Lalu, ketika aku sudah mampu mencerna nya dengan baik, dengan mudahnya kau hancurkan semuanya. Aku kira kamu lebih dewasa dan tidak akan sejahat ini.
Kamu orang pertama selama aku hidup yang berhasil menyakitiki dengan baik.

izzy's playlists!
Today's Document

JBB: An Artblog!
YOU ARE THE REASON

⁂
taylor price
styofa doing anything
sheepfilms
Claire Keane
Not today Justin

if i look back, i am lost

Kiana Khansmith
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Keni
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

#extradirty
NASA
RMH
Sade Olutola

Kaledo Art
seen from United Arab Emirates

seen from Malaysia
seen from China
seen from Germany
seen from United States
seen from T1
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Germany

seen from Malaysia

seen from Germany
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from Honduras

seen from United States
seen from United States
seen from India

seen from United States
seen from United States
@tntgasa
Lalu, ketika aku sudah mampu mencerna nya dengan baik, dengan mudahnya kau hancurkan semuanya. Aku kira kamu lebih dewasa dan tidak akan sejahat ini.
Kamu orang pertama selama aku hidup yang berhasil menyakitiki dengan baik.
bagaimana caramu?
mereka bertanya bagaimana caramu bertahan. bagaimana caramu menavigasi hidupmu. bagaimana caramu membuat keputusan ketika tidak ada pilihan yang enak. bagaimana caramu mengemas kembali, menata lagi.
jawabanmu satu: kamu membiarkan dirimu sembuh. lebih tepatnya, kamu memutuskan untuk sembuh.
kamu membuka hatimu lebar-lebar. kamu meyakini bahwa Allah-lah yang menghendaki setiap kejadian. bahwa Allah menyayangimu dengan cara-Nya. bahwa Allah tidak pernah meninggalkanmu.
kamu belajar untuk menerima kebaikan dan ketulusan. tanpa berprasangka, tanpa curiga, tanpa ada tapi-tapinya. kamu belajar untuk memaafkan berulang-ulang. bukan memaafkan orang lain atau sesuatu lain, melainkan dirimu sendiri. kamu memaafkan dirimu setiap hari.
kamu belajar tertawa untuk gurauan yang mungkin tidak sepenuhnya lucu. kamu belajar membuat lelucon. kamu belajar meromantisasi hal-hal sederhana di kehidupan sehari-harimu: hangatnya matahari, wangi selimut yang baru dicuci, ketuk ketik keyboard ketika kamu menulis, lembutnya sajadah yang menampung air matamu.
kamu belajar mensyukuri setiap karunia. kamu belajar melihat, menilai, dan menerima segalanya seapa-adanya. kamu belajar tidak tergesa-gesa. kamu belajar menikmati setiap gerakan, sentuhan, tarikan napas, langkah.
kamu belajar hidup lagi.
Kadang yang kita butuhkan bukan langkah lebih cepat,
tapi jeda untuk mengingat arah.
Menepi sebentar dari riuh dunia,
agar hati kembali jujur pada tujuan.
Karena tak semua yang cepat itu tepat,
dan tak semua yang lambat itu tertinggal.
Ada saatnya berhenti justru menyelamatkan,
membuat langkah berikutnya lebih tenang
dan lebih bermakna.
- Makassar, 1 Februari 2026
Tak Mekar Sempurna
Tidak ada bunga cantik yang mekar tergesa, ia menunggu matahari, menahan hujan tanpa suara. Tumbuh dari tanah yang kadang luka, tetap berdiri meski angin sering bertanya.
Aku selalu berpikir diam-diam, bagaimana jika aku bukan salah satu dari mereka yang mekar dalam senyap Bagaimana jika aku hanya benih yang tertinggal, yang tak sempat menjadi indah, tak sempat jadi harum di segala arah?
