Bagi seorang wanita, dicintai lelaki yang sholeh, mengajak kepada kebaikan, mendampingi disaat kesulitan, dan berteman menuju SyurgaNya, jauh lebih bahagia dibandingkan mencintai lelaki yang tidak mencintainya meski sesholeh apapun lelaki itu.
Nov
Misplaced Lens Cap
Today's Document

#extradirty
No title available
$LAYYYTER

No title available
we're not kids anymore.
noise dept.
Cosimo Galluzzi

⁂

祝日 / Permanent Vacation

pixel skylines

Discoholic 🪩
wallacepolsom
Three Goblin Art
todays bird
Claire Keane
Cosmic Funnies

Kaledo Art

No title available
seen from Kazakhstan
seen from Greece

seen from United States

seen from Brazil

seen from United States
seen from Greece

seen from Spain

seen from United States
seen from Poland
seen from Greece

seen from United States

seen from United States

seen from Canada
seen from Germany
seen from Australia
seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Greece
seen from Italy
seen from Germany
@thedeepsides
Bagi seorang wanita, dicintai lelaki yang sholeh, mengajak kepada kebaikan, mendampingi disaat kesulitan, dan berteman menuju SyurgaNya, jauh lebih bahagia dibandingkan mencintai lelaki yang tidak mencintainya meski sesholeh apapun lelaki itu.
Nov
Bagaimana cara melupakan, jikalau cara memulai pun aku tak tahu. Bagaimana cara membenci, jikalau cara mulai mencintaimu pun aku tak tahu. Setiap kali pandangan ini ku tundukan, setiap kali itu pula aku merasa sangat tidak pantas untuk kamu pilih. Dan mungkin kamu tidak pernah tahu, dan tidak akan pernah memilihku.
Your all time fans.
The Garden Miss The Rain
It's not your fault to choose her.
You choose the best woman to be mother of your children.
You choose the best figure of muslimah for your future wife.
It's my fault to first fall to you.
To wishper your name in my prayer, hope someday Allah knock your heart and come to me.
To give all of my attention to you, to worry about you.
Actually I must ready for all of possibility,
You will choose another woman to be your wife,
You ready to face her parents to make her be yours.
How about me?
You will never know that I'm the one who love you the most,
But it's never enough to make sure to be yours,
I feel to far away to reach you,
I'm the garden who miss the rain to watering my ground.
Ketika dua orang yang ku sayangi berbahagia, adakah alasan lain untukku berduka ?
Nov
00.28
Aku menyukai hujan yang sama sampai hari ini. Hujan yang rintik, burung-burung beterbangan di antara hujan, aroma tanah yang semerbak. Hujan yang mengingkanku pada waktu-waktu dimana aku mulai mengenal diriku sendiri.
Waktu itu hujan menyambut perjalananku, tapi aku tak menghindarinya. Kubiarkan diri ini basah sambil menikmati perasaanku yang bercampur aduk melihat kenyataan-kenyataan yang terjadi, terutama kenyataan bahwa apa yang kuperjuangkan dengan sungguh-sungguh, ternyata tidak bisa ku miliki sama sekali.
Memang tidak mudah menerima kenyataan, tapi bukan berarti itu semua tidak mungkin, kan?
Buktinya, sampai hari ini aku baik-baik saja. Dulu aku mengkhawatirkan keadaan hidupku apabila sesuatu yang kuinginkan itu tidak kudapatkan, nyatanya. Memiliki dan tidak memiliki, hidup ini tetap riuh, berjalan sebagaimana mestinya.
Bahkan, setelah beberapa masa terlewati. Kukira hidupku akan menderita, nyatanya aku tetap bisa berbahagia dengan alasan-alasan yang lain.
Hujan kembali jatuh, lebih deras. Suara derasnya berhasil menyembunyikan keriuhan pikiranku. Aku bahagia, sebab tidak memiliki sesuatu yang kuinginkan justru mengantarkanku pada hal paling berharga yang memang harusnya kumiliki sejak dulu, yaitu mengenal dan menerima diriku sendiri.
©kurniawangunadi
“Semoga apa yang kita jalani saat ini adalah doa-doa yang dulu pernah kita panjatkan. Entah kapan. Sampai kita lupa pernah mendoakan semua hal yang kita jalani ini.”
— Kurniawan Gunadi
Menyangka Bahwa Ia Adalah yang Terbaik
Dahulu, sempat segala sesuatunya disangka akan sesuai rencana. Segala perjuangan itu akan berakhir pada kemenangan. Lambat laun, seiring waktu dan bagaimana keadaan membisikan sedikit demi sedikit tentang segala kemungkinan yang terjadi.
Aku menjadi paham jika prasangkaku hanya sekedar prasangka. Tidak lebih. Dan kini kutemui, apa-apa yang terbaik itu tidak pernah ada dalam takaran manusia.
