Surat, Untukmu.
Entah sudah berapa kali aku ingin mengirim sebuah surat untukmu, yang entah. Apakah untukmu itu untukku? Apakah untukmu itu untuk seseorang yang tidak aku kenal dengan benar di sana? Apakah untukmu itu untuk masa lalu yang tak bisa lagi kudefinisikan di masa kini dan masa depan nanti?
Siapa pun untukmu itu, beginilah surat yang ingin kusampaikan.
"Aku ingin menangis sesenggukan di pundakmu, lalu memelukmu erat. Aku ingin ada untukmu, sebagaimana kamu ada untukku sesuai inginku. Di saat yang sama, aku juga ingin diberikan ruang yang tak terlalu lebar untuk diri dan kesendirianku. Aku juga ingin memberikan ruang yang sama untukmu. Ini bukan tentang kesedihan maupun keputusasaan. Ini juga bukan tentang rasa kecewa. Sejujurnya, aku belum menemukan nama untuk sebuah rasa yang tak bisa kudeskripsikan dengan benar. Rasanya, ada hampa yang tak begitu menyesakkan dan tak begitu menenggelamkan, tetapi selalu ada. Hampa yang bukan tentang apa-apa. Hampa yang tidak membuatku lega, tetapi juga tak membuatku ingin berair mata. Hampa yang tiba-tiba ada, lalu memberi pertanyaan, "Kamu ingin apa? Bukankah segalanya sedang baik-baik saja?"
Di saat-saat seperti itu, aku selalu ingin menulis surat untukmu. Surat yang menyatakan bahwa aku memang baik-baik saja, tetapi ingin kamu ada. Kamu yang kembali lagi aku sebut sebagai entah, sehingga tak pernah bisa kutentukan juga akan kukirimkan surat ini ke mana. Lalu kubayangkan, kamu yang membaca surat ini akan tertawa tertahan dengan senyuman yang teduh dari tatapan mata penuh kehangatan, dan mengucapkan, "Kamu selalu seperti itu. Kamu tahu apa inginmu, tetapi berulangkali menahan dirimu untuk mengungkapkannya dan menjadikannya nyata. Sudah berapa surat yang kau tulis? Bukankah setidaknya sudah terkumpul satu buku penuh? Ini bukan pertama kalinya, dan tidak akan pernah menjadi terakhir kalinya. Tenang saja, aku tetap akan ada di sini, membaca semua tulisanmu, untukku yang entah. Terima kasih, ya."












