Kenapa sekarang orang habis olah raga kayaknya nggak afdhol tanpa di upload atau selfie? Padahal yang beneran olah raga gak sebanyak foto-foto selfie yang bertebaran. Berdasarkan data kementerian kesehatan tahun 2015, [1] orang Indonesia yang beneran sadar kesehatan hanya 20 persen, bayangin angka itu dari total penduduk Indonesia sebanyak 255 juta.
Januari selalu jadi bulan tempat olah raga ramai, orang-orang ramai bikin resolusi buat ngurusin badan (termasuk saya sih). Sayangnya yang berhasil konsisten sampai 6 bulan sedikit, eh gak perlu selama itu sih rasanya bulan Februari aja sudah mulai sepi lagi kok. Prioritas sudah kembali bergeser. Resolusi tinggal jadi resolusi.
Setiap orang memang terlahir berbeda, tidak semua orang punya kapasitas untuk melakukan olah raga seperti angkat beban, lari atau bahkan yoga.[2] Hal itu terjadi karena sejatinya dari lahir setiap manusia memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Tapi Tuhan sudah memberi anugrah dengan komposisi organ tubuh yang sama. Bukan berarti hanya yang lahir dengan kecerdasan kinetis saja yang bisa dan suka berolah raga. Tetapi semua jenis kecerdasan perlu olah raga. Mungkin memang orang-orang dengan kecerdasan kinetis bisa lebih unggul, bisa jadi yang seprti itu adalah atlet-atlet. Lalu apakah kecerdasan matematis dan liguistik tidak perlu olah raga? Dalam sebuah penelitian di tahun 2016 [3] dengan studi kasus di Indonesia menyatakan bahwa durasi olah raga berkorelasi terhadap tingkat kecerdasan. Orang-orang yang lari rutin seminggu minimal 3 kali memiliki perkembangan otak yang lebih baik daripada yang tidak sama sekali. Hal ini juga berlaku untuk jenis-jenis olah raga yang lain.
Selai kecerdasan berolah raga juga membantu mempengaruhi tubuh untuk menurunkan hormon stress, serotonin dan menaikkan hormon bahagia, endorphin. Justru kalau lagi males dan stress sebenarnya olah raga bisa jadi obat. Cukup dengan olah tubuh 20-30 menit pasti udah berasa.
Sayangnya kebiasaan yang mestinya perlu dibudayakan ini jadi bergeser dalam masyarakat sekarang. Di Surabaya ada event car free day setiap hari Minggu. Sepanjang jalan itu ditutup untuk kendaraan bermotor, hanya memperbolehkan sepeda dan pejalan kaki. Sepanjang jalan itu dipadati oleh penjual makanan yang belum tentu sehat. Niat untuk berolah raga di sana kebanyakan jadi bergeser untuk ajang kuliner dan berkumpul hingga jalan jadi sesak dan bahkan tidak bisa dipakai jadi track lari. Untung pemerintah setempat sadar untuk meluruskan kondisi tersebut dengan menertibkan pedagang dan kembali memberikan ruang gerak yang luas untuk dijadikan tempat olah raga. Maksud dari paragraf ini adalah kita perlu kembali menyadari, bahwa olah raga adalah sesuatu yang penting. Bisa diawali dengan berusaha menemukan sesuatu yang membuat senang untuk mengulangi lagi. Coba lari, tidak cocok lalu ganti fitness, atau ganti yoga, atau ganti bersepeda. Whatever works on your body!
Keep health and stay fabulous!!!
Sumber:
1. http://health.detik.com/read/2015/12/21/070243/3100733/763/menkes-baru-20-persen-masyarakat-indonesia-sadar-kesehatan
2. http://health.kompas.com/read/2015/10/03/174041923/8.Jenis.Kecerdasan.Anak.dan.Cara.Mengembangkannya
3. http://eprints.uny.ac.id/39690/