Kita tidak pernah tahu di titik mana kita bisa menginspirasi orang lain. Yang bisa kita lakukan adalah melangkah untuk kebaikan
Mohammad Kamiluddin
RMH

roma★
TVSTRANGERTHINGS
h

#extradirty
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

JVL
Sade Olutola
wallacepolsom
Show & Tell
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

if i look back, i am lost
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
taylor price

祝日 / Permanent Vacation

oozey mess

izzy's playlists!
almost home
Cosimo Galluzzi
d e v o n
seen from United States
seen from United States

seen from Japan
seen from United States

seen from United States

seen from Finland

seen from Singapore

seen from Italy
seen from Mexico

seen from France

seen from Argentina

seen from France
seen from United States
seen from Poland
seen from United States
seen from South Korea
seen from United States

seen from United States

seen from France

seen from United Arab Emirates
@topofthemountain
Kita tidak pernah tahu di titik mana kita bisa menginspirasi orang lain. Yang bisa kita lakukan adalah melangkah untuk kebaikan
Mohammad Kamiluddin
Alasan mengapa seseorang menceritakan hal yang membuat dirinya terlihat jelek pada orang lain adalah untuk melihat siapa yang peduli dan siapa yang menghakimi
Semesta Psikometrika
Kata teman saya, "daripada menulis skripsi beribu kata yang tidak kau mengerti entah apa gunanya, lebih baik kutulis puisi yang dapat kau pahami maknanya". Iya, sebuah tulisan hanya akan menjadi tulisan tanpa makna jika tidak memiliki nilai guna. Kurang-kurangi lah menulis kegalauan, saya mencoba menulis pengetahuan. Jadi beberapa catatan kuliah dan hasil baca-baca buku dan jurnal saya tuangkan di sini, siapa tahu bisa lebih bermanfaat.
Ini blog untuk belajar bersama tentang Psikometrika, Statistika, dan Metodologi penelitian. Jangan dihina atau dibully ya, masih pemula, masih sambil belajar, jadi tulisannya juga masih sedikit dan masih level mendasar. Monggo feel free untuk dibaca, dipertanyakan, dan dikritisi. Boleh juga request dan menyumbang pengetahuan (tulisan) di situ. Monggo cek link di bawah, semoga bermanfaat.
http://www.semestapsikometrika.com/
Jika ingin mengubah sekelilingmu menjadi lebih baik, mulailah dari diri sendiri. Improvement always begin with “I
Self reminder
Bahagia Adalah Tidak Tahu Apa-apa
Apa hebatnya menjadi tahu, kalau yang dituju adalah kebahagiaan
Seorang istri akan tetap hidup bahagia dengan suaminya kalau dia tidak tahu bahwa suaminya telah selingkuh
Seorang penganut agama akan tetap merasa tentram setelah menjalankan ritual keagamaannya, kalau dia tidak tahu bahwa ritual itu hanyalah tipuan sang pemuka agama
Rakyat akan tetap hidup tentram kalau dia tidak tahu pemimpinnya telah menipu dan mengambil harta mereka
Seseorang tidak akan merasa gelisah kalau dia tidak tahu bahwa ada genderuwo sedang duduk di sampingnya
Yang hebat itu adalah percaya. Dengan percaya semua menjadi lebih tentram. Orang-orang tadi tetap akan hidup tentram asalkan percaya pada suami, percaya pada sang pemuka agama, dan percaya pada pemimpin. Orang bisa bahagia menjalani sesuatu yang seharusnya tidak, asalkan dia percaya. Nah, sayangnya orang pintar jaman sekarang ga bakal percaya kalau dia ga tahu. Kan repot kan. Nah makanya kalau mau hidup bahagia, jangan menikah sama orang yang serba tahu atau punya rasa ingin tahu tinggi, tapi menikahlah sama orang yang percaya sama kamu.
#ajaransesat #ojodipikirabot
Entah kenapa saya merasa pikiran (yang saya anggap) sesat dulu, sekarang ini banyak benarnya. Mungkin memang sudah waktunya berhenti mencari tahu dan mulai percaya. Mungkin dengan percaya saya akan tahu kemudian
Maka berkat rahmat Allah, engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.
(QS Ali-Imran : 159)
Urip Iku Mung Sawang Sinawang
Orang Jawa mengatakan, “Urip iku mung sawang sinawang” atau kalau diterjemahkan artinya “hidup itu hanya melihat apa yang terlihat”. Kalau mau dimaknai ini seperti pepatah rumput “tetangga memang selalu terlihat lebih hijau”. Ya, kira-kira seperti itulah, kita selalu menganggap apa yang dimiliki orang lain itu lebih baik daripada milik kita, padahal mungkin orang lain juga menganggap apa yang kita miliki itu lebih baik.
