[Belajar Model Kaderisasi HOS Tjokroaminoto : "Sang Raja Tanpa Mahkota"]
Sang raja tanpa mahkota begitulah kaum Kompeni Belanda menyebutnya, lihai cerdas, dan bersemangat. Di takuti dan juga disegani lawan – lawan politiknya. Perjuangnya dalam membela hak kaum pribumi saat itu benar – benar menempatkan dirinya menjadi seoarang tokoh yang benar-benar dihormati pada saat itu. Terlahir dari keluarga bangsawan tak membuatnya bersikap angkuh, justru karena itulah ia akhirnya menjadi sebuah motor penggerak kemerdekaan bagi Indonesia disaat semua manusia tertidur dalam belaian kompeni Belanda.
Namun, diluar semua perjuangan dan perlawanannya terhadap Kolonial Belanda kala itu, terdapat hal menarik dari kisang hidup "Sang Raja Tanpa Mahkota" ini, yaitu ia tetap mementingkan 'punggawa-punggawa' pengganti perjuangan setelah dirinya ini. Ya, dia menerapkan proses 'Kaderisasi' yang Luar biasa kepada para cikal bakal tokoh Kemerdekaan Indonesia.
kediaman HOS Tjokroaminoto telah menjadi tempat kaderisasi bagi pemimpin-pemimpin besar bangsa Indonesia. Sebut saja Sukarno, Semaun, dan Kartosuwirjo. Yakni, Sukarno dengan nasionalismenya, Semaun dengan pandangan komunisme, dan Kartosuwirjo dengan pandangan politik Islam. Tampak HOS Tjokroaminoto memunculkan tokoh-tokoh yang beragam pandangan.
Namun diluar beragamnya pemikiran para tokoh 'hasil didikan' HOS Tjokroaminoto ini, kita bisa melihat begitu luar biasanya sosok "Sang Raja Tanpa Mahkota" ini melakukan seperti materi yang saya dapatkan ketika acara berjudul "Leaders & Leadership" oleh Pak Bachtiar Firdaus, selaku Direktur Rumah Kepemimpinan, bahwa salah satu bukti 'Kepemimpinan' yang besar adalah melakukan Misi Terberat dalam sebuah Kepemimpinan, yaitu KADERISASI.
Dalam Perspektif Islam, Allah juga berfirman dalam Al-Quran di Surat An-Nisa : 9 yang artinya, "Dan Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak (generasi) yang lemah...". Dari ayat ini kita dapat melihat betapa 'perhatiannya' Islam terhadap generasi - generasi setelah mundurnya seseorang dari sebuah pergerakan, bahwasanya ia harus melakukan sebuah proses yang dinamakan "Kaderisasi" atau "Regenerasi".
Namun betapa sedihnya kita ketika melihat realita yang terjadi pada zaman ini, dimana terdapat beberapa atau malah banyak dari pemimpin-pemimpin yang telah terpilih sekarang, hanya mementingkan kinerja dia hanya pada masa ketika ia menjabat, dan kinerja tersebut haruslah terlihat oleh 'mata' publik agar ia dapat terpilih kembali pada proses pencalonan berikutnya, contohnya pembangunan infrastruktur yang dampaknya hanya jangka pendek saja.
Diluar dari hal itu, Pak Bachtiar Firdaus dalam sesinya, sangat menekankan betul bahwasanya perlu yang namanya pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimana SDM ini akan mewarisi tongkat estafet perjuangan yang sedang atau telah kita lakukan demi Terciptanya Proses Perjuangan yang berkesinambungan dan Terarah. Semua itu butuh kesabaran karena proses ini membutuhkan waktu yang relatif lama, bisa 10 atau 20 tahun kemudian, tetapi percayalah bahwa dampaknya akan sangat luar biasa bagi masyarakat luas.
So, bangunlah SDM sedini mungkin agar tongkat estafet perjuangan kita tidak berhenti hanya sampai kepengurusan atau jabatan kita berakhir. Harus ada yang menggantikan kita dalam mewujudkan Indonesia yang lebih Baik dan Bermartabat serta Kebaikan dari Allah SWT.
#SebuahRefleksiDiri
#UntaianEmasBangBachtiarFirdaus
#DemiIndonesiaYanglebihBaikdanBermartabat
(Source : www.Republika.co.id)