Mereka berkata, semua akan indah pada waktunya, tapi bagaimana jika waktuku tak pernah tiba? Jika aku hanya daun yang gugur sebelum sempat mengembang, adakah yang tetap memanggilku bagian dari musim yang layak dikenang?
Kadang aku iri pada bunga yang tumbuh anggun, yang tahu caranya dipuji tanpa perlu berujar satu pun. Sementara aku, menunggu dengan dada cemas, pada musim yang entah akan datang, atau hanya sekadar lewat.
Mungkin aku tidak akan jadi bunga yang dipetik, hanya tumbuh di balik semak, nyaris tak terlihat. Tapi bukankah keindahan juga bisa diam? Tak semua yang bersinar harus disaksikan dengan riuh kagum.
Aku belajar bahwa mekar bukan soal rupa, tapi soal bertahan saat diragukan semesta. Tentang menjadi diri sendiri, meski perlahan, meski tak ada yang menyebutku pantas dalam ucapan.
Dan jika pada akhirnya aku bukan bunga yang cantik, tidak mengapa aku tetap tumbuh meski tanpa musik. Karena bukan soal siapa yang terpandang di taman, melainkan siapa yang bertahan meski tak pernah dijanjikan harapan.
Doaku ketika merasa khawatir
Ya Allah, aku menitipkan rasa khawatir ini kepadamu sebagaimana Engkau memberiku rasa bahagia.
Aku percaya atas segala ketidakpastian di hadapanku ini, Engkau menjaganya.
Bahkan di dalam perasaan yang tersesat ini, yang tak tau arah dan tidak mengerti harus bagaimana.
Engkaulah yang sebetulnya membolak-balikan keraguanku.
Yang kemudian membuat kakiku berani melangkah, mulutku berani mengutarakan sepakat.
Hanya Engkaulah mata angin yang menunjukan arah di dalam hati dan sanubari.
Lantas mengapa aku harus meragukanmu? Untuk apalagi aku mempertanyakan hidup yang telah Engkau anugerahi.
Jika semua yang aku jalani ini, adalah juga ketetapanMu.
Terima kasih telah menitipkan rasa khawatir, sebagaimana Engkau menegurku untuk kembali mengingatMu.
—ibnufir
Ceritamu tepat dua hari sebelum lebaran itu masih kuharap hanyalah mimpi. Kamu terlihat tampak tenang, meski aku tak tahu pasti apa yang kamu rasakan.
Lalu aku? Aku menangis sepanjang malamku. Bagaimana aku bisa menenangkanmu, sedangkan aku lebih terpukul daripada dirimu.
Maaf ya, aku ga bisa jaga diriku sendiri. Ujarmu kala itu.
Mungkin sudah skenario Nya Tuhan mas, jawabku kala itu.
Mungkin di depanmu aku tampak sedikit tenang, tapi asal kamu tahu mas, menangis menjadi makananku sejak saat itu. Aku takut. Sungguh takut...
Sepulang kerja dan Lampu Merah
Di tengah rasa lelah setelah seharian bekerja, aku masih harus berkendara menuju rumah. Melewati macetnya jalanan Bandung yang seringkali membuat kepala penat.
Sampai di sebuah perempatan, lampu merah menyala, menjadi kesempatanku untuk beristirahat dalam waktu yang singkat sambil memaknai banyak hal yang kutemui di sekelilingku; ada seorang anak yang mengamen, segerombolan mahasiswa yang mengumpulkan donasi, dan para pengendara dengan berbagai macam kondisinya masing-masing.
Kali ini, yang menjadi daya tarikku adalah seorang pengendara di sebelahku. Seorang ibu dengan sebuah tasbih digital yang melingkari jari telunjuknya. Ketika lampu merah menyala, ia gunakan kesempatan waktunya untuk berzikir. Bahkan aku yakin, mungkin beliau juga tetap berzikir saat sedang berkendara.
Ya Allah, aku cemburu sekali sama hamba-hamba-Mu yang bisa berusaha untuk mengingat dan melibatkan-Mu setiap saat. Cemburu sekali sama hamba-hamba-Mu yang dimudahkan untuk melakukan ibadah rutin secara konsisten dan berkelanjutan.