Ini cerita perjalanan singkat saya mengunjungi dua negara tetangga kita, Singapura dan Malaysia. Kebetulan saya mendapat dana hibah dari orang tua untuk menemani traveling adek saya. Meskipun awalnya Ibu menyuruh kami pergi dengan travel agent karena khawatir, tapi kami menolak, bukan semata-mata alasan ekonomis, tapi juga alasan pembelajaran. Dengan ikut travel agent kita akan lebih sedikit belajar, mulai dari merencanakan hingga tersesatnya. Seperti kebanyakan orang tua lainnya, pasti khawatir ketika melepas kedua anaknya pergi jauh. Untungnya adek saya cukup istiqomah dalam memberikan live report ke orang tua.
Hal pertama yang kami lakukan begitu sampai di Singaura adalah membeli paket data internet dan kartu Singapore Tourist Pass (STP). Begitu dua barang ini didapat, kita langsung jalan menuju hostel di daerah Little India. Kartu sakti STP ini berguna sekali untuk traveler yang hobi nyasar dan ga punya tujuan jelas macam saya, karena dengan kartu ini kita bisa naik moda transportasi dari MRT sampai Bus secara gratis. Kesan pertama dengan transportasi di Singapura adalah, rapi, cepat, nyaman, informatif. Tapi konsekuensi dari itu adalah kita harus lebih banyak jalan kaki dan lebih mandiri. Ya, di Singapura semuanya serba self service, petugas di tempat umum untuk tempat bertanya itu minim sekali. Satu-satunya tempat bertanya adalah papan informasi dan Google. Atau ketika di rumah makan, kalau kita biasa meninggalkan meja makan kita masih dengan piring kotor kita, di Singapura selalu tertulis untuk kita membuang sampah kita sendiri dan memastikan meja kita bersih sebelum ditinggal. Bahkan di hostel saya, kita diminta untuk membuat sarapan sendiri serta mencuci piring dan gelas yang kita pakai.
Negara Singapura ini adalah negara yang benar-benar multikultural. Kita bisa melihat orang Cina, India, Melayu, dan Bule dalam satu tempat tanpa kita tahu mana diantara mereka yang orang asli sini atau turis. Harga barang-barang di sana relatif lebih mahal dari di Indonesia, apalagi untuk masuk tempat wisata. Tapi banyak juga tempat wisata dan hiburan gratis yang super kece. Destinasi kami disana tidak terlalu muluk, hanya memenuhi yang wajib saja seperti di Merlion Park, Marina Bay, Garden by The Bay, Sentosa Island, Botanic Garden, Mount Faber, Clarke Quay, dan apalagi ya, lupa. Ditambah dengan tempat belanja dan menemukan tiga masjid yang cukup langka di sana. Secara keseluruhan pengelolaan tempat tadi keren, bersih dan nyaman, hanya saja nampak ada yang kurang rasanya, kurang alami. Kalau disuruh memilih antara Pantai Palawan di Sentosa Island atau Pantai Siung di Gunung Kidul, saya tetap memilih pantai Siung, meskipun banyak sampahnya.
Meninggalkan Singapura, destinasi kami selanjutnya adalah ke Melaka, Malaysia. Menurut info di internet perjalan dari Singapura ke Melaka hanya memakan waktu 4 jam naik bus, tapi nyatanya kami kemarin hampir 6 jam. Jadilah kami sampai Melaka sudah jam 15.30. Oiya bicara soal jam, Singapura dan Malaysia ini memiliki waktu yang berbeda dengan Indonesia. Meskipun secara geografis mereka hampir sejajar dengan Sumatera, tapi nyatanya jam mereka lebih cepat 1 jam dari Jogja. Wah bikin aturan sendiri ini pikirku. Tapi setelah saya cari tahu di internet memang mereka melakukan itu untuk alasan ekonomi, juga masalah mental. Jadi sah-sah saja kalau jam 6:40 saya baru sholat subuh. Hehe. Melaka ini seperti Jogjanya Malaysia, kota yang terjebak masa lalu. Maksudnya hampir semua wisata disana adalah wisata sejarah. Banyak peninggalan bangunan-bangunan bersejarah disana. Disini semuanya juga lebih murah. Karena hanya sebentar, kami hanya sempat ke River Cruise dan menara Taming Sari saja, yang kebetulan jaraknya tidak sampai 2 KM dari penginapan kami.
