Tulisan ini aku buat terutama untuk diriku sendiri dan juga teman teman di luar sana yang mungkin hampir sama denganku, lahir dari keluarga muslim, yang mungkin tidak ‘muslim muslim amat’ pada awalnya, tetapi ternyata ayah ibu nya ingin sekali punya anak shalih dan shalihah yang bisa mendoakan mereka nantinya, yang bisa menjadi penyejuk mata batinnya di tengah hiruk pikuk dunia yang melelahkan. Akhirnya di sekolahkan lah kita di sekolah muslim, karna mungkin ia sadar pengetahuannya tentang agama mungkin belum mencukupi.
Siapa yang tidak bahagia? Melihat buah hatinya begitu dekat dengan al quran, begitu mengerti mengenai agama?
Pendidikan yang kutempuh dari tk adalah tk islam, sd islam smp islam dan sma islam , mungkin kebanyakan teman teman juga pernah mengecap pendidikan muslim sepertiku, ada yang dari PAUD mungkin? Atau mungkin ada yang di mulai dari smp. Memanggil guru dengan sebutan ustadz dan ustadzah, atau belajar shalat dan dzikir, hingga menghafal alquran. Itu beberapa kebiasaan ‘standar’ sekolah muslim.
seringkali di rumah aku yang membenarkan bacaan alquran ayah ibuku, menyimak bacaan ayahku bersama sambil selonjoran di sofa depan televisi, malah kadang aku membenarkannya dari kejauhan sembari memotong sayur, intinya, aku hafal bacaan yang ayah ibuku baca. intinya, aku juga pernah menghafal al quran.
Hal yang jujur, sudah tidak asing bagiku dan kebanyakan teman teman di sekililingku.
Seingatku tidak ada alasan yang SEHARUSNYA membuatku berhenti melakukannya.
Tapi mengapa seakan sudah tidak ada waktu untuk melakukan hal tersebut? Seakan masih banyak urusan lain yang harus aku dahulukan? Bahkan sekedar untuk mengulang apa yang sudah aku hafal beberapa tahun yang lalu? Kapan terakhir kali aku melakukannya ya.
Malu rasanya ketika anak kecil di sekelilingku ternyata memiliki hafalan yang jauh lebih banyak dan lebih fasih dari pada aku yang sudah ‘besar’ ini. Untung saja, dari mereka semua belum ada yang iseng mengetes hafalan ku tiba tiba ketika kukatakan bahwa hafalanku ‘dulu’ sudah pernah sampai 4 juz.
Kalau sampai ada yang mengetesku, selesai sudah riwayatku.
Aku menyadari, memang tidak mudah menghafal alquran bagi mereka yang tidak punya tekad kuat. Mungkin dulu aku menghafalnya hanya karna untuk syarat kelulusan. Tapi bukankah di sekolah islam ku dulu dikatakan semuaaa tentang kelebihan dan manfaat menghafal? harapannya adalah setelah keluarnya nanti, kami tidak akan meninggalkan kebiasaan menghafal, karna kami tau benar alasan mengapa kami tetap melakukannya.
Bahkan alquran adalah buku nomor WAHID di atas yang nomor wahid yang harus kamu baca.
Kenapa? Karna alquran adalah pedoman, petunjuk, petunjuk dari yang bikin kamu, bikin dunia kamu, bikin takdir kamu. Lalu mau baca petunjuk sempurna di mana lagi?
Aku sempat berpikir, ah.. baca alquran juga sama saja. Tidak usah repot repot menghafal, toh mempertahankannya ‘katanya’ lebih sulit. Lalu mengapa dengan alasan itu aku malah menghindar? Bukannya menjadi sebuah alasan kuat untukku tetap berada dalam ‘lingkup’ penjagaan Tuhan?
Apa setelah menghafal, apakah kesenangnnya sesaat? Tidak. Semakin aku buka lembarannya, semakin aku tahu bahwa mahkota untuk ayah ibu ku semakin dekat selangkah demi selangkah.
Apa aku lupa bahwa dengan menghafal akan memberikan kado terindah untuk orang tua? Tidak kan? Itu buktinya. Tapi mengapa aku seolah olah lupa? Dan mencari alasan dan cara lain untuk membahagiakan mereka?