Tidak akan mungkin kegelisahan, ketakutan, dan kekhawatiran dapat menghampiri hati seorang hamba yang selalu mengingat Allah.
Aku percaya itu. Jadi selama ini, kalau aku masih merasa gelisah, takut, dan khawatir itu karena aku yang belum mengingat Allah di setiap kondisi yang aku lewati. Atau mungkin keyakinanku pada Allah yang belum penuh.
Ya Allah tolong permudah, jangan Engkau persulit. Semoga hati selalu dimudahkan untuk menerima hidayah yang menyapa.
Bismillah laa hawla wa laa quwwata illa billah.
Bandung, 13 Januari 2025
13/365 | @monicasyarah
Yang namanya bismillah dan bismirabbika itu bukan lagi sekadar melibatkan, tapi bergeraknya sudah atas nama.
Kita tidak membawa kehendak diri lalu kemudian meminta Allah turun tangan untuk memudahkan, tetapi kita (dengan bangga dan bertanggung jawab) memposisikan diri sebagai petugas, perpanjangan kehendak-Nya untuk melakukan hal-hal yang Dia ridhai.
Artinya kita menggunakan resource dan tools di dalam dan luar diri sebagai fasilitas dalam ketugasan tersebut.
"Ya Allah, hari ini aku pinjam ya mata dan telinganya untuk mengambil input yang dibutuhkan. Ya Allah, hatinya izin kupakai untuk memproses inputan itu ya. Ya Allah, tubuh, lisan, dan tangan ini, izin kupakai untuk bergerak dan berbicara menyebarkan cahaya-Mu ya!"
Betapa tenangnya bergerak "atas nama" sebab Dia akan menanggungjawabi hasil akhirnya. Kita hanya perlu menjalankan tugas sebaik mungkin (ahsanu amala), dengan sepenuh hati (wholeheartedly) dan segenap kemampuan (istitho'ah), tanpa terbebani oleh kegagalan atau kesempurnaan menurut ukuran dunia.
Ketika bergerak atas nama-Nya, kita tidak lagi terjebak pada ketakutan akan kekurangan diri, sebab yang bertindak bukan hanya kita, melainkan Dia melalui kita. Kita hanyalah sarana, alat dalam orkestrasi besar yang sudah diatur-Nya dengan presisi.
Diterima atau tidaknya usaha kita, itu urusan Dia. Apakah hasilnya sesuai harapan atau tidak, itu kehendak-Nya. Yang terpenting adalah willingness dan effort kita, sejauh mana kita menyerahkan diri pada misi yang Dia titipkan.
Bukankah di situ letak indahnya tawakal? Menjadi hamba yang yakin bahwa ketika kita berjalan menempuh ikhtiar dengan membawa gagasan-gagasan langit, Dia pula yang akan membuka jalur-jalur langit sebagai pertolongan berlapis-lapis. Karena itu, kita tidak perlu ragu, tidak perlu takut salah, sebab tugas kita hanya satu: menjadi sebaik-baiknya pelaksana, seikhlas-ikhlasnya hamba, dengan sepenuh-penuhnya keyakinan.
— Giza, pada akhirnya, semua kembali kepada-Nya, sebab kita memang hanyalah milik-Nya.
Aku percaya tidak ada satupun yang luput dari campur tangan Tuhan. Termasuk, dimana aku berada saat ini. Dan, dengan siapa aku dipertemukan hingga saat ini.
Allah amat baik, hanya kadang kita lebih fokus ke satu ujian hingga melupakan beribu-ribu nikmat yang sudah kita dapatkan.
Aku tak tau mana yang terbaik untukku ya Rabb. Sungguh hamba sedalam-dalam berserah kepadaMu. Semoga, apapun itu, Kau selalu menuntunku dalam menghadapinya.
Kulo nderek...
Ya Allah, aku sering takjub pada kebesaran-Mu. Di antara banyak nya manusia di bumi, ada orang-orang yang engkau pertemukan untuk saling melengkapi, mengisi, dan membangun hubungan yg harmonis. Padahal dunia ini luas banget, tapi engkau pertemukan mereka.