Besoknya kami menuju Kuala Lumpur. Perjalanan naik bus ke Kuala Lumpur memerlukan waktu sekitar 2 jam. Naik bus di Malaysia ini serasa naik peswat, terminalnya bersih, bahkan di Terminal TBS Kuala Lumpur sampai ada papan jadwal departure bus segala, dan semuanya serba on time. Tempat wajib yang hendak kami kunjungi cuma Batu Caves dan Menara Petronas, sisanya sunah karena memang fisik kami juga sudah lelah. Kami justru banyak menghabiskan waktu di Masjid Negara, tidur siang di sana karena Nadia masuk angin dan kami tidak menyewa penginapan di Kuala Lumpur. Anehnya Masjid Negara ini,tiap hari banyak turis yang rela memakai jubah untuk bisa melihat kemegahan masjid ini, mungkin sampai ribuan. Tapi pas waktu sholat fardhu, jamaahnya hanya 1 shaf. Transportasi publik disini sama kerennya dengan di Singapura, bahkan ada bus gratisnya juga yang beroperasinya sepenuh hati. Dan malam di Kuala Lumpur kami habiskan dengan menonton film gratis di HP memanfaatkan fasilitas wifi gratis di bandara KLIA2.
Ya bisa dibilang secara umum kalau kedua negara tetangga kita ini lebih rapi, lebih teratur, lebih bersih, lebih nyaman, dan lebih-lebih lainnya. Tapi, urip iku mung sawang sinawang, mula aja mung nyawang sing kesawang. Ya jangan hanya melihat yang terlihat saja. Mungkin memang rumput negara tetangga kita lebih hijau, tapi mungkin saja itu rumput sintesis, sementara rumput kita memang belum lama kita tanam, makanya kita yang perlu merawat dan menyiraminya sampai hijau. Banyak kok hal sederhana yang bisa kita syukuri dari negeri ini, sesederhana es teh yang masih 2000 dan kemudahan melaksanakan sholat ketika sedang bepergian.
Toleransi dalam Beribadah
Jam sudah menunjukkan pukul 18:35, saya berada di bandara untuk melaksanakan sholat maghrib. Mushola disitu kecil, mungkin hanya muat untuk 10 orang, sementara orang yang antri sholat banyak sekali. Begitu orang di dalam keluar, kami berebutan untuk segera masuk dan melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Begitu salam, saya dan sebagian besar jamaah bergegas keluar memberikan kesempatan bagi yang sudah lama menunggu di luar agar bisa mengejar waktu sholat maghrib tepat waktu. Namun saya melihat, beberapa orang masih berdzikir dan berdoa, bahkan ada yang sempat melakukan sholat sunah.
Kita memang dianjurkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, tapi bukankah lebih baik jika kita bersama-sama melaksanakan kebaikan. Kita tidak sedang berlomba mengumpulkan poin kan, dimana nanti yang mendapat poin tertinggi yang akan masuk surga. Bukan egois ini namanya ya? Terkadang hal-hal dilematis seperti ini sering sekali dalam kehidupan beragama kita. Berdzikir dan berdoa setelah sholat itu baik, apalagi jika mampu melaksanakan sholat sunah. Namun bagi saya, memberikan kesempatan orang lain untuk menunaikan kewajibannya itu justru lebih utama, apalagi waktunya sudah mepet masuk isya. Dan kasus seperti ini sering sekali saya jumpai.
Saya pernah melihat, orang yang memiliki rezeki lebih dan menggunakannya untuk naik haji berkali-kali, sementara di luar sana banyak jamaah yang mengantri bertahun-tahun dan bahkan tidak sempat menjalankan ibadah haji karena selama masa tunggu ajal sudah menjemputnya duluan. Saya pernah melihat saat Ramadhan, orang sepanjang malamnya dipenuhi dengan dzikir, tadarus, dan sholat sunah, sampai siang harinya dia mengantuk dan malas-malasan ketika bekerja. Saya pernah melihat orang yang mengerjakan sholat wajib plus dzikir, doa, dan sholat sunahnya lama sekali, sementara teman-temannya sudah menunggu untuk mengerjakan tugas kelompok. Atau sesimpel teman yang membatalkan janji menghadiri undangan makan bersama karena ternyata ada kajian agama di waktu yang bersamaan. Ya, terkadang kita terlalu fokus berlomba dalam kebaikan kita sendiri, seolah-olah prinsip dalam beribadah itu hanya “semakin sering, semakin banyak, semakin panjang itulah yang paling bagus”. Padahal banyak aspek lain yang perlu dilihat juga. Duniawi, itu kata yang sering diucapkan. Uang, pekerjaan, nilai, penghormatan, semua hanyalah duniawi. Padahal tidak sesempit itu, ada kepentingan orang lain juga dalam “duniawi” itu. Kalaupun memang duniawi, bukankah kita juga diwajibkan untuk mengejar dunia, tanpa melupakan akhirat.
