Hari yang panjang. Bukan karena lelah, tapi karena ada beberapa cerita kehidupan yang dipersaksikan Allah kepadaku hari ini.
————–
Setiap akhir pekan aku memiliki jadwal mengaji. Kelompok kajian yang aku ikuti masih sama seperti saat kuliah dulu, meski sekarang aku sudah pindah ke lokasi yang jaraknya cukup jauh dari kampus karena memilih tinggal di wilayah yang dekat dengan tempat kerja. Alhasil, ada effort yang lumayan aku keluarkan setiap akhir pekan.
Pekan ini, aku memutuskan berangkat & pulang mengaji dengan KRL. Perjalanan saat berangkat alhamdulillah lancar. Sampai akhirnya aku memilih pulang setelah ashar agar nanti bisa sholat maghrib di mushola stasiun transit.
Sampai di stasiun transit aku langsung menuju mushola untuk sholat. Alhamdulillah sudah wudu, jadi aku tidak usah mengantre wudu. Selesai sholat rowatib maghrib aku masih belum beranjak pergi dari mushola karena aku ingin sholat isya dulu sebelum lanjut perjalanan pulang. Ku lihat jam ternyata sudah mendekati pukul 19.00. Ku lihat jadwal sholat di handphone ternyata jam 19.01 sudah isya.
Belum juga aku memasukkan handphone ke dalam tas, tetiba ada ibu-ibu yang ribut-ribut mencari tasnya yang hilang. Ibu itu meletakkan tas di belakang sementara beliau sholat maghrib di barisan depan.
Aku masih mencoba mencerna duduk kejadian itu, sementara si Ibu sudah beranjak pergi dari mushola sambil teleponan. Sepertinya dengan call center bank karena menyebut-nyebut minta pemblokiran ATM. Tidak lama setelah itu ada ibu-ibu yang menyeletuk, ‘lah dia punya uang buat pulang kagak y? Bawa temen to sendiri yak?’ Saya mendengar itu langsung istighfar. Kenapa saya tidak sampai kesana pikirannya ya? Kasihan… semoga si Ibu Engkau tolong hingga bisa pulang dengan selamat ya Allah.
Tidak lama setelah itu aku isya bersama jamaah. Selesai sholat aku bergegas ke peron menunggu kereta terakhir yang ke arah tujuanku. Ku lihat kanan kiri ternyata tempat duduknya penuh. Sementara aku ingin memakan roti yang memang aku beli untuk dimakan sambil menunggu kereta selanjutnya tiba. Akhirnya aku memilih duduk di tempat duduk di emperan tiang.
Ku lihat ke kanan dan kiri. Ada seorang Bapak di sebelah kiri ku. Aku menawarkan roti yang ku pegang sebagai pemecah keheningan. Bapak itu mempersilakan aku makan saja. Aku hanya membalas senyum, lalu aku makan.
Ku lihat sekilas si Bapak tampak khawatir. Aku hanya mengamati, tapi masih diam. Sampai akhirnya si Bapak memulai ceritanya.
Saat di Manggarai, si Bapak turun dari kereta. Dompet si Bapak ditarus di saku celana. Saat sadar, dompet beserta seluruh isinya sudah tidak ada. Alhamdulillah handphonenya masih ada di tas.
Belajar dari peristiwa sebelumbya, ku tanyai si Bapak.
Memangnya Bapak mau turun stasiun mana?
Cibinong Neng.
Pulangnya ke rumah Pak? Daerah mana?
Iya Neng. Daerah Sentul. Habis turun kereta lanjut naik bus.
Bapak masih ada uang?
Nggak Neng. KTP, SIM, dan semuanya kebawa di dompet yang ilang itu.
Aku tertegun sejenak. Belajar dari pengalaman sebelumnya, aku pun bergegas bertanya, ‘Pak…masih ada uang buat ongkos?’
Si Bapak terdiam. Tak lama setelah itu berkata, ‘Uang saya masih seribu Neng.’
Aku melihat ada semacam kegelisahan diraut wajah si Bapak. Nafasnya tidak tenang, tangannya tampak gemetar. Saya pun mengajukan pertanyaan. ’ Pak, uang sekian ini cukup tidak?’
Si Bapak menoleh. Diam sejenak. Terdengar kata, ‘InsyaAllah cukup Neng. Eh tapi saya nanti merepotkan Neng.’
Tanpa pikir panjang saya langsung menyerahkan uangnya.
Si Bapak awalnya ingin menolak, kemudian menerimanya dan berkata terima kasih.
Saat menyerahkan uang, aku sebenarnya menyimpan keraguan. Mungkin ini fitrah seorang manusia biasa atau memang aku yang masih kurang baik sebagai seorang manusia. Di otak aku sempat terlintas pikiran, ‘Ah jangan-jangan ini Bapak cuma pura-pura lagi. Manfaatin rasa Iba orang buat dapetin duit.’
Tidak lama setelah itu aku refleks istighfar. Alhamdulillah Allah masih mengembalikan kesadaran ku. Logika ini cepat menanggapi. Mencoba menerapkan apa yang pernah aku tahu dari kitab Al Wafi (kalau tidak salah). Dalam salah satu bab-nya dijelaskan keutamaan dalam mengambil keputusan. Jika ada hal yang lebih diyakini sedangkan hal yang lain ragu-ragu, maka pilihkan yang yakin.
Dalam hal ini ada 2 kemungkinan. Si Bapak memang beneran kesusahan & butuh pertolongan. Atau yang apes yaitu si Bapak memang cuma mau nipu, pura-pura kecopetan. Pilihan pertama, yang pasti adalah tolong menolong dalam kebaikan itu perintah Allah. Pilihan kedua, kalau pun memang si Bapak bermaksud jahat, itu urusan si Bapak sama Allah. Aku nggak ada urusannya dalam perkara ini. Meskipun uang ku berkurang karena ini, insyaAllah akan diganti sama Allah. Bahkan lebih. Justru kalau aku asal berspekulasi yang tidak-tidak, tapi kenyatannya memang si Bapak butuh pertolongan, bisa jadi justru aku yang dosa karena sudah suudzon.
'Sudahlah’, kata ku dalam hati. Bismillah. Ikhlaskan aku ya Allah…