Ya Allah, tolong pertemukan aku juga ya dengan sosok yang saat bersamanya, kebaikan kita semakin melimpah.
Autopilotkan dirimu.
Kalau terlalu terasa berat, istirahat dan cobalah lepaskan sesuatu yang mengikatmu dengan kekhawatiran.
Kembalikan semuanya kepada yang memberimu hidup. Kamu terbatas, sedangkan Dia, tidak.
Ketahuilah bahwa jiwa yang lelah itu tidak akan kembali pulih dengan tidur atau tempat yang mewah, sungguh jiwa yang lelah itu hanya butuh kedekatan dengan Tuhannya. Menangis dan meminta kekuatan pada pemilik dunia dan seisinya.
Sebab pundak yang memikul beban ini pasti akan lemah dan tak sekuat masa muda, maka mintalah kekuatan agar seberat apapun beban yang harus dipikul ia tetap kokoh dan kuat membawanya, sampai kapan? Sampai Allah ambil beban itu atau Allah menyuruh kita untuk meletakkannya.
Serindu ini hati dan jiwa ini pada sepertiga malam yang sudah lama ditinggalkan, serindu ini hati dan jiwa ini untuk kembali menangis dan mengadukan semua perihal lelucon dunia ini pada-Nya.
Mari kembali, barangkali jiwa dan hati kita butuh pulang, butuh merendah, butuh sujud dengan tangisan. Tidak ada yang tahu kecuali kita dan Tuhan kita saja.
@jndmmsyhd
Ya Rabb, ampuni hamba sudah sejauh ini. Nyatanya hamba tidak bisa tanpaMu
Rumah tangga adalah privasi. Maka ia tidak boleh diisi oleh selain suami dan istri. Serta anak-anak yang menjadi buah cinta dari keduanya.
Rumah tangga adalah hak permanen antara dua manusia yang terikat oleh perjanjian di hadapan Tuhan. Ia tidak boleh diganggu gugat oleh keluarga dari kedua belah pihak. Maka seorang suami yang tetap taat kepadanya ibunya, serta tahu cara memuliakan istrinya adalah baik. Karena ia mampu menjaga dua perasaan wanita secara bersamaan.
Seorang istri yang mampu taat kepada suaminya dan tidak menjadi penghalang bagi suaminya untuk berbakti kepada ibunya adalah baik. Sebab ia paham bahwa selamanya suaminya adalah milik ibunya.
Untuk itulah mengapa rumah tangga di dalam Islam, tidak boleh dicampur baurkan antara menantu dan mertua. Karena dua perempuan di dalam rumah tidak akan pernah habis masa berseterunya. Begitu pun jika di dalam rumah terdapat dua kepala keluarga, tidak akan habis masa bertikai antara keduanya.
Oleh karena itu, ketika telah menikah, sebaik-baik tempat bagi perempuan adalah rumahnya sendiri. Walau harus berbayar, walau harus hidup seadaanya. Namun itulah sebaik-baik tempat bagi perempuan.
Karena di dalam rumahnya, perempuan bisa mengekspresikan banyak hal. Perempuan bisa melakukan banyak hal tanpa perlu menghadirkan rasa sungkan dan tidak enak hati.
Maka lelaki, buatlah dinding terpisah antara istri dan ibumu. Sebab dua perempuan ini sangat rentan menghadapi miskomunikasi.
Maka perempuan, keluarlah dari rumah ibu-bapakmu. Ikutlah dan pergilah dengan suamimu. Karena pasca menikah, kau bukan lagi tanggung jawab dari kedua orang tuamu. Tanggung jawab itu berpindah di atas tangan lelaki yang memintamu dalam sucinya akad nikah.
Tak perlu ada yang saling tuntut. Karena memahami kewajiban adalah sebaik-baik pemikiran, dibanding menuntut hak yang mesti ditunaikan oleh pasangan.
11.29 p.m || 06 April 2024
Semoga Allah mudahkan 🍂
aku tak pernah tahu rasanya menunggu jodoh bertahun-tahun itu seperti apa. karena aku menikah dengan suamiku diusia muda 20 tahun.
