Buku harian adalah catatan paling jujur milik seseorang. Adanya ini pula yang membuat seorang penulis senior seperti Fang Fang yang tersohor di negeri Tiongkok tergerak menyuarakan apa yang ia lihat dan dengar selama masa pandemi di Wuhan. Tulisannya selama 60 hari masa kuncitara (lockdown) menimbulkan beragam respons, mulai dari dukungan sampai ancaman. "Di Tiongkok banyak wartawan yang menjilat pemerintah, tetapi kita tidak pernah kekurangan jurnalis pemberani yang tidak takut bersuara. Beberapa hari terakhir saya menyaksikan sekelompok jurnalis yang tak kenal lelah menggali cerita-cerita sesungguhnya di luar sana." (Hal. 183) Dalam catatan yang diunggah setiap hari selama masa kuncitara di Weibo, Fang Fang mengkritik keras kinerja lambat pemerintah. Bahkan di awal pandemi, Covid-19 sempat diremehkan. Pemerintah mengatakan jika tidak ada penularan virus antar manusia. Kordinasi kacau dan transparansi diragukan. Banyak kecaman yang diterima Fang Fang sampai tulisannya sering dihapus secara sepihak. Namun, ia tak pernah patah semangat untuk menulis. Lewat buku ini kita akan mengetahui fakta yang terjadi dari seorang penduduk Wuhan, yakni Fang Fang, dalam menangani masa kalut di dalam rumah, kesedihan saat satu per satu koleganya meninggal akibat virus, kecemasan akan masa depan yang tidak menentu, dan perasaan terbelah melihat penanganan. Tak hanya kritik, Fang Fang juga mengapresiasi dan memuji cara pemerintahnya belajar dari kesalahan di masa awal pandemi. Meskipun dianggap cukup terlambat, itu lebih baik dibanding berlarut-larut terkungkung dalam kelambatan. Ada banyak hal yang mirip dengan kacaunya penanganan pandemi di sini, Indonesia 😄Saya salut bagaimana kegigihan tenaga medis yang menggunakan metode tradisional Tiongkok dengan proporsi cukup besar, dipadukan teknologi kesehatan modern. Fang Fang memuji usaha paramedis yang akhirnya mendapat sokongan penuh dari pemerintah. Buku ini layak dibaca bagi kalian yang penasaran dengan penanganan pandemi di Wuhan sejelas-jelasnya. Judul: Wuhan Diary Penulis: Fang Fang Penerjemah: Reni Indardini Tebal: 384 halaman Penerbit: Bentang Pustaka #gerakanoneweekonebook #bacaanreffi #WuhanDiary #bookstagram #books https://www.instagram.com/p/CLhGEBWA4fc/?igshid=1pl0r3vy8v8rw












