ada yang sedang tidak kusukai
hari-hari, tidak sendiri, tak bisa pergi
taylor price
★

❣ Chile in a Photography ❣
todays bird

shark vs the universe
Show & Tell
noise dept.
No title available
Game of Thrones Daily

oozey mess
Doug Jones

Jar Jar Binks Fan Club

Kiana Khansmith
Interview Vampire Daily
Sade Olutola
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
d e v o n
EXPECTATIONS
🪼

seen from Malaysia
seen from Finland

seen from Brazil

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Italy

seen from Singapore
seen from Pakistan
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from Hong Kong SAR China
seen from Bulgaria
seen from United States
@temankecil-blog
ada yang sedang tidak kusukai
hari-hari, tidak sendiri, tak bisa pergi
ibu, jika sejak kecil aku selalu di bandingkan dengan orang lain, mengapa sekarang aku tidak boleh membandingkan ku dengan yang lain?
aku sudah terbiasa ibu,
sudah terbiasa, tidak pernah menerima
aku
Terkadang saya benci menjadi pengingat. Di waktu yang sama saya menjadi pendendam karena sulit lupa akan kata-kata. Di satu sisi, kata-kata yang baik, pun, menyentil senyum untuk sesaat. Kubawa kemana-mana. Tapi, bagaimana memisahkannya?
Satu untuk sekedar mengingat, satunya memikirkan.
Mengetahui banyak hal dari orang lain, orang baru membuat saya merasa bahwa dunia ini tidak hanya sekedar aman. Kamu bertemu dengan orang-orang yang telah melewati lumpur penyedot dan mampu mengeluarkan diri dari itu. Atau, orang-orang yang berhasil menghindarinya, namun membiarkan orang lain mati,
Aku benci menjadi pengingat. Kadang, hal-hal yang tidak ingin saya dengar bahkan dari orang terdekat. Mereka peduli, mereka tidak dikhianati, tapi masih mencaci.
Ingatkan aku, Januari. Bahwa secepatnya umurku akan berganti, Pertanyaan-pertanyaan tidak menghargai harus segera kulepas pergi.
Tahun ini biarkan aku bersenang-senang dulu. Aku mau memaku mulut pemaki agar mereka menyayangi dirinya dulu. Seperti kata orang disamping kemarin, “menurut si pemaki, kita ini di iba, padahal kita bahagia”
Tapi, Januari. Sedihnya kali ini, si pemaki ada pula yang benar peduli. Hanya saja aku tidak diizinkan bersenang-senang. Disuruh nya mencari, masa depan yang entah kapan berhenti.
Kenapa kata-kata menjadi berharga lagi, padahal ia sudah lama tidak menyapa. Gelagatnya saja perhatikan, maka ia cinta. Ah! bagaimana aku percaya.
Tanggung jawab katanya?
ha ha ha
Bilang saja dulu, baru buktikan. Jika mau diakui bahwa tidak main-main maka buatlah aku mengerti, karena aku masih mampu mendengar dan menjawab. Kamu? Ragu.
“Legowo”
Iya iya
Salah saya
Salah saya
Salah saya
Di simpang berikutnya
Setelah hari itu,
Aku mulai berjalan lagi
Mencoba menyebrangi persimpangan
Satu langkah
Dua langkah
Baik
Salah langkah aku tertabrak lagi
Truk Tanpa isi
Terseret sedikit
Berdiri
Satu langkah
Dua langkah
Tiga
Aku salah lagi
Bis ini benar-benar besar
Menabrak
Menggores
Pergi
Lari kecil
Lari cepat
Aku lupa menoleh
Tertabrak lagi
Kali ini patah di kiri
Ditinggal pergi
Aku pernah meyakinkan jalanku, bahkan sebelum melangkah
Aku hanya berdiri terpana
Kamu, menabrak tiba-tiba
Menyeret bebulan-bulan jauhnya
Di persimpangan berikutnya kamu terlepas, bergegas pergi tanpa menyapa
Pernah tau sakitnya?
Pernah tau rasanya?
Pernah bayangkan bagaimana caranya aku merangkak menyembuhkan luka?
Aku benar menyerah
Terima kasih, karena tidak pergi meski tak harus pulang setiap hari.
Satu Tahun Enam Bulan
Waktu-waktu yang dihitung sendiri dengan bantuan orang lain, dari mana asalnya cerita yang pernah berbahagia?
Tuhan menciptakan perbedaan bukan hanya untuk saling menghargai, tapi juga untuk menahan rasa yang disangkal dengan hati-hati.
Baru benar kulihat bahwa dia pernah menyimpan bunga yang dikiranya sudah kubuang, kuncupnya masih kusimpan, kenangan masih bersamanya.
Karena lebih dari satu tahun enam bulan yang lalu dengan tiba-tiba membonceng sepeda melewati ujung-ujung sekolah, dan kuncup pertama di dekat kolam keruh tak bermuara, dia masih sama baiknya.
Aku tidak tau apakah dia juga sama, tapi aku mengelak semuanya dari pertama cipta tawa setiap pagi dan sore serta perjalanan pulang ketika hujan sedang marah-marahnya.