©kurniawangunadi
There are so many inspiring stories out there, about the happiness. Some of us thinking happiness is all about you got what really you want. About the struggles that you did now you can see the result. About the sweats become the sweetness. Yeah, I know we must have the destination. But, it's dunyah. How far you want go away to catch all of your ambitions? No, your ambitions will not over until you really go away from this dunyah. Out there some of us are happy is not because they get what they really want (dunyah) not about wealth or achievment. They are happy because they are grateful. I ever read some stories about people who struggle but they are happy to life like that. About the deaf man, blind man, poor family, but they keep grateful for all of Allah Subhanahuwataallah gave to them. Yeah, we must grateful and believe with all of destiny that Allah creates to us. Allah Subhanahuwataalah said we must patience and grateful, isn't it? I think we must contemplate again what for we live in this dunyah.
The Contemplation
110 Joicey Blvd, Toronto
Lovely white 😍
Keluarga yang Beruntung
Anak-anak yang beruntung bukan mereka yang bergelimang harta dan fasilitas mewah dari orangtuanya.
Anak-anak yang beruntung adalah yang mereka yang bergelimang hikmah dan keimanan dari orangtuanya.
Mereka beruntung karena kelak ajaran orangtuanya begitu dibutuhkan dalam menjalani setiap fase kehidupan.
Dan orangtua yang beruntung adalah mereka yang sudah tidak lagi hidup, tapi pahala terus mengalir untuknya, ialah doa dari anak-anak yang shaleh shalehah :)
Medan Juangmu
Krisis yang dialami oleh pemuda saat ini sangat berbeda dengan zamannya orang tua kita. Akses informasi yang begitu mudah kita dapatkan, banyak diantara kita yang tertekan karena merasa tidak menjadi apa-apa di waktu yang bersamaan, teman kita sudah sibuk dengan start-up nya, perjalananya, karirnya, karyanya, dan segala hal yang kita lihat dari unggahan mereka di linimasa.
Kita merasa tertantang tapi kita tahu, kita tidak memiliki keahlian di bidang itu. Kesukaan kita bukan di sana, dan kita semakin tertekan setelah kita melihat diri sendiri. Menjalani apa yang disukai ternyata belum membuat kita menjadi siapa-siapa. Apakah kita akan tetap mengikuti kata hati, atau beranjak mengikuti hal-hal terkini?
Saya kembali mengingat masa-masa sekitar 4 tahun yang lalu. Sewaktu saya masih kuliah. Di kelas besar, saya bukanlah siapa-siapa dibandingkan dengan yang lain. Perkara menggambar, saya kalah jauh secara keahlian. Perkara ide, masih juga tidak bisa menandingi kawan yang lain. Dan itu membuat ku sangat terpuruk. Saya bersaing di hal yang sama, dalam mata kuliah, dalam karya, dsb. Dan bertahun-tahun saya bersaing di hal itu, saya tidak pernah bisa mengalahkan teman saya yang lain. Bahkan dengan usaha terbaik yang bisa lakukan sekalipun, belum bisa.
Akhirnya, saya keluar dari medan persaingan itu. Saya menulis banyak sekali hal. Lepas dari kampus, teman saya berhasil masuk dan bekerja di perusahaan dan bidang yang dulu sangat saya inginkan dan saya berhasil melahirkan satu buku. Itu adalah perasaan “menang” pertama kali yang saya rasakan. Saya memilih medan persaingan yang berbeda, yang saya merasa bisa melakukannya. Dan menang itu bukan tentang saya bisa mengalahkan teman saya, tapi saya bisa memenangkan perasaan saya yang selama ini merasa terpuruk, merasa tidak beguna, merasa tidak bisa menjadi apa-apa, tidak memiliki kebanggan terhadap diri sendiri, dan perasaan inferior lainnya yang itu sangat sering dialami oleh pemuda difase Quarter Life Crisis.
Kini, sudah bertahun masa itu terlewati. Saya merasa tenang dan tenteram melihat bagaimana teman-teman saya kini meraih pencapaiannya masing-masing. Start-up nya yang tumbuh semakin besar, penghargaan yang ia terima, semuanya saya lihat di linimasanya. Saya tahu, medan juang kami berbeda. Saya tidak ingin bersaing untuk membuat hal yang serupa, tempat saya di sini, ruang sunyi -yang semakin nyaman kala hujan-, menulis berbagai macam perasaan yang tumbuh di hati manusia, merangkai-rangkai kejadian, menjadi tulisan-tulisan yang mengalir seperti sungai.
