Alarm pukul 03.30 membangunkanku, mama, sepupu perempuanku dan kakak iparku subuh itu. Mama bergegas menyuruhku mandi, melepaskan pelukanku subuh itu.
Tadi malam, adalah malam terakhirku sebagai anak perempuan mama yang masih lajang, yang masih milik orang tuaku seutuhnya. Dalam beberapa jam lagi, aku akan menikah dengan pria pilihanku, pria yang selalu ku sebut namanya dalam doa agar semua yang kami persiapkan untuk hari ini dapat berjalan lancar..
Syahdu sekali subuh itu, aku shalat disusul dengan mama dan kedua perempuan yang tidur bersamaku. Aku chat dengan calon suamiku, subuh itu seakan kami masih belum percaya hari yang kami hitung dan tunggu tunggu dari tahun lalu datang juga.
Ketukan pintu kamar mengagetkanku, perias sudah datang. Ku dengar dari kamar sebelah, yang tak lain kamar calon suamiku pun mulai ramai. Iya, Semua riuh menggodaku, hariku menjadi perempuan dewasa akan dimulai dimulai dari shalat subuh dan datangnya perias. Satu persatu di pupurkanlah bedak dan lainnya ke wajahku, entah apa yang ku rasakan hari itu.
Aku bahagia aku akan menikah dengan pria pilihanku, tapi di sisi lain aku sedih, karena setelah akad nanti aku telah berpindah menjadi tanggung jawab suamiku. Apapun yang aku lakukan tidak lagi menjadi tanggung jawab orang tua ku, namun suamiku.Detik demi detik terlewati hingga saatnya tiba, waktu akad nikah akan dimulai.
Pihak keluarga pria menuju tempat akad kami, membawa beberapa seserahan sederhana dan tentu saja mas kawin, Semua berbaris katanya, memasuki ruangan akad. Aku tidak tahu persis apa yang terjadi disana karena aku memilih untuk tidak disandingkan saat prosesi Ijab Kabul, biarlah kami bersanding lagi setelah halal.
Dengan perasaan yang tidak tahu kemana arahnya, tangan yang mulai dingin, suara dari ruangan akad pun tidak terdengar sedikitpun aku hanya berdoa semoga calon suamiku lancar mengucapkan Ijab Kabul. Tiba - tiba datang salah seorang team WO, memintaku untuk keluar, menuju ruang akad karena Prosesi Ijab Kabul sudah selesai. Semua mengucapkan selamat atasku, yang sudah resmi menjadi istri orang. Perasaan yang belum pernah ku rasakan sebelumnya, dan tidak pernah terpikir olehku, aku sudah menikah. Aku resmi menjadi istri orang :’)
Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam ruangan di iringi oleh kedua kakakku, dan keponakanku yang manis Raissa :’) ku lihat di ujung sana, pria memakai baju adat Padang menungguku berdiri di samping kursi kosong di sebelahnya.
Dia lah yang akan berjuang bersama sama denganku sepanjang hidupnya, bertanggung jawab atasku, dialah yang memilihku untuk menjadi Ibu untuk anak-anaknya nanti, dialah yang sudah siap menerima segala kekuranganku dan memilihku untuk menghabiskan waktu menua bersama denganku sepanjang hidupnya. Alhamdulillah, tak henti-hentinya ku panjatkan syukur kepada sang penulis skenario terbaik pemilik alam semesta.
Alhamdulillah, alhamdulillah, atas izinmu semua berjalan dengan baik ya Allah.
Ku lihat Ayah ku di hadapan pria itu, Pak, tugas bapak sudah selesai. Terimakasih telah mendidikku, menyayangiku dari aku lahir hingga aku resmi menjadi istri orang. Terimakasih mau melepasku bersama pria ini, pria yang beberapa bulan lalu datang memintaku menjadi pendamping hidupnya, yang tinggalnya jauh di timur Indonesia sana, yang selalu membuat Bapak bertanya “Apa bapak sanggup ditinggal yessy, jauh kesana?Apa bisa dia menjaga dan menyayangi anak bapak seperti bapak menjaga kamu selama ini?”
