It’s almost 4 am when I start to write this. Karena mata sedang sulit terpejam dan terlalu banyak pikiran yang berkeliaran. Jadi, sebaiknya dituliskan (?)
“Kamu mau nikah nggak, sama aku?”
Well, let’s start with that.
Ada yang udah pernah ditanyain itu? Me? Yes, few times. Itu pertanyaan yang menggiurkan. Seriously. Beberapa orang akan sangat senang jika ditanyai demikian. Eh, I’m talking about woman, ya. Cowok biasanya malah akan pusing kalau ditanyain beginian. True? Haha.
Okay, mari kita kerucutkan lagi topik ini hanya pada perempuan usia 23 – 30 tahun. Usia “sedang butuh diseriusin”, usia “butuh kepastian”, usia “temen-temen udah pada nikah”, usia “dengan segala kegalauannya”, usia “udah lelah kerja pengin dinikahin aja”, you name it.
Percayalah, bagi perempuan di usia yang gue sebutkan di atas akan senang dengan pertanyaan itu. Apa gue aja yang sok tahu? Gue senang sih ditanyai itu. Menggiurkan. Beneran.
Pengin langsung jawab, “Yes, I do!” biar kayak di film-film romance. Tapi, hey, hidup gue kan bukan film romance ya! So, I said no.
Gue pernah tanya temen-temen yang udah nikah.
“Apa yang bikin lo memutuskan untuk menikah? Menikah dengan istri/suami lo sekarang?”
Jawabannya beragam, unik, dan lucu-lucu (at least menurut gue).
“Ga tau juga sih, lagian udah umurnya terus udah punya pasangan juga. Gue ajak nikah dia mau ya udah.”
“Capek pacaran lama-lama buat apa ngabis-abisin waktu. Kalau serius ya udah nikah aja.”
“I don’t know. I just said yes when he asks me.”
“Udah capek nyari-nyari yang baru lagi.”
Sometimes gue wondering juga sih apa yang membuat mereka tahu bahwa pasangannya yang sekarang adalah The One. Soulmate. Atau apa pun itu sebutannya. Lalu, pertanyaan lainnya adalah kok bisa yakin bahwa saat lo melamar atau ngajakin anak orang nikah itu adalah saat yang tepat. I mean, gimana kalau ternyata itu bukan waktu yang tepat atau orang yang tepat? How do you assure that?
Tapi jawabannya balik lagi ke “I don’t know. It just happen.”
Lucu ya, takdir itu. Lo ga tau alasannya tapi percaya aja. Bahwa saat itu adalah waktu yang tepat. Bahwa dia adalah orang yang Tuhan kirim untuk lo habiskan waktu bersama dengannya.
My friend once gave me an advice (a married one ofcourse), “Kalau lo nunggu sampai lo yakin 100% sama tuh orang, Tin, lo ga bakalan nikah-nikah. Ga ada orang yang benar-benar yakin bahwa dia adalah jodoh lo atau saat itu adalah waktunya lo. Lo berdua sama dia harus belajar untuk meyakinkan diri bareng-bareng. Belajar menumbuhkan rasa percaya itu sampai benar-benar 100%.”
Tapi ya ndak bisa. Gue butuh sesuatu yang lebih dari itu. Sesuatu yang membuat gue bisa bilang “yes” dan sesuatu itu yang belum gue temukan hingga sekarang.
“Kamu mau nikah nggak, sama aku?”
Gue udah bilang ini adalah pertanyaan yang menggiurkan. Someone ever asked me this once. Gue sempat ragu pada jawaban andalan “no” gue sebelum akhirnya gue tolak juga dia. He is a good person, tho. Laki-laki dengan niat yang baik, agama yang baik, tujuan yang baik, keluarga yang baik. Jadi, gue sempat terpikir, mungkin Tuhan kirimkan dia untuk gue agar gue dibimbing di jalan yang lebih baik (since gue hidup terlalu menyimpang belakangan ini haha). Maybe this is a God’s sign to lead me in His way. Biar gue hidupnya lebih bener, tidak melulu soal duniawi, biar inget mati.
But I can’t. Gue tidak mendapatkan ‘klik’ untuk bilang iya. Tapi keinginan untuk bilang iya masih terus ada. Gue bahkan berpikiran begini … “Apa gue terima aja? Toh ga ada yang tahu dia jodoh gue apa bukan, niatnya baik kok. Gimana kalau nekat aja? Said yes and being somebody’s wife in next year sounds cool, isn’t it?” Iya, gue pernah berpikiran segila itu. Jumping in to a new stage of life. Modal nekat.
Tapi untungnya ga jadi. Ternyata nyali gue tidak sebesar itu haha. Mungkin juga karena saat itu gue sedang investing feeling for somebody else.
Cerita lainnya tidak perlu diuraikan di sini, terlalu panjang nanti.
Gue dan teman gue sedang mempertanyakan keputusan teman gue (iye, temen gue ada banyak) yang menerima lamaran dari laki-laki yang sebentar lagi akan jadi suaminya. “Kok dia bisa yakin ya?”
Lalu, gue dalam hati menjawab sendiri, “Because that question is hard to resist, darling.” I’ve been there.
Kenapa tiba-tiba kepikiran soal pertanyaan itu sih?
Ga tau, namanya juga lagi ga bisa tidur. And someone asked me that question again, recently. Dan seperti biasa, jawaban andalan gue adalah “Hahaha … don’t be silly.”
Lantas gue balik nanya ke diri gue sendiri, “Did I say too many no?”
Tapi, di balik semua ke-random-an tulisan ini, gue cuma pengin bilang satu hal sih. If (s)he is really The One, you wouldn’t think twice to say yes. You will automatically say yes the second (s)he asks you.
Biasanya sih gue selalu menambahkan ini jika ada yang menyakan gue hal itu.
“Coba bayangkan orang di hadapan lo ini sebagai orang yang akan lo lihat pertama kali saat lo bangun dan lo lihat terakhir kali saat lo tidur. Do that again. Every single day. For the rest of your life. Siap? Kalau memang iya, go on. Kalau enggak, jangan dipaksa. Inget, itu seumur hidup. You don’t just quit when you’re sick of it. Jangan terbawa suasana karena pertanyaan yang menggiurkan. Jangan cuma pengin merasakan euforia menikah seperti teman sejawat lainnya. Jangan menikah karena lo sudah menyerah pada hidup yang makin ga asik aja. Serius. Ini bukan pacaran yang ketika lo udah menyerah tinggal putus dan cari baru aja. Urusan yang satu ini lo janjinya sama Tuhan. Ga main-main, kawan.”
(t)
13.8.17 5.10am