi penghalangmu untuk beribadah”,
“Ayo mbak, segera, aku sampe udah mau punya anak gini, kamu kapan?”
dan sejumlah kalimat bijak (namun kurang tepat guna) lainnya. Terima kasih atas perhatian yang diberikan, saya yakin niat mereka semua baik. Yakin bangeeeeeeeeet. Hanya saja, yang paling mengerti kondisi saya (selain Allah, karena sudah pasti tahu) saat itu adalah saya dan orang-orang terdekat. Dan benar adanya, orang-orang terdekat saya, tidak pernah mempertanyakan “Kapan Nikah” ke saya, karena mereka paham. Terlepas dari bagaimana perlakuan orang terdekat (lintasan orbit terdekat) hingga orang-orang kenalan (lintasan orbit terjauh), bulan Juni ini saya belajar bahwa kita tidak bisa mengubah apa-apa yang sudah menjadi karakter orang lain, tidak bisa mengubah perkataan atau sikap apapun yang sudah terlanjur keluar dari orang lain, namun kita bisa mengendalikan hati untuk tetap tenang, mengendalikan pikiran untuk tetap jernih, mengendalikan lisan untuk lebih hati-hati dalam berucap, mengendalikan kepala, mata, tangan dan kaki untuk selalu berbuat baik, tanpa menyinggung perasaan orang lain apalagi merasa punya lintasan orbit paling benar. Hikmah kedua, kita tidak bisa membahagiakan semua orang atau semua pihak. Ada kalanya keputusaan-keputusan yang diambil oleh kita mengecewakan orang lain, namun ketika semuanya diniatkan untuk Allah, untuk kebaikan, selalu ada konsekuensi yang harus dipeluk erat. Hikmah ketiga, ridho orang itu yang utama dalam mengambil keputusan, karena ada ridho Allah juga yang mengikuti. Kejadian roller coaster ini mungkin membuat saya jadi semakin dan semakin dekat dengan Mama, dan Bapak. Alhamdulillah ‘ala kullihaal.
Keputusan di enam purnama 2017 ini, tentu ber-efek pada keputusan-keputusan di enam purnama berikutnya. Lagi, tak ada jurus apapun untuk melanjutkan cerita-Nya yang jalannya selalu jadi misteri, selain bersabar dan bersyukur. Yakin bahwa Allah itu Maha Adil, tidak usah mempertanyakan atau membandingkan jalan hidup diri dengan orang lain, tentunya tak akan pernah sama. Yang terpenting adalah kita sudah mengupayakan yang terbaik, sisanya tinggal tawakkal. Alhamdulillah, wa syukurillah, cerita saya mungkin terkesan begini begini saja, namun saya percaya, menulis adalah salah satu ikhtiar untuk mengingat rizki Allah, salah satu cara untuk merekam kenangan untuk diambil hikmahnya. :)
To be continued…………………. :)