aku juga tak pernah tahu rasanya berselisih paham dengan mertua, karena dari awal pernikahan hingga saat ini kedua mertuaku sangat baik kepadaku.
aku juga tak pernah tahu rasanya tinggal seatap dengan mertua, merasa tidak nyaman dirumahnya atau konflik dengan ipar. karena sejak awal menikah suamiku telah menyiapkan rumah untukku tinggal bersamanya tanpa harus mencicipi tinggal dengan mertua.
aku tak pernah tahu rasanya bagaimana kesulitan ekonomi, pinjam uang sana dan sini, menggadaikan atau menjual aset untuk bisa makan hari ini. karena selama pernikahanku Allaah cukupi aku dan suami dengan kelapangan rezeki.
Allaah tidak menguji aku dalam hal demikian, tidak tentang menunggu jodoh, tidak dengan mertua, tidak dengan suami ataupun kesulitan ekonomi. tetap ku syukuri apapun keadaan itu hingga saat ini.
tapi apakah kamu tahu dimana letak ujianku? iya, Allaah uji aku dengan penantian buah hati. aku tidak tahu rasanya bagaimana lelahnya mengandung, melahirkan, ataupun mendidik seorang anak. karena selama 15 tahun pernikahanku aku belum pernah merasakan bagaimana perasaan terlambat haid.
jangan tanya bagaimana upayaku, percayalah aku sudah mengupayakan semua cara yang baik. saran dari banyak ahli, dan semua nasihat yang masuk aku semua sudah aku upayakan.
katanya hamil itu berat, menyusui itu membuat payah seorang ibu, dan merawat seorang bayi itu tidak mudah. iya, aku mengerti, keadaan itu sudah Allaah jelaskan di dalam Al-Qur'an. namun mereka tak akan pernah tahu dan juga pahamkan bagaimana beratnya menanti seorang anak sekian lama. letihnya berjuang dengan berbagai upaya yang tak jarang menyakitkan.
maka aku mendidik diriku, semakin kesini jadi semakin berhati-hati. tidak ingin mudah menilai seseorang tentang siapa yang paling berat ujiannya. semua orang sedang berjuang dengan ujiannya masing-masing. hanya Allaah yang tahu kadar keimanan seorang hambanya.
semakin kesini jadi semakin mencoba lebih mudah mensyukuri hal-hal kecil yang sudah dimiliki tanpa membandingkan kebahagiaan ku dengan yang lain. sebab keduanya tak akan pernah sama. dan tak membenci takdir atas apa yang terlewat dari hidup seperti;
Dibalik aku yang nggak bisa naik motor, ada rejeki bapak ojol.
Dibalik aku yang belum hamil, ada rezeki dokter dan perawat yang mengalir disitu karena ikhtiar bayi tabung, inseminasi dan ikhtiar lainnya.
Dibalik AC rumah yang udah nggak dingin atau rusak, ada rezeki tukang service AC yang hadir disitu.
Dibalik ban mobil yang bocor, ada rezeki tukang tukang tambal ban disitu atau ada juga rezeki warung starling yang juga mangkal disitu. sambil nunggu ditambal bannya sambil pesan minum sekalian.
intinya sejatuh dan terpuruk hidupku, tetap ada berkah bagi orang lain. seberat apapun kesedihan hidup yang sedang aku jalani, berbaik sangka sama Allaah adalah yang harus selalu diupayakan. dan bener, semakin kesini hanya ingin hidup tenang. semua yang sudah Allaah takar tak akan pernah tertukar. semua yang memang untukku akan tetap menujuku, yang tidak untukku akan melewatkanku sekuat apapun upayaku untuk menujunya.
