Aku memimpikan hidup yang, saat aku membuka jendela kamar di pagi hari, adalah aroma rerumputan basah yang beradu dengan embun dan tanah lembab dari kayu dan serasah lapuk yang busuk namun sedap baunya, diiringi dengan cericip burung-burung nun jauh di atas pepohon yang tak kutahu ia hingga dimana, disambut juga semburat jingga di ufuk timur yang berpadu dengan langit abu-abu yang malu-malu.
Aku memimpikan hidup yang amat sederhana, sebenarnya. Sama sederhananya dengan seseorang yang akan diberi rumah mewah secara cuma-cuma namun ia hanya menginginkan sepeda motor bekas untuk pekerjaannya sehari-hari, sesederhana itu, perasaan yang ada di dada. Tetapi, apakah sederhana menurutku akan sama dengan sederhanamu?
Ya bisa saja sama, bisa saja berbeda.
Namun kuharap baik aku maupun kamu, tidak melihat kesederhanaan sebagai sebuah perlombaan "Siapa yang paling sederhana di antara yang lain". Kuharap ini semua, hidup yang megah ini, bukanlah sebuah perlombaan yang digaungkan dari timur ke barat, dari selatan ke utara, atau bahkan dari hari Senin ke hari Senin berikutnya.
Kesederhanaan kita kawan, adalah sesuatu yang mestinya menentramkan. Ia sederhana karena tidak membuat kita berlebih-lebihan. Ia menentramkan karena tidak membuat kita merasa bermewah-mewahan.
Maka mimpiku, ataupun mimpimu, adalah sebuah cahaya yang tidak datang tiba-tiba. Ia lahir dari keinginan kita yang mendalam. Keinginan menjadi sesuatu yang sering kita bayangkan tapi begitu sulit untuk didapatkan. Ia begitu sederhana, karena mimpi-mimpi adalah kita.
Yang membuat kita merasa semua mimpi ini terasa asing, menyangsikan, gelap, dan tak teraba, adalah keadaan yang tak bisa kita duga. Tapi baik aku, maupun kamu, mudah-mudahan dapat mengingat bahwa mimpi ini sebenarnya tentang kita sendiri. Bukan tentang orang lain. Bilamana mimpi kita hanyalah karena sesuatu, atau seseorang, barangkali, kita perlu bertanya kembali ke dalam diri kita.
Dari siapa sebenarnya kita sedang berlari?