“When i see your facee.....”

blake kathryn

祝日 / Permanent Vacation

#extradirty

ellievsbear

Origami Around

Product Placement
Show & Tell

Discoholic 🪩
styofa doing anything
noise dept.

izzy's playlists!
Today's Document

JBB: An Artblog!
YOU ARE THE REASON

⁂
taylor price
sheepfilms
Claire Keane
Not today Justin

if i look back, i am lost

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from T1

seen from United States
seen from Germany
seen from Türkiye
seen from United States
seen from France

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
@titahnium-blog
“When i see your facee.....”
Coret coret
Introvert. Dari dulu, tiap awal masuk ke jenjang pendidikan lebih tinggi (missal: SD ke SMP, SMP ke SMA and so on) pasti saya nggak punya banyak temen. Mungkin hanya ada satu dua orang yang deket. Itu aja. Kalo dibilang introvert sih nggak juga ya, saya ini orangnya bodor, banyak omong dan suka jalan buat mereka yang udah kenal deket. Nah masalahnya ini, gimana penilaian orang-orang yang nggak saya kenal deket??
Masa peralihan dari SMP ke SMA buat saya adalah hal tersulit dalam hidup. Bahkan buat saya masa-masa itu adalah masa yang lebih sulit daripada harus bertahan hidup sebagai perantau di Surabaya. Mereka yang nggak kenal, mungkin akan menyebut saya introvert atau anti social. Tapi setelah menggali ke dalam diri saya lebih dalam, problem saya bukan introvert (karena menurut saya, saya ini bukan tipikal orang introvert). Problem yang saya hadapi adalah; saya susah beradaptasi dengan lingkungan baru. That’s all.
Butuh waktu satu semester buat deket sama teman-teman saya di kelas 10 dulu. Dulu temen ngobrol di kelas 10 palingan Cuma Afton, Endy, Javas, Berty sama Linda. Selebihnya, saya sungkan buat starting a conversation. Jadi ya walopun papasan sama teman yang lain, ya Cuma diam aja. Dan itu satu semester, bayangkan. Setelah bisa ikut blend sama temen sekelas sih, barulah mereka bisa merasakan bahwa saya ini bukan seperti yang mereka pikirkan sebelumnya.
Masa-masa kesepian di kelas 10 itulah yang membuat saya sangat akrab dengan media social, aktif menulis Cuma buat ngeyakinin diri sendiri bahwa emang sebenarnya saya nggak sendiri. Banyak juga temen-temen di dunia maya yang akhirnya jadi akrab di dunia nyata. Kalo dipikir-pikir sedih ya, saya emang sesendiri itu
Kalo kelas 11 sama 12 sih nggak perlu ditanya lagi. Soalnya temen-temen udah diatas rata-rata semua ketidakwarasannya wakakakaak dan disitulah kemudian bertemu belahan jiwa(?). Jadi jarang aktif di media social juga, karena terlalu enjoy di dunia nyata. Memasuki kuliah, kayaknya pola sama bakal terulang lagi. Walopun udah punya circle sendiri tapi ya kadang ngerasa masih butuh berteman sama lebih banyak orang. Tapi sekeras apapun saya memaksa buat nyama sama situasi baru, sekeras itu juga dari dalam diri saya berontak bahwa saya benar-benar nggak nyaman dengan situasi ini.
Ah, masi 20 tahun. Masi bisa belajar lagi buat adaptasi dan antek anteknya. Pertanyaannya, sampai kapan?
Udah ah cape ngetiknya.
kangen krucil krucil ini
Cerpen : Rapi
Tidak ada yang lebih rapi menyimpan perasaannya kecuali kamu, sepertinya begitu. Setelah aku tahu berlembar tulisanmu memenuhi ruang kamarmu. Berjilid-jilid pikiran dan perasaan terikat dalam susunan aksara yang ditulis tangan dengan rapi, ditumpuk bersusun dengan urut.