jadi ujian mana yang lebih berat dan mana yang mulia? tak akan mengurangi kemuliaan ibunda Aisyah Radhiyallahuanha walau tak memiliki keturunan. tak akan mengurangi sedikitpun kemuliaan Asiyah Binti Muzahim meski bersuamikan Firaun. tak akan mengurangi sedikitpun kemuliaan dan kesucian ibunda Maryam yang melahirkan seorang anak tanpa pernah disentuh oleh laki-laki. tak akan mengurangi kemuliaan Fatimah Az Zahra walau hidup penuh dengan kekurangan. Mereka semua tetap mulia sebab Allaah telah memuliakan mereka, dan itu lebih dari cukup.
.
مَادَام اللّه مَعَك لَايُهمك شَخص أَذَاك، وَ مَادَام اللّه يَحفَظك لَاتَحزَن لِأَحَد أَهملك، وَ مَادَام اللّه يُرِيد لَك شَيْئ، فَلَنْ يَقف فِي وَجهِك شَيْئ أَبَدًا.
Selama Allah bersamamu jangan pedulikan orang yang menyakitimu, selama Allah melindungimu jangan sedih dengan orang yang mengabaikanmu, dan selama Allah ingin memberikan sesuatu untukmu, maka tidak akan ada yang menghalangimu.
***
ini bukan kisahku, namun sepanjang ia bercerita, ia selalu tersenyum seolah ingin mengabarkan bahwa ia sudah lapang atas semuanya...
"Ya Allah, aku sudah menganggap baik seluruh takdir yang engkau berikan padaku, maka aku mohon sembuhkanlah dan perbaikilah hidupku"
Puncak tertinggi dari hati yang bersih adalah menyerahkan segalanya bahkan masa depannya pada Ilahi.
Tanpa tapi.
Tidak mudah melatih husnudzon dan prasangka baik pada Allah itu, mungkin bagi mereka yang Allah hujani dengan kenikmatan akan mudah untuk melakukannya, tapi tidak mudah bagi mereka yang Allah berikan gerimis bahkan hujan ujian. Soal pasangan, keluarga, pekerjaan, keadaan sosial, ekonomi dan semua hal yang barangkali menyesakkan dada, seakan Allah tidak mencintainya. Padahal, tidak selalu yang Allah hujani dengan kenikmatan itu berarti Allah suka padanya. Dan tidak pasti juga yang hari ini Allah berikan ujian bertubi-tubi menandakan Allah membencinya. Semua ada takaran dan tolok ukurnya, dan pada ujungnya, semua yang bisa mendekatkan diri pada Allah adalah kenikmatan, entah ujian atau nikmat yang datang. Aku pun sama denganmu, masih tertatih untuk bisa selalu mengedepankan prasangka baik. Semoga Allah berikan kita hati yang seluas samudera perihal takdir ini, Allah berikan selimut sabar atas dinginnya ujian. Sebab surga tidak pernah murah.
@jndmmsyhd
"Ya Allah, aku sudah menganggap baik seluruh takdir yang engkau berikan padaku, maka aku mohon sembuhkanlah dan perbaikilah hidupku"
Puncak tertinggi dari hati yang bersih adalah menyerahkan segalanya bahkan masa depannya pada Ilahi.
Tanpa tapi.
Tidak mudah melatih husnudzon dan prasangka baik pada Allah itu, mungkin bagi mereka yang Allah hujani dengan kenikmatan akan mudah untuk melakukannya, tapi tidak mudah bagi mereka yang Allah berikan gerimis bahkan hujan ujian. Soal pasangan, keluarga, pekerjaan, keadaan sosial, ekonomi dan semua hal yang barangkali menyesakkan dada, seakan Allah tidak mencintainya. Padahal, tidak selalu yang Allah hujani dengan kenikmatan itu berarti Allah suka padanya. Dan tidak pasti juga yang hari ini Allah berikan ujian bertubi-tubi menandakan Allah membencinya. Semua ada takaran dan tolok ukurnya, dan pada ujungnya, semua yang bisa mendekatkan diri pada Allah adalah kenikmatan, entah ujian atau nikmat yang datang. Aku pun sama denganmu, masih tertatih untuk bisa selalu mengedepankan prasangka baik. Semoga Allah berikan kita hati yang seluas samudera perihal takdir ini, Allah berikan selimut sabar atas dinginnya ujian. Sebab surga tidak pernah murah.
@jndmmsyhd