Selalu jatuh air mataku, ketika bapak bicara itu, karena aku pun tidak tahu apa aku bisa jauh dari Mama dan Bapak selepas ini..
Prosesi Akad selesai, dilanjutkan dengan sungkeman, diasana aku merasakan aku akan jauh dari orang tua ku, rasanya belum cukup aku membuat Mama dan Bapak bangga dan bahagia atasku, tapi mereka harus melepasku. Ku peluk ku cium kedua orang tuaku, ku haturkan maaf dari hati yang paling dalam. Maaf selama ini, aku belum menjadi anak yang baik untuk Mama dan Bapak, maaf selama ini belum banyak yang bisa ku berikan untuk Mama dan Bapak, yang ku bisa hanya mendoakan Mama dan Bapak agar selalu sehat, murah rezeki dan bahagia lahir bathin agar bisa melihat dan menimang cucu dariku. Pria yang menjadi suamiku, pun menangis saat prosesi sungkeman, ku lihat betapa dia menyayangi Ibu dan Bapaknya. :’)
Aku pun berpindah untuk sungkeman kepada mertua ku, ku peluk dan ku ucapkan terimakasih karena sudah merestui aku dan anak sulungnya menikah, terimakasih karena telah mau berbagi kasih sayang anak sulungnya denganku, terimakasih karena telah mendidik dan membesarkan anak sulungnya hingga ia matang dan berani bertanggung jawab atasku. Doakan kami, Pak Bu agar bisa menjadi seperti kalian yang bisa melewati segala kerikil kecil di rumah tangga kami nanti, doakan kami Pak, Bu agar kami bisa seperti kalian saling mengayomi, mencintai, dan mengayomi hingga tua. Doa kalian adalah kekuatan kami..
Sedikit kubagikan moment terbahagia kami, semoga kelak ini dapat mengingatkan kami bahwa ikatan yang dipersatukan oleh Allah dan disaksikan para malaikat dan manusia tidak bisa dipisahkan. Dibalik itu, suami ku telah berjanji kepada sang pemilik semesta dengan Ijab Kabul atasku, yang tak lain arti yang ia ucapkan adalah “Maka aku tanggung dosa-dosanya si fulana dari ayah dan ibunya, dosa apa saja yang telah dia lakukan, dari tidak menutup aurat hingga ia meninggalkan sholat. Semua yang berhubungan dengan si fulana, aku tanggung dan bukan lagi orang tuanya yang menanggung, serta akan aku tanggung semua dosa calon anak-anakku Lalu bagaimana jika suami gagal dalam menjalankan kewajiban dan tanggung jawabnya?”Maka aku adalah suami yang fasik, ingkar dan aku rela masuk neraka, aku rela malaikat menyiksaku hingga hancur tubuhku.” (HR. Muslim) ”.
Sungguh berat perjanjianmu dengan Tuhan. Semoga kita bisa menjaga, dan sama - sama menjadi manusia yang lebih baik agar bisa berkumpul di Surganya kelak. aamiin allahuma aamiin.
Terimakasih telah memilihku, untuk mendampingimu seumur hidupku.
Aku memilihmu untuk menjadi imamku, aku yakin bahwa kamulah yang terbaik untuk menjadi Ayah dari anak-anakku.
Harapan dan semua mimpi kusandarkan padamu, dan akan banyak tanggung jawab yang kupikulkan di pundakmu setelah prosesi akad itu.
Jangan pernah bosan untuk sama sama belajar, mengalahkan ego dan berubah menjadi manusia yang lebih baik bersama ya.
Sebentar lagi manusia baru dalam rahimku insyaAllah akan lahir, semoga kita bisa sama sama menjadi manusia yang lebih baik, beriringan membesarkan buah hati kita bersama.
Aku mengasihimu, aku menyayangimu suamiku.
Mari kita sama-sama berjanji untuk melewati semua bersama, susah senang, sakit sehat bersama. Aku berjanji, untuk menghabiskan dan mengabadikan sisa hidupku untuk menjadi istrimu dan Ibu dari anak-anakmu.
Seperti janjimu di hadapan orang tuaku untuk senantiasa menjagaku sampai kita sama-sama tutup usia.
Aku menyayangimu Randi Muhammad.