Kita diciptakan dengan kuat bukan? Dengan beda tanpa jalan satu, beda bagaimana kamu memulai harimu dan hariku.
Setidaknya kita masih tau caranya bertengkar bersama, setelah satu tahun enam bulan tidak benar-benar bersua.
Ehehe
Pengganggu
Saya menulis ini bukan hanya karena semakin miris dengan hal-hal yang terjadi saat ini. Saya juga ingin mengungkapkan perasaan saya, sebagai seseorang yang telah dibully seumur hidupnya.
Oke, saya lebih nyaman menyebutnya pengganggu. Kenapa? Karena orang-orang yang mem-bully mengganggu mental orang lain. Saya tidak menyalahkan pelakunya, sebenarnya. Saya tidak menyalahkan siapapun. Apapun yang keluar dari mulut seseorang bergantung pada lingkungannya, pada hal-hal yang sering ia dengar, terutama di dalam keluarga. Jadi, ya seperti itulah. Kita semua memiliki latar belakang yang berbeda. Tidak semua orang bisa menghargai orang lain. ya kan? Hehe
Saya memang sudah terbiasa dibully karena fisik saya yang tidak sama dengan teman-teman seumuran saya (re: mini). Ejekan-ejekan yang hampir sama sering sekali saya dengarkan. Saya dengarkan. Saya dengarkan. Salahnya disitu, saya mendengarkan setiap ejekan yang diucapkan baik orang terdekat maupun yang baru mengenal saya barang satu menit yang lalu. Saya baru benar-benar mengerti bahwa itu buruk bagi saya kurang lebih 15 tahun yang lalu. 15 tahun saya mendengarkan mereka semua :)
Saya memang sudah terbiasa dengan hal itu, sangat terbiasa. Namun, bohong jika saya bilang bahwa saya tida peduli. Bohong jika saya bilang bahwa itu tidak berdampak apapun bagi saya. Bohong jika saya tidak terluka.
Ada satu waktu, ketika seorang anak berusia 10 tahun menangis setiap hari ketika tidak ada orang dirumah. Mengutuk Tuhan, karena ketika itu rasanya benar-benar sangat menyakitkan. Ya, itulah pikiran anak berusia 10 tahun.
Lalu pelan-pelan ia mulai mengenal banyak hal baru, ia membalaskan dendamnya. Ia melakukan apa saja agar orang lain memujinya dan ia tidak sadar bahwa ia sama sekali tidak disana. Ia melakukan apapun untuk menyiksanya dan membuat orang lain bahagia. Semua tidak pernah diluapkannya.
Sebenarnya, saya selalu yakin bahwa perbedaan saya dengan teman-teman sebaya membuat saya mudah diingat oleh orang lain, membuat saya mudah dikenali. Tapi ternyata ejekan yang bertubi-tubi menghancurkan keyakinan saya. Saya tenggelam lagi, mulai tidak menyayangi diri sendiri. Tidak ingin bertemu banyak orang.
Ternyata itu tidak buruk.
Mulai membenci diri sendiri membuat saya mencari, hal apa yang harus dibenci. Saya baik-baik saja. banyak orang di dunia ini yang mengalami hal lebih buruk daripada saya. Saya tetap bersyukur.
Tidak bertemu banyak orang? Saya lebih beruntung karena sekarang saya bisa lebih menyayangi diri saya dan tidak berkumpul dengan lingkungan yang tidak nyaman bagi saya, dimana saya yang menjadi bahan olok-olokan. Saya lebih sedang bertemu secara pribadi dengan teman-teman. Saya merasa lebih baik.
Kepada orang-orang yang sering mengejek? Hah. Saya sudah tegaskan sebelumnya itu terserah mereka. Saya tidak bisa melarang siapapun untuk mengejek atau mengolok-olok karena memang latar belakangnya seperti itu, dan bahkan mereka tidak mengenal saya. Biarkan saja. saya juga tidak bisa memarahinya karena mungkin itu akan membuat ia tersinggung. Saya tidak ingin menyakiti hati orang lain karena saya juga tidak suka disakiti. Saya hanya berharap, bahwa saya akan dipertemukan dengan orang-orang yang tepat, orang-orang yang bisa menghargai orang lain setiap harinya.
Saya tidak menyangka benar-benar menulis ini. Saya tidak pernah mengeluhkan ini sekalipun sebelumnya, bahkan kepada orang-orang terdekat saya. Saya hanya memikirkannya dan ternyata, huh. Ternyata berat menulis ini. Secara tidak sadar pun saya mengingat hal-hal yang lalu dan memutuskan berhenti mengetik beberapa saat.
Saya hanya ingin menulis, untuk membuat saya tenang. Saya mulai tidak peduli dengan pendapat orang lain yang buruk. Selama ini keburukan juga selalu saya dengarkan. Tapi, biarkan saja saya menulis. Semoga suatu saat ketika saya sudah tidak bisa menulis lagi, masih ada orang lain yang membacanya.