Sebenarnya kalau mau (dan kalau boleh) dilogika, ibadah itu ada yang hukumnya wajib dan sunah. Yang memang tidak bisa kompromikan adalah ibadah wajib. Namun ibadah sunah adalah pilihan, kalau dikerjakan baik, kalaupun tidak dikerjakan tidak apa-apa. Jadi jangan melabeli orang jelek agamanya kalau tidak mengerjakan ibadah sunah ya, kasihan. Terlebih lagi, hukum sunah ini kan konteksual. Misalnya yang lagi hits nih, menikah adalah sunah, tapi bisa jadi wajib jika orang itu sudah mampu dan syahwatnya sudah tidak terkendali, namun juga bisa jadi haram jika masih belum mampu. Jadi bagi kalian yang mau memotivasi orang untuk cepet nikah, dilihat dulu ya orang yang mau dimotivasi, apakah sudah mampu atau belum. Apalagi kalau memotivasinya via sosmed dengan pamer kemesraan pernikahan kalian. Hati-hati lho, bisa jadi yang melihat itu sebenarnya orang yang belum mampu, yang ada kalian cuma bikin mupeng orang yang sebenarnya masih diharamkan untuk menikah.
Jadi ya begitulah, ibadah juga perlu perhitungan dan profesional ya. Perlu membuat skala prioritas, mana yang wajib dan mana yang sunah, mana yang kepentingan pribadi mana yang kepetingan umum. Jadi semua kewajiban kita terpenuhi tapi hak dan kewajiban orang lain juga tidak terabaikan.
*maaf kalau tulisan sok kritisnya berujung curhat. hehe
Mungkin benar, bukan rindu pada orangnya, hanya rindu pada kenangan bersama orangnya
Oh simple thing where have you gone? I’m getting old and I need something to rely on. So tell me when you’re gonna let me in. I’m getting tired and I need somewhere to begin. . And if you have a minute why don’t we go. Talk about it somewhere only we know? This could be the end of everything. So why don’t we go. Somewhere only we know? . Keane - Somewhere Only We Know
Selesai dengan orang lain
Beberapa waktu terakhir, terutama setelah menikah. Saya semakin sering menerima konsultasi dari teman-teman saya sendiri terkait pra-pernikahan mereka.
Salah satu nasihat yang paling sering kita dengar untuk orang-orang yang berniat menikah adalah; selesailah dengan dirimu sendiri terlebih dahulu. Sebuah nasihat paling lazim dan paling abstrak, karena tidak ada ukuran yang pasti tentang maksud dari “selesai dengan diri sendiri”. Tidak bisa juga dijelaskan bagaimana bentuknya. Tapi tetap saja, selesai dengan diri sendiri adalah bekal yang penting untuk masuk ke jenjang rumah tangga.
Setelah bab itu selesai, ternyata saya baru menyadari ada hal-hal yang juga harus selesai, yaitu selesai dengan orang lain.
Teman-teman yang bercerita dengan saya adalah teman-teman main, teman diskusi, teman kuliah, mereka adalah orang-orang yang saya kenal. Dan lingkaran kami bukanlah lingkaran suci, kami pernah mengalami masa-masa muda yang mungkin memalukan kalau diingat. Seperti pacaran, hubungan tanpa status dengan orang lain, dan sebagainya. Itu sebelum berhijrah seperti sekarang.
Dan saya kini menambahkan satu nasihat ini ke teman-teman saya. Selesaikanlah urusan dengan dirimu sendiri, juga dengan orang lain. Masuk ke jenjang kehidupan rumah tangga jangan sampai masih ada orang-orang di masa lalu yang masih memiliki keterikatan emosi dengan kita atau pasangan kita. Khawatir bila itu kemudian datang lagi di tengah rumah tangga yang sudah berjalan nantinya. Selesaikanlah.
Bagaimana menyelesaikannya?
Mungkin ini cara yang klasik, mungkin juga cara yang sulit. Karena harus meredakan gengsi, yaitu meminta maaf.
Minta maaflah karena dulu pernah memiliki hubungan dengannya. Minta maaflah karena masa itu adalah masa dimana pemahaman tentang agama belum cukup. Minta maaflah karena telah menjadi bagian dari masa-masa kelamnya. Minta maaflah karena mungkin dulu sempat berjanji banyak hal dan tidak akan pernah ditepati. Minta maaflah kalau pernah menyakiti hatinya. Kemudian sampaikanlah kabar bahagia itu.
Mulailah kehidupan rumah tangga tanpa ada bayang-bayang tentang banyak hal, baik masa lalu, maupun orang lain.
Karena rumah tangga itu harus dimulai dengan kejelasan, kepastian, kepercayaan, keyakinan, dan keimanan. Sebuah perjalanan panjang yang nantinya jangan sampai menjadi sesal karena kita tidak sempat menyiapkan bekal tertentu.
Yogyakarta, 30 April 2017 | ©kurniawangunadi
Dari sekian banyak nasehat, sepertinya nasehat mas satu ini yang paling mengena. Thanks mas bro nasehatnya :)
Demi Siapa?