Bersaing dan berjuanglah di medan yang kita kuasai. Di ilmu yang kita tahu. Di tempat yang hati kita bisa merasa tentram. Di hal yang kita merasa Tuhan memudahkan jalan kita untuk beribadah kepadaNya.
Yogyakarta, 22 November 2017 | ©kurniawangunadi
OMG THAT'S I FEEL RIGHT NOW.
Ku tahu aku bukan lah lulusan arsitektur. Hanya lulusan teknik sipil terapan yang masih menginginkan menjadi seorang arsitek.
Ku tahu aku ga jago gambar, hanya berbekal "interest" menahun.
Sulit untuk mengatakan aku pengen kuliah S2 dan mengawali karir arsitekku.
Sulit dan teramat sulit saat ingin memilih tapi tak ada satu jua pun yang menghampiri.
Kenikmatan dunia yang hakiki yaitu bersyukur. Bersyukur atas takdirNya. dan seharusnya bersyukur lebih awal. Syukuri dulu lalu jalankan. Bismillah.
We Lived in
Kita itu hidup di masa yang jauh dari Rasulullah Sallallahualaihiwassalam. Tapi ajaran beliau sudah lengkap kita terima. Tinggal kita yang harus mencari sendiri, karna ada sebagian ajaran yang sudah membaur dengan adat tradisi. Dan sekarang kita adalah bagian dari masyarakat yang menjaga adat tradisi daerah setempat, tapi sayangnya ajaran yang seharusnya kita jaga malah diabaikan apabila berbeda dengan adat tradisi setempat. Terus apa bedanya kita dengan orang-orang terdahulu yang selalu beralasan, “Karna nenek moyang kami melakukannya, sehingga kami pun juga.” Bukankah bukti-bukti sudah ada? Sering kan mendengar kalimat itu? Come on, guys. Saat kita di yaumul akhir nanti siapa yang akan menolong kita? Nenek moyang? Orang-orang terdahulu? No. Pernah denger di Al-Qur’an ada kalimat yang intinya, “Pada hari itu seorang anak tidak mampu menolong ayahnya, dan seorang ayah tidak mampu menolong anaknya. semua orang sibuk dengan buku catatan amalnya sendiri.” Sedangkan Rasulullah yang akan bersaksi atas kita. Bersaksi atas orang-orang yang mengikuti ajarannya. Pernah dengar juga di Al-Qur’an khususnya di surah Al-Kahf ada kalimat yang intinya,”Orang itu mengira bahwa dia telah berbuat baik selama hidupnya tapi ternyata perbuatan baiknya itu di mata Allah tidak sama sekali dihitung.” Kenapa? Karena dia tidak beriman. Kalau kita beriman seharusnya kita mengikuti perintahnya, dan Rasulullullah Sallallahualaihiwassalam merupakan suri tauladan untuk kehidupan kita. Rahmatanlilalamin. Semoga Allah Subhanahuwata’alah selalu memberikan petunjuk untuk kehidupan kita, meneguhkan hati kita untuk selalu bersikap tegas dalam mengambil keputusan, dan semoga kita bisa berlaku sesuai dengan Sunnah.
House on Pali Hill Studio Mumbai
it’s so cute. I like a home which have a water reservoir in the middle of the room.
Terkadang gue suka mikir kalo di jalan ngeliat orangtua yang masih berusaha mencari rezeki Allah. Dengan segala keterbatasan mereka masih mau nyari berusaha mencari rezeki halal. Walau terkadang gue cuma bisa bantu doa dan janji gue, "One day I'll help you by helping your children or your grandchildren. One day I'll make my own school. InsyaAllah." Dan orangtua kayak gini yang selalu bikin gue "One Fire". Gue ga tau apa-apa. Allah yang lebih tahu. Disaat gue pusing mikirin rezeki orang-orang kayak ini cukup ga ya. Tapi Allah lebih tau apa yang ada di depan maupun di belakang. Seperti cerita nabi Khidir dan nabi Musa dalam surah Al-Kahf. Apa yang tampak tak selalu benar, begitupun sebaliknya. Sebenernya rezeki yang ga ternilai dan hadiah terbesar buat kita-kita yaitu dikasihNya waktu untuk mencari hidayah. Biar ketika menghadapNya kita bukan termasuk orang-orang yang merugi yang minta dikembaliin ke dunia. Mumpung masih dikasih kesempatan hidup di dunia pergunain dengan sebaik-baiknya biar jadi syafaat nanti di akhirat. Jangan pernah mengadaikan kehidupan akhirat hanya untuk kehidupan dunia ini. Kesusahan yang ada di dunia akan ada akhirnya, dan akan tergantikan dengan kehidupan kekal nantinya. Bagaimanapun harus siap dengan kemungkinan-kemungkinan akan diambilnya titipan-titipan ini. "Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur atau Barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (Q.S Al-Baqarah : 177)
Nov
In front of you, I always want to share my life. am I good enough? But I never want to change what I'm supposed to be. There are something in my life that you can't change. The characters. You can guide me and give me advises. In the end it's my authority to take it.
Nov