Aku sudah yakin dari sekarang malah, ayah ibuku tidak akan lebih bangga padaku, ketika aku jadi dokter kelak atau aku hafal dan paham satu alquran. Hey, bagaimana dengan kalian? Menurut kalian akan lebihbangga yang mana?
Aku jadi teringat, dulu ayahku pernah berkata padaku tiba tiba di dalam mobil,
“sudah sampai mana hafalan alquran kakak?”
“kok ga naik naik? Susah apa gimana?”
Aku tidak berani menjawab “tidak ada waktu pa” karna aku tau setelah itu aku pasti akan dihujani dengan pidato yang luar biasa. Tidak ada waktu apanya, emang aku apa? Presiden indonesia? Ketua PBB?
Bukan karna ayahku menghafal juga, bahkan ayahku juz 30 saja belum rampung semua, tapi aku tau benar, betapa ia bangga tau anaknya menghafal alquran. Di kampungnya di Bima sana, aku dan adikku sering ditunjuk papaku untuk mentasmi’ (memperdengarkan alquran tanpa melihat alquran) alquran, jika ia menyelenggarakan acara buka bersama, atau acara apapun di libur lebaran ketika kami mudik.
Pasti tidak lain dan tidak bukan, kami anak anaknya lah yang ditunjuk untuk itu. Bukan sombong atau apa. Aku mengerti, ia senang sekali anak anaknya bisa melakukan apa yang ia tidak bisa lakukan.
*Kembali ke cerita sebelumnnya.
Aku akhirnya menjawab, “ ga ada guru lagi pa untuk menyetor hafalannya”. Hanya itu alasan cukup kuat yang lewat dipikiranku. Iya kan? Ga ada dosen tempat aku bisa menyetor hafalan seperti jaman aku sekolah dulu. Dan ternyata aku salah. Salah besar.
“alasan apaan tuh? Memang kurang ya pulsa yang papa berikan di handphone kakak? Ketimbang ga jelas pakai sosial media apapun itu, setor saja hafalan kakak lewat telepon ke guru kakak. Bisa kan? Di mana gurunya? Di jawa? Di sumatra? Di Amerika sekalian? Apa yang tidak bisa? Gurunya tidak mau? Guru ngaji mana yang tidak mau? Alasannya kok ga masuk akal “
Jangan liat kerasnya ia mengajariku ya teman teman, aku sudah terbiasa, bahkan aku senang. Marahnya selalu logis dan selalu membuatku ‘terbakar’ api semangat.
Aku saja yang tidak mau memulainya kembali, akui saja.
“mulai lagi kak, ketika niat itu sudah kembali, dan kapan kembali? Pikirkan aja sendiri.”
Yak, berhenti sampai di situ. Mereka memang tidak pernah berkata aku harus menghafal satu alquran itu, tapi, entah mengapa aku selalu berkata pada diri sendiri bahwa aku ingin menjadi seorang hafidzah. Aku ingin menjadi seorang penghafal.
Terlepas dari apakah aku pantas, apakah aku bisa, dan apakah aku mampu mempertahankannya. setidaknya, aku tidak benar benar berhenti. tidak benar benar menyerah. tidak benar benar meninggalkannya.
Aku ingin berada dalam kebahagiaan itu lagi, kebahagiaan ketika aku tau jarakku pada kenikmatan yang Tuhan janjikan sudah semakin berkurang. Kebahagiaan yang tidak semu. Aku ingin bisa memberikan hadiah itu pada mereka. Aku ingin tahu apa yang Tuhan katakan padaku, aku ingin tahu sebesar apa cintaNya padaku yang tertuang dalam kitab itu. Aku ingin tahu ilmu apa yang Dia beri pada golongan yang berpikir?
Aku ingin tahu, apa aku mampu?
Tidak kah kalian penasaran juga? Bahkan mungkin kalian punya alasan lain untuk memulainya kembali? alasan yang lebih menakjubkan dibanding alasanku?
Jika alasan kalian sama dengan alasan yang aku lempar ke ayahku, siap siap saja, jika bukan memulainya kembali dengan tekad yang baru, maka kalian harus cari alasan lain yang lebih logis.Hahaha
Ayo teman, ayo kita menghafal lagi. Ayo kita temukan janji janjiNya dari apa yang akan kita usahakan ini.
-semarang, 24 november 2015-