Rama beranjak meninggalkan Nisa masih dalam tangisnya. Tekadnya sudah bulat, dia harus pergi ke Papua. Jakarta sudah terlalu sesak baginya untuk berebut mencari pundi rupiah, sedangkan di Papua kesempatan itu masih terbuka luas baginya. Sejak Nisa menceritakan tuntutan orang tuanya yang menghendaki Nisa segera menikah, sejak saat itu pula Rama bertekad untuk membuat dirinya mapan lebih cepat. Dia meninggalkan idealisme tentang tema skripsi yang dia idamkan hanya agar bisa lulus lebih cepat. Dia meninggalkan kesempatan pergi keliling Indonesia dengan tabungan yang dia miliki hanya untuk mempertebal tabungannya sebagai bekal menikah. Semua usaha itu dilakukan Rama semata-mata karena cintanya pada Nisa, dia tidak ingin Nisa menunggu terlalu lama, tapi dia juga tidak ingin menikahi Nisa dalam keadaan serba kekurangan.
Hari demi hari berlalu, Nisa dan Rama menjalani kehidupannya masing-masing. Nisa di Jakarta, Rama di Papua. Sesekali mereka saling telepon, namun pekerjaan yang semakin menumpuk membuat Rama jarang memiliki waktu untuk sekedar memberi kabar kepada Nisa. Dua tahun berjalan, karir Rama berkembang pesat, dia mendapat promosi dan dipindahtugaskan ke Amsterdam. Nisa yang sudah tidak kuat lagi menjalin hubungan jarak jauh melarang Rama untuk pergi, namun Rama bersikukuh, demi memperjuangkan cintanya kepada Nisa dia harus pergi. Semua itu dia lakukan demi bisa menikahi Nisa. Dua tahun berjalan, karir Rama semakin cemerlang. Nisa yang merasa semakin kesepian kembali menanyakan keseriusan Rama untuk menikahi dirinya. Namun jawaban Rama selalu sama, pekerjaannya saat ini belum memungkinkan dia untuk menikah. Semua pengorbanan ini dia lakukan demi bisa menikahi Nisa dan menghidupinya dengan layak.
Akhirnya di ulang tahunnya yang ke-30, sebuah chat singkat diterima Rama. Sebuah gambar dan pesan singkat di bawahnya. Sebuah undangan pernikahan dari Nisa, namun yang tertulis sebagai mempelai pria adalah Reno, sahabatnya sewaktu kuliah. Tertulis di bawahnya pesan singkat, “Maaf aku ga ngabarin dari kemarin, semoga kamu paham kenapa aku melakukan ini. Semoga kamu bahagia selalu di sana dan sukses terus ya buat kerjaannya. Ga perlu dipaksakan datang kok kalau memang kamu sibuk”. Rama hanya terdiam, mencoba mengenali emosi yang muncul dalam dirinya, marah, sedih, kecewa, dan menyesal. Gadis yang paling dicintainya akan menikah dengan orang lain. Gadis yang dia perjuangkan sampai harus pergi jauh meninggalkan tanah kelahirannya. Akhirnya dengan segala cara dia bertekad harus menemui Nisa di Jakarta.
“Nisa, aku minta maaf atas semua kesalahanku. Aku selalu mengatakan aku berkerja keras selama ini untuk kamu, agar kita bisa menikah dan kamu bisa hidup enak. Tapi aku salah Nisa, aku minta maaf. Ternyata aku melakukan semuanya hanya untuk diriku sendiri, aku menikmatinya, aku merasa hidup dengan pekerjaanku dan pengejaran mendapatkan kamu. Sekarang aku turut bahagia atas pernikahanmu, semoga kebahagiaanmu dan Reno itu abadi”
Seringkali kita seperti Rama. Kita merasa telah melakukan sesuatu untuk orang lain, untuk keluarga, sahabat, pacar, masyarakat, perusahaan, negara, agama, atau siapapun juga selain diri kita. Namun dibalik semua itu, sesungguhnya kita hanya melakukan itu untuk diri kita sendiri. kita hanya terlalu sibuk mencari pembenaran dan tidak mau mengakuinya.
(Terinspirasi dan beberapa dikutip dari tulisannya Mas Abi, dengan kasus yang berbeda)
Orang Nomor Dua
Sepertinya bukan kebetulan Tuhan menciptakan saya sebagai anak kedua. Dari berbagai peran yang saya jalani, peran menjadi orang nomor dua adalah peran yang paling membuat saya nyaman. Bukan, bukan orang nomor dua dalam suatu hubungan. Ini adalah tentang peran kita dalam suatu kelompok. Saya pernah menjadi orang pertama dalam suatu kelompok, orang yang memimpin dan menjadi sosok yang paling menonjol. Saya juga pernah menjadi pengikut yang hanya mengikuti instruksi dari pemimpin. Namun saya rasa peran menjadi orang kedua adalah peran yang paling pas untuk saya.
Saya ingat seseorang pernah berkata, “untuk apa menjadi peringkat kedua, mereka tidak akan diingat oleh sejarah. Lihat saja, tidak akan ada yang ingat siapa runner-up Piala Dunia, yang mereka ingat hanyalah siapa sang juara dunia”. Seperti itulah kira-kira mengapa saya nyaman menjadi orang nomor dua. Orang nomor dua adalah orang yang memiliki atribut yang unggul, meskipun bukan yang terbaik, namun selalu dilupakan oleh sejarah. Orang nomor dua adalah orang yang bisa memberikan kontribusi dalam senyap tanpa memerlukan tepuk tangan dari orang lain. Ketika orang pertama menciptakan gap yang cukup besar dengan orang di belakangnya, orang kedua dapat hadir untuk membantu dan menjadi tempat bertanya orang-orang di belakang tersebut. Lihat saja di kelas waktu kita SMA dulu, kita pasti sungkan mau bertanya sesuatu pada si peringkat pertama karena sudah minder duluan waktu mau tanya.