Terima kasih.
Curiga dan khawatir kadang susah dibedakan. Apa mungkin memang sama ?
Lucunya
Kemarin pagi, setelah subuh tepatnya aku dibangunkan bahwa ada seseorang yang akan datang. Benar ternyata, datang seorang wanita diantar orang tuaku membawa anaknya.
Ia datang dengan senyuman dan cerita. “Aku mau cari uang lah buat biaya perceraian”
Ya, ia ingin bercerai. Anaknya berumur 2 tahun 5 hari. Suaminya selama ini tidak pernah peduli, suka “jajan” sana-sini tapi minta uang istri. Memalukan ya? Haha
Satu hari ia menginap bersama lalu datang kabar bahwa suaminya ditangkap sebagai pengedar narkoba dari salah satu artis yang baru beberapa hari terciduk polisi. Lucu lagi. Kata sang istri, dia bukan pengedar dan ga kenal sama artis itu tapi iya dia suamiku keciduk di apartemen lagi “makek” sama selingkuhannya.
Untuk orang yg baru membaca ini mungkin akan menyalagkan si suami karena perbuatannya, tapi ya memang laki-laki itu salah. Salah sekali. Meninggalkan anak istrinya dan berkelakuan ngawur!
Tapi, cukup kami saja bagaimana cerita lengkapnya.
Saya menulis ini sebenarnya bukan agar pembaca menjadi simpati pada si istri pun membenci sang lelaki. Saya hanya ingin menceritakan sedikit bagian hidup suami-istri dari pasangan yang saya kenal. Sulit memang kita bertahan dalam keadaan apapun menerima pasangan kita, entah darimana jalan kita salah. Ketika memilih atau ketika menjalani? Entahlah.
Si ibu masih baru saja tidur terlelap menangis memeluk anaknya ketika saya menulis ini, baru saja ia bertanya “sekarang jam berapa?”
Ia benar-benar lelah menjawab segala pesan yang masuk, hingga foto sang lelaki di televisi memakai baju oranye juga koran elektronik yang menyebut lengkap namanya. Hatinya hancur mendengar bahwa si lelaki sudah tidak peduli padanya, tidak mencarinya bahkan kini ia ada di luar kota.
Cerita ini hanya lah salah satu dari beberapa yang selalu menakuti saya setiap kali jika tiba-tiba ada lelaki bilang cinta.
Pertanyaannya adalah:
Sanggupkah saya? Sanggupkah ia?
Bisa kudapatkan yang baru ? Aku pernah kehilangan sepedaku di jalan ini Ketika berlalunya waktu setelah satu bulatan bulan benar-benar terpancar sempurna Di tengah-tengahnya ada cerita bahwa ada bahagiaku tunggu Tahun-tahun baru sudah melewatiku Aku belum beli sepeda baru Sedikitnya aku hanya ingat betapa berharga dia Betapa sabarnya ia menghadapiku Kami sama-sama menahan jalan berliku Kini aku benar-benar ingin sepeda baru Kamu yang sudah pergi, takkan pernah tau Betapa kerasnya aku merengek pada Ibu Aku ingin sepeda baru Berkali-kali aku harus pergi bersepeda Mengayuh yang bukan pedalku Aku harus meminjam milik orang lain Yang terberat adalah, ketika aku meminjam miliknya maka aku harus membawanya serta Padahal aku hanya ingin bersepeda dengan riangnya Dengan angin peluk Dengan ombak menepuk Serta pasir-pasir yang menggerutu Aku muak dengan ingatan Bahwa tidak ada yang bisa menggantikanmu padahal rodamu sudah melewati jutaan aspal dengan pemilik lain Aku muak bahwa Ibu tak membiarkanku memiliki sepeda baru Aku harus lebih keras lagi kini merengek pada Ibu.
Selasa, 28-3-2018
Kami sedang terkepung
Dalam bahaya nasib cekung
Aku tidak sengaja berhenti di ujung jalan
Lalu kamu tiba-tiba datang menelantarkan
Kami hanya sedang ada dalam diam buatan
Sengaja sama-sama tak menghiraukan
Sebenarnya aku begitu agar kamu tak tau, betapa debarnya saat tiba-tiba matamu datang merekatkan.
2016-2017 Kamu kamu pernah semanis itu. Menyeka keluh menyeka perih di hari yang berbeda. Datang dengan guna-guna melepas tawa, dengan sederhana. Membuatku merasa ada. Lampaunya lampau, kamu kamu sudah dalam masanya, Bukan tak manis lagi, hanya berganti. Melalui jalan kekikukkan antara satu dan satu antara dua dan satu. Sulitnya mendapatkan kamu kamu kembali, Kamu kamu yang tiba-tiba mengantar mauku Sendiri dan terburu-buru Bersama-sama tapi kelabu. Boleh aku rindu? Tampaknya tidak bisa kuminta lagi kamu kamu yang begitu Aku pernah seberuntung ini menjadi bagian-bagianmu.