Aku duduk membaca ribuan kata itu sejak pagi di dalam kamarmu. Kamar yang semakin sepi ketika ditinggalkan pemiliknya, selamanya. Aku tidak mengerti bagaimana kamu bisa menjalani hidupmu dengan cara seperti ini, sendirian, dan tulisan.
Aku, seorang polisi yang sedang bertugas mengusut kemana pergimu bebeberapa hari ini. Orang tuamu melaporkanmu hilang sejak terlihat terakhir kali di halaman belakang rumah. Aku masih duduk memelajari semua kemungkinan.
Kita pernah berteman dulu ketika SMA. Aku hanya mengenalmu sebagai orang yang pendiam, begitu rapat mengunci bicaranya. Aku membaca tumpukan halaman itu, aku percaya bahwa orang tuamu mungkin belum pernah membaca ini semua.
Kita pernah duduk di bawah lampu taman di halaman sekolah, berbicara tentang kemungkinan sepuluh tahun sejak hari itu. Hari itu adalah hari ini.
“Kira-kira apa yang terjadi pada kita sepulih tahun lagi ya? Sekarang 17 September 2005, pada tanggal dan bulan yang sama sepuluh tahun lagi, kita sedang apa ya?” katamu waktu itu sambil memandang langit.
Hari ini, pada hari yang sama, aku sedang mencarimu. Aku membaca lembar ke-500. Sebuah tulisan tentang suatu tempat, tentang suatu rahasia yang dulu pernah kita sepakat menjaganya. Aku menemukanmu.
Aku tersenyum. Aku tahu kamu ke mana.
©kurniawangunadi
Gaya Hidup
Kapan terakhir kali kita melihat teman-teman kita yang dulu begitu sederhana? Dengan pakaiannya yang terlihat tidak begitu mencolok, potongan rambutnya yang biasa, tidak sibuk dengan handphonenya dan begitu banyak kesederhanaan lain yang bisa ditemukan?
Hari ini, seiring waktu semuanya telah berubah. Gaya hidup ditempat menuntut ilmu di kota besar telah turut memengaruhi gaya hidupnya. Kita pun tidak bisa menafikan bahwa itu adalah sebuah efek dari rentetan panjang interaksi seseorang dengan teman dan lingkungan.
Terpaan media, kemampuan finansial yang memadai, ditambah dukungan media sosial untuk mengunggah aktivitas yang pada dasarnya hari ini adalah gaya hidup. Pakaian tidak lagi menjadi sekedar pakaian, makanan tidak hanya lagi untuk mengeyangkan, olahraga pun tidak lagi hanya untuk menyehatkan dan rutinitas, semuanya telah menjadi gaya hidup. Aktivitas yang menuntut nilai lebih baik dari segi tempat, waktu, fasilitas, dan biaya.
Kita tidak bisa menyalahkan dan hal ini pun tidak tentang salah dan benar. Kita, mungkin hanya aku saja, rindu sekali dengan sosok-sosok sederhana. Orang-orang yang bersedia tampil sebagai dirinya sendiri, orang-orang yang tak segan untuk mengemukakan pemikirannya.
Begitu banyak pemikiran yang terbeli oleh gaji jutaan, begitu banyak kesederhanaan yang tergadai di tempat makan, begitu banyak kebijaksanaan yang hilang di jalanan. Di mana lagi bisa kita temukan yang demikian, kecuali kita mau berjalan menelusuri negeri ini. Menemukan orang-orang yang bijaksana dan sederhana dan kita belajar darinya. Belajar bagaimana membuat hidup ini bahagia tanpa memikirkan jumlah uang, pekerjaan mapan, dan ketakutan pada kemiskinan.
Yogyakarta, 21 September 2015 | ©kurniawangunadi
The saddest part of loving you is, seeing you fall in love with someone else
"Nothing can hurt you, unless you let them to."
Alexander Thian