Ya, seperti itulah kira-kira orang nomer dua. Mereka dapat berkontribusi maksimal, namun tidak akan diingat. Mereka dapat hadir lebih dekat bagi orang lain, namun tidak pernah butuh pengakuan. Meskipun saya sangat menikmati peran menjadi orang nomor dua, sayangnya kadang kita tidak bisa mengontrol peran itu. Dan sialnya, akhir-akhir ini saya sering “dipaksa” berperan menjadi orang pertama yang harus melihat dengan sudut pandang lebih tinggi dan terlihat sangat mencolok di antara yang lain, seperti burung melihat sekitar dari angkasa. Oke saya sedang belajar mengemban peran baru tersebut, secara saya selalu kurang maksimal ketika berperan sebagai orang pertama. Evaluasi dari junior sewaktu saya menjabat sebagai Kepala Divisi Gunung Palapsi dulu masih teringat jelas, “Mas Hanif ini pemimpin yang paling ga berwibawa yang saya temui”. Haha, mak jleb banget, tapi saya kemudia belajar kok. Setiap peran pasti membawa konsekuensi bagi kita bersikap dan berperilaku. Dan tugas kita adalah menjalankan peran sebaik-baiknya sesuai apa yang sudah diamanahkan ke kita.
Hal yang penting adalah bukan seberapa banyak peran yang kita ambil, tetapi seberapa baik kita menjalankan peran tersebut. Tegas berkata tidak untuk hal-hal yang tidak diperlukan adalah salah satu bentuk kedewasaan
Catatannya Mas Rendhy
Pasaman: Sebuah Perjalanan Nostalgia (Part 2)
Keesokan harinya kami menghadiri acara resepsi pernikahan. Sebenarnya ini adalah resepsi untuk orang kampung saja, jadi tidak terlalu ramai. Mempelai hanya dipajang di pelaminan, sedangkan orang tua tetap berada di rumah masing-masing. Tamu yang datangpun biasanya masuk ke rumah terlebih dahulu, memberikan sumbangan, baru menuju pelaminan untuk menyalami pengantin, lalu pulang. Sayapun kebagian jatah menjadi fotografer dadakan di acara tersebut. Karena sudah bosan di acara resepsi yang gitu-gitu aja, tengah hari kami pamit dan pergi ke rumah orang tua teman saya, Gusra, di Rao, sekitar 1 jam dari Lubuk Sikaping. Disana kami banyak bercerita tentang prosesi pernikahan Gusra, mulai dari melamar sampai resepsi, termasuk adat do and don’t nya.
Ada beberapa pertanyaan yang mucul dalam benak saya. Di jaman yang sudah serba modern, dimana persinggungan antar budaya sudah semakin besar, dan identitas kesukuan sudah semakin terkikis, ternyata keluarga teman saya ini masih benar-benar menjaga adat kesukuannya. Dan saya berpikir betapa ribetnya jika orang Minang menikah dengan orang non-Minang, apalagi jika mereka belum pernah keluar dan berinteraksi dengan orang di luar wilayah mereka. Saya juga berpikir, bagaimana pola pendidikan seperti bisa menjadikan pria Minang sebagai sosok yang bertanggung jawab jika mulai dari melamar sampai pernikahan dia selalu “dimanjakan”. Padahal tanggung jawab saat berkeluarga cukup besar sebagai pemimpin bagi istri dan anaknya dan juga mamak bagi keponakannya. Tapi toh ini sudah berlangsung ratusan tahun dan baik-baik saja, berarti yang tidak baik haya dalam pikiran saya saja, atau karena kurangnya informasi yang saya peroleh.
Sepengamatan saya yang hanya tiga hari di sana, orang Minang itu mayoritas adalah penganut Islam yang taat. Masjid-masjid di sana relatif lebih rame dibanding masjid-masjid di Jawa pada saat sholat fardhu. Namun hal ini kontradiktif dengan budaya dalam Islam sendiri (atau budaya Arab), mulai dari garis keturunan, pembagian peran gender dalam pernikahan, sampai pembagian harta warisan. Beberapa hal nampak tidak selaras. Tapi mungkin jutru wilayah abu-abu inilah yang menjadi keunikan budaya Minang, dimana ajaran Islam yang kuat bisa bersanding dengan sistem matrilieal yang masih dijaga. Dan memang di jaman sekarang sudah banyak perubahan juga, keluarga baru cenderung lebih mandiri dan hidup sendiri dibandingkan dulu. Hari itupun kami habiskan dengan banyak belajar tentang kebudayaan minang pada orang tua Gusra, yang ternyata tiap daerah juga memiliki variasi tradisi yang cukup banyak.
