Kura-kura dan Tanaman Purba
Aku pernah mempunyai dua ekor kura-kura. Untuk mendapatkannya, aku harus menjawab tantangan kakak untuk menjual Beng-beng di sekolah. Aku yang kala itu masih kelas 4 SD pun menyanggupi karena terlampau ingin memiliki peliharaan kura-kura.
Akhirnya, dua kura-kura yang kunamai Fresti dan Fruti pun sampai di rumahku. Mereka yang masih sangat kecil kutempatkan di dua ember yang sama. Mereka berdua tumbuh bersama-sama hingga besar. Namun, lama kelamaan Fruti yang tubuhnya lebih kecil sering diserang Fresti. Aku pun memisahkan mereka di ember yang berbeda.
Aku memberikan mereka makan dan mengganti air kolamnya setiap hari. Ya, setiap hari selama SD. Ketika masuk SMP, aku mulai tidak memperhatikan mereka. Mungkin, rasa ingin dan sayangku pada mereka berkurang. Namun, masih sering menengok sesekali keadaan mereka yang semakin besar. Selebihnya, ayahku yang memberi makan dan mengganti airnya.
Bulan lalu, ibuku meminta izinku untuk memberikan kura-kura yang dulu petnah kuperjuangkan dan kusayangi itu kepada tetangga jauh. Tetangga yang katanya penyayang binatang dan mau merawatnya. Aku terkejut mengapa Ibu memutuskan demikian. Aku spontan mengiyakan dan bergegas melihat Fresti dan Fruti sebelum mereka dibuai tangan orang lain.
Namun, mereka sudah tidak ada di rumah. Ternyata Ibu bukan izin, melainkan melapor padaku. Sontak aku sedih dan menyesal. Mengapa aku tidak betah merawat mereka dengan baik selama ini sehingga Ibu mempercayakan orang lain untuk menggantikanku merawat Fresti dan Fruti.
Di tengah rasa kehilangan ini, aku mencoba mengambil hikmahnya. Mungkin dan semoga tetanggaku lebih rajin dan telaten mengurus kedua kura-kura yang pernah ada di rumahku kurang lebih dua belas tahun lamanya.
Dalam hal lain, aku juga memiliki tanaman yang kunamakan “tanaman purba”. Selama ini aku menanamnya dan ketika tumbuh mekar, ada seorang yang berbaik hati ingin memetik dan memilikinya. Aku menyerahkannya karena yakin bahwa kecantikan tanamanku akan dijaganya.
Kurang lebih lima tahun ia memiliki tanaman purbaku. Awalnya ia menjaga tanamanku dengan baik. Ia pupuk dan ia perhatikan dengan baik perkembangannya.
Namun, akhir-akhir ini ia punya tanaman baru dari orang lain. Mungkin tanaman purbaku kalah indah baginya sehingga ia mengacuhkan tanamanku yang dulu kusimpan baik-baik tapi kuserahkan serta merta kepadanya ketika ia datang.
Sekarang, tanamanku layu, kering. Mungkin ia jenuh menyiram dan melihatnya karena terpana dengan tanaman yang baru-baru.
Demi tanaman purba yang kusayang, aku mendatangi rumahnya dan minta ia melepaskan tanamanku. Mengembalikannya kepadaku sebagai sang pemilik dan penanam. Aku ingin membuatnya tumbuh lagi. Segar lagi. Karena tanamanku belum sepenuhnya mati. Aku ingin merawatnya sendiri dan tak mau menyerahkannya pada siapapun untuk saat ini. Karena orang yang kupercaya selama ini pun ternyata tak begitu mampu menjaganya.
Seperti aku yang mengikhlaskan kura-kuraku dirawat oleh orang yang semoga lebih baik, kuharap ia juga rela mel epaskan tanaman purbaku agar bisa kuserahkan kepada orang yang lebih baik lagi. Yang akan lebih memperhatikan kebutuhannya akan air yang tak akan membuatnya kering kerontang, perhatian sepenuhnya yang tak membuatnya layu, dan kebertahanan menjaganya agar tidak mati.
Kuyakin, jika berani melepaskan sesuatu atau seseorang yang baik, akan digantikan dengan yang lebih baik. Jika berani melepaskan yang lebih baik, maka akan diganti dengan yang sangat baik. Begitu seterusnya hingga pada akhirnya mendapatkan yang terbaik.
Maka dari itu, aku ikhlas melepaskan kura-kuraku, dan mengambil kembali tanaman purbaku dan menunggu pemilik baru yang lebih baik lagi.
Aku yakin pasti ada.