Malam minggu mencoba pergi ke Sarinah demi semangkuk Es Jelly Medan. Sesampainya di sana, tiba-tiba terlintas rupa orang Jakarta yang selama ini ada dipikiran. Betapa orang-orang bergaya seolah memperlihatkan status kemapanannya, berlenggok tak masalah dikelilingi mobil-mobil yang berseliweran mencari parkiran. Trotoar penuh obrolan dengan kepulan asap rokok diseling kebulan uap air dari seduhan kopi Starling. Tak lupa Bapak penjaga pun seolah ngga peduli kalau slot kapasitas PeduliLindungi di sana sudah terlewat batas, mungkin sekedar asal pakaian kalian terlihat pantas. Setelah masuk ke dalam, mata semakin ngga berkonsentrasi baik, terdistraksi cukup sesederhana dari ramainya yang berkunjung. Dari mulai yang mengabadikan foto diri baik bersama logo Sarina atau patung-patungnya, toko-toko yang sulit terlihat bangku lowong, hingga beberapa gadis-gadis belia yang berseliweran mengenakan baju adat. Tidak lama, hidung pun tersadar akan wewangian yang menyengat namun menenangkan, ciri khas wangi tempat mewah nan rendah hati. Tidak butuh waktu lama untuk menemukan penjual Es Jelly Medan. 33 ribu rupiah dengan isian es serut, es batu, agar-agar, jelly, 2 buah longan, 1 buah leci yang disiram dengan perasan jeruk limau dan sirup gula. Dinikmati dengan cakwe yang cukup besar disertai bumbu kacang ditambah obrolan ringan teman kantor lama. Tak lama kami pun berjalan berpindah tempat, paling tidak kami sudah membawa predikat pernah ke Sarinah.