Besoknya kita kembali ke Jakarta. Petualanganpun dimulai jam 7.00, sangat pagi rasanya jam segitu di Sumatera Barat. Kami sengaja pulang pagi-pagi sekali untuk balas dendam karena belum sempat mengeksplore sumbar di hari pertama. Bebera tempat yang searah jalan pulang kami singgahi, seperti di Bonjol, garis equator dan Museum Imam Bonjol, wisata kopi dan bunga Rafflesia, dan beberapa tempat di Bukittinggi. Bukan petualangan namanya jika semuanya mulus sesuai rencana. Demi mencari bunga raflesia ternyata kita harus tersesat terlebih dahulu di hutan. Patokan kami adalah nasehat bos kami dulu, Pak Anies yang bilang “ambilah jalan menanjak, karena jalan menanjak akan mengantarmu ke tempat yang indah”. Setelah berjalan menanjak selama 1 jam lebih hingga jalannya pun sudah buntu, akhirnya kami menyerah dan memutuskan untuk turun. Untungnya nasib baik masih berpihak kepada kami, di jalan turun kami bertemu dengan petani yang kemudian dengan dengan baik hatinya mau mengantarkan kami ke Bunga Raflesia yang sedang mekar. Masih butuh waktu satu jam lagi rupanya untuk sampai ke Bunga Raflesia. Namun semua terbayarkan ketika melihat bunga raksasa itu di ujung perjalanan kami. Terima kasih kepada bapak yang belum sempat saya tanyakan namanya atas bantuan dan ceritanya menggunakan bahasa Minang yang banyak saya ga pahamnya. Petualangan di Agam ditutup dengan menikmati kopi Luwak KW sembari mendengar cerita pengembangan wisata kopi luwak disana, karena kopi luwak yang aslinya mahal sekali harganya.
Perjalanan selanjutnya menuju Bukittinggi. Banyak sebenarnya tempat yang ingin saya singgahi, namun karena terlalu banyak menghabiskan waktu mencari bunga Raflesia, kami takut kemaleman sampai di Padang dan ketinggalan pesawat, akhirnya hanya tempat-tempat penting saja yang kami singgahi. Jam gadang adalah tujuan pertama, dilanjutkan dengan Ngarai Sianok dan kampus UNP. Lalu kami kembali banyak membuang waktu untuk mencari Nasi Kapau Uni Lis yang ternyata letaknya berada di dalam pasar banget. Seperti masih belum puas di Bukittinggi. Tapi setidaknya saya sudah mengenal kota tempat teman-teman saya tumbuh, termasuk tempat teman saya belajar dahulu. Ya, mempelajari sejarah asal mula orang berasal merupakan salah satu cara untuk mengenal orang tersebut. Perjalanan ditutup dengan pulang ke Padang, lanjut ke Jakarta, bermalam di bandara, dan pulang ke Jogja untuk mengejar kuliah.
Perjalanan ini adalah perjalanan nostalgia. Ini seperti kembali menjadi Pengajar Muda, bertemu orang asing dengan suku dan bahasa yang berbeda, melihat alam yang indah di tempat baru, melakukan perjalanan motor panjang, dan menghabiskannya dengan orang yang itu-itu juga. Dan tuisan ini mungkin juga akan berubah ketika saya mendapat informasi baru. Ya, tidak ada tulisan yang langsung jadi dalam sekali langkah menulis bukan. Pemahaman dan pemaknaan saya terhadap hal baru yang saya dapat masih sangat terbatas. Semoga tulisan setengah matang ini dapat tersaji lebih baik ke depan, ketika saya sudah berjarak dengan tulisan saya sendiri.
Pasaman: Sebuah Perjalanan Nostalgia (Part 1)
Berawal dari sebuah pesan yang cukup mengejutkan di Grup Pengajar Muda IX Kabupaten Banggai, perjalanan penuh nostalgia ini dimulai. Salah satu sahabat saya, Gusra, mengabarkan bahwa tiga minggu lagi dia akan menikah, dan tanggal itu bertepatan dengan berakhirnya UTS, jadi tidak ada alasan untuk saya untuk tidak datang. Masalahnya adalah lokasinya yang cukup jauh, di kampung halamannya, di Pasaman, Sumatera Barat. Akhirnya setelah diskusi dengan teman-teman yang lain, hanya saya dan Andik yang bisa berangkat. Kebetulan sehari sebelumnya juga ada undangan pernikahan teman sekantor kami dulu di Jakarta, jadi perjalanan ini bisa juga dibilang perjalanan menghadiri kondangan.
