Atas Nama Matahari di Bulan April
Dari mana keberanian itu datang? Dari proses-proses yang tidak dipaksakan.
Suatu malam aku ditanya Amira, “apa yang membuatmu berani menikah?” Hmm apa ya? Seingatku, di usiaku yang ke 13 tahun, aku justru punya keberanian untuk tidak menikah. Hal yang pasti akan dipertanyakan gadis remaja lainnya seusiaku, karena mereka memimpikan menikahi Justin Bieber, Greyson Change atau Kim Ki Bum.
Tapi sekarang, memutuskan menikah di usia 27 tahun justru membuahkan pertanyaan dari teman 27 tahunku yang lain, pertanyaan kenapa kok berani menikah.
Bagiku, sejak usia 13 tahun, menikah adalah peristiwa mengerikan; antara menundukkan atau ditundukkan. Bicara penundukan, adalah kata kerja yang sangat politis; arena yang aku hindari seumur hidup. Sama halnya hati-hati jangan terlalu benci, nanti jadi cinta, di usia ke 18 aku sah menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.
Di usiaku yang ke 25 aku bertemu laki-laki setinggi 198cm ini, yang membawa narasi bahwa pernikahan adalah peristiwa politik, penjelasannya sangat rumit, ngga cocok untukku yang ber-IQ 114 ini. Oh, ga heran, dia IQnya 135.
Aku dan laki-laki ini sering berdiskusi esensi pernikahan. Seperti orang yang jijik tapi mau. Seperti orang yang benci jadi cinta. Kami membenci konsep berbagi dan kompromi dalam berpasangan, tapi kami tau kami butuh saling menemani dengan satu orang saja.
Meskipun beda tahun, kami sama-sama lahir saat matahari sedang berada di rasi Aries, katanya bikin orang sradak sruduk. Aries punya planet yang mewakilinya, yaitu Mars sang dewa perang. Komunikasiku dan laki-laki ini terkesan selalu menantang dunia, memerangi kehidupan, tapi sebenarnya kami sedang menantang dan memerangi diri sendiri.
Aku bahkan ngga ingat kapan keberanian untuk tidak menikah berubah jadi keberanian untuk menikah. Aku bahkan ngga tau, kalau di sisi kehidupan lainnya, kehidupan laki-laki ini, ia diyakini orang-orang akan menjadi biksu, tapi kemudian memutuskan menikahiku.
Aku ngga ingat karena tidak ada satu hal pun yang aku paksakan di antara kami. Kami berpasangan tanpa proses saling menggoda dan memamerkan bulu merak, kami berpasangan secara tiba-tiba.
Memutuskan menikah pun secara tiba-tiba. Dan di luar dugaan, kami melalui semua hambatan tanpa paksaan. Kami tidak memaksa untuk tertawa, kami tidak menahan untuk menangis atau pun marah-marah. Semua hanya kami lalui, dengan harapan yang sama: kami memiliki kebahagiaan kami masing-masing.
Aku menjawab pertanyaan Amira, “dalam kepercayaanku, tujuan kelahiran adalah untuk menemukan kebahagiaan sejati, pun tujuan berpasangan. Kebahagiaan sejati dalam berpasangan bentuknya bisa beragam; pembagian peran yang jelas, pengakuan publik, sampai memiliki keturunan. Sayangnya, hal tersebut tidak bisa dilakukan secara maksimal tanpa diakui negara secara hukum. Maka di sini aku merasa butuh adanya pernikahan.”