momentum
"Entah kamu melihatnya atau tidak. Di ruangan itu ada sudut kosong yang bisa kau tempati untuk menjadi dirimu yang jauh lebih hebat lagi."
Memang mata kita hanya satu dimensi, tapi pemikiran kita tidak. Pemikiran kita mungkin bisa kita istilahkan dengan menyebut seperti menyaksikan film tiga dimensi.
Satu peristiwa beragam makna.
Saat kita melihat seorang tukang becak yang sudah tua sekitar berumuran 70 tahun. Badannya kurus, tinggal kulit keriput yang sedang mengayuh becaknya. Dan seorang wanita gemuk dalam tumpangan becak. Berat badannya sekitar 80 kg, disana juga ada barang hasil belanjaan. Mulai dari bahan makanan, alat dapur, hingga perlengkapan rumah tangga lain. Kalau ditotal mungkin mendekati 100 kilo berat tumpangan becak yang sedang dikayuh bapak itu. Ketika kita melihat itu, bisa jadi ada beragam makna yang muncul.
Yang pertama, kasihan bapak itu sudah tua masih harus berjuang keras untuk mencari rezeki. Yang kedua, bapak itu kuat sekali ya. Yang ketiga, melihat pak becak yang ngos-ngosan dan mengayuh becak terasa berat, ibu penumpang benar-benar tega sekali menyiksa pak tua tukang becak, padahal masih banyak tukang becak anak muda yang masih segar bugar.
Begitulah kawan, ada beragam makna dalam sebuah peristiwa. Kita diberi kesempatan untuk berpikir memaknai dari sudut yang mana. Dari arah, depan, belakang, samping kiri atau kanan. Pasti beda siluetnya.
Pelukis pun agak berbeda menggambarkannya. Meskipun juga kita memandang dari arah yang sama, tapi fokus kita bisa jadi berbeda. Aku melihat matanya, kamu melihat rambutnya, dia melihat cincin di tangannya, dan mereka memperhatikan suaranya, memperhatikan cara bicaranya.
Inilah kesempatan kita untuk berpikir beda. Inilah momentum.
Sebuah kesempatan dalam harmoni kehidupan melihat dari berbagai sudut pandang. Keberagaman berbagai nada mampu menjadi lagu yang terdengar syahdu. Keindahan pikiran yang bisa jadi, karena pikiran yang agak berbeda.
Bapak tukang becak itu, esoknya termuat dalam rubrik teladan pada koran terbit harian. Siapa yang mengira? Saat dimuat koran, sang bapak menganggap koran tersebut telah menghinanya. Siapa yang tahu? Atau bisa saja, saat ibu yang diantar oleh tukang becak itu telah sampai di rumahnya dengan jarak tempuh sekitar 2 km. Ibu itu memberi upah Rp 200.000. Lalu, bapak tukang becak terkesima. Sang bapak merasa legowo. “Rejeki dari Gusti Allah” batinnya.
Bagi ibu tadi, memberikan upah yang lebih dari biasanya adalah sebuah kesempatan bersedekah. Ia tahu persis kondisi bapak itu yang harus membiayai anak dan istrinya karena mereka adalah tetangga. InsyaAllah sedekah yang tak akan salah sasaran. Dan ketika bapak tukang becak semakin hari semakin menua. Maka bukankah itu juga sebuah kesempatan. Kesempatan bagi seorang anak untuk meraih surga. Bukankah kata Rasulullah merawat orang tua di masa senja jaminannya surga. Merangkul atau hanya menemaninya bicara adalah sebuah kesempatan untuk membahagiakan sekaligus mendapatkan maafnya.
Itulah sebuah kesempatan yang membukakan kita peluang.
Kesempatan yang menghadirkan ruang untuk memikirkan sesuatu. Kesempatan yang seringkali muncul dari sebuah kesulitan karena memang kesulitan adalah pintu pembuka kesempatan.
Pada masa-masa itu kita akan sadar, kita seakan dipaksa untuk mau berdoa. Menguntai kalimat pujian dan permohonan pada Tuhan. Pada masa-masa itu kita sadar akan waktu bahwa kita sedang berpijak pada bumi merasakan desah-desah nafas kita. Pada masa-masa itu kita sadar sedang membutuhkan sesuatu yang tak mungkin dipenuhi kecuali dengan kembali pada yang menjadi penuntun hidup kita.
“Waktu adalah sebuah kesempatan. Kesempatan itu mungkin bisa datang berkali-kali, tapi kita tidak akan pernah bisa memanggilnya.”
Manfaatkan kesempatanmu, selagi masih ada waktu.
---
Juju Juharisman