Kami mengambil flight pagi menuju Padang, supaya bisa jalan-jalan dulu di Padang dan sekitarnya sebelum menuju Pasaman. Jam 9.30 kami sudah mendarat di Bandara Minangkabau, Padang. Sayang, waktu kami banyak terbuang hanya untuk menunggu bus Damri menuju kota Padang jalan. Tengah hari kami baru sampai di kota Padang untuk mengambil motor yang akan kami gunakan untuk pergi ke Pasaman. Ya satu motor dengan Andik menuju Pasaman yang memerlukan waktu tempuh sekitar 6 jam ini adalah nostalgia pertama. Jodoh kami belum habis rupanya, setelah satu bilik tempat tidur di pelatihan IM selama 2 bulan, tetanggan desa dan berbagi motor selama 1 tahun di penempatan, dan 6 bulan kerja di Bukalapak, kami masih berjodoh melalukan perjalanan motoran ini bersama lagi. Jalan di Sumatera ternyata tidak seseram yang saya bayangkan. Jalannya mulus dengan kelak-kelok yang membuat perjalanan ini tidak membosankan, dan lebih tidak membosankan lagi karena sepanjang jalan kita diselingi hujan. Pemandangan sepanjang perjalanan adalah nostalgia kedua. Pemandangan sepanjang perjalanan adalah hutan hijau yang mengingatkan kami pada perjalanan dari Luwuk menuju Pagimana.
Jam 16.00 kita baru sampai Kota Bukittinggi. Entah kenapa kota ini menjadi salah satu hal yang membuat saya antusias melakukan perjalanan ini. Dari dulu saya bercita-cita mengunjungi kota ini, padahal saya juga tidak tahu ada objek wisata apa disini. Mungkin saya tertarik dengan nama kotanya “Bukit tinggi”, atau mungkin juga karena banyak teman-teman saya yang memiliki sejarah bersama kota ini. Tidak sempat singgah kemana-mana karena sudah kesorean di takut kemalaman di jalan yang penuh hutan nanti. Hanya sempat mampir ke Balai kota gara-gara salah informasi dari teman. Tapi syukurlah, jadi menemukan tempat yang bagus untuk memandang gunung kembar, Merapi-Singgalang. Tepat adzan maghrib kami sudah sampai di Lubuk Sikaping, ibu kota Pasaman, dan beristirahat sebentar di rumah kawan.
Malamnya kami datang ke acara adat, antar marapulai. Karena di Minang menganut adat matrilineal, maka mempelai prialah yang “dibeli” oleh keluarga wanita. Segala kruwetan tetek bengek acara resepsi pernikahan semuanya diurus oleh keluarga wanita, namun begitu setelah menikah mempelai pria akan “mengabdi” di keluarga wanita. Acara adat ini merupakan nostalgia yang ketiga. Culture shock ini mengingatkan saya ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di desa Moilong yang mayoritas dihuni oleh orang Bugis. Saya buta terhadap adat kebiasaan dan bahasa yang digunakan, menjadi orang yang benar-benar asing, menunjukkan ekspresi excited supaya diterima dan dimaklumi sebagai orang asing, dan banyak bertanya tentang adat kebiasaan di daerah itu. Mungkin karena kami merupakan tamu dari jauh, kami seperti merasakan perlakuan istimewa hingga kami diikutkan acara adat, padahal kita bukan dari keluarga juga. Di dalam kami benar-benar buta, orang-orang mulai berbalas pantun yang kami juga tidak mengerti apa maksudnya. Yang jelas, akhirnya kami tahu bahwa balas berbalas pantun itu sudah “diskenario”.
Sampai pada acara makan bersama. Saat itu saya duduk dekat pintu sumber makanan disajikan. Sebagai anak muda, dengan polosnya saya berinisiatif membantu tuan rumah untuk mendistribusikan makanan. Sampai kemudian teman saya mencolek saya dan bilang, “Heh, dasar mental pembantunya kumat. Ga boleh itu, biar tuan rumah saja yang menghidangkan makanan”. Saya baru tahu bahwa dalam adat minang, tamu dan anak laki-laki tuan rumah itu “diharamkan” menyentuh piring barang satupun. Hanya urang sumendo (menantu) saja yang boleh menyajikan makanan. Kebodohan saya berlanjut saat makan berlangsung, tuan rumah menawari saya tambah makanan sembari menyodorkan rendang yang masih utuh. Karena berpengalaman tinggal di desa Bugis yang mana tidak sopan menolak makanan yang sudah disodorkan, makanya saya ambil rendang itu dan nasinya. Ternyata begitu saya mengambil makanan tersebut, semua orang sudah selesai dan mulai mendistribusikan kembali piringnya. Orang-orang mulai memandangi saya yang masih makan. Ternyata orang Minang itu penuh basa-basi juga ya, ah kena lagi. Acara malam itupun ditutup dengan pertunjukkan silek randai dan tari dinding badinding. Sejak malam itupun teman saya, Gusra sudah resmi menjadi anak orang lain dan “mengabdi” di keluarga istrinya. Dia kemudian ditinggal pulang kedua oran tuanya. Kasian
Iya, konsekuensi dari senja adalah datangnya malam. Sama seperti konsekuensi dari hidup adalah mati