Akhirnya pertanyaan itu muncul, "kok dia ga pernah dateng lagi ke rumah? kenapa? mama uda seneng sama dia" .. aku pura-pura sibuk motongin kertas minyak buat dimasukin ke kardus. Pertanyaan lain lagi muncul, "udah ga ya sama dia? tapi kemarin mama liat nama dia di hape mama" .. kujawab dengan senyuman.
Sialnya aku bukan anak yang pandai bercerita soal perasaan ke orang rumah, apalagi Mama. Lebih sering nangis sendiri, atau teman yang aku pikir dia tepat buat diajak ngobrol. Bukannya aku anak yang tertutup, Mama tau semua teman-teman aku siapa atau sekedar cerita receh soal mereka .. tapi untuk kali ini aku memilih bungkam. Banyak ketakutan yang aku pikir bisa fatal jika Mama mendengarnya, walaupun kami sering beradu argumen dan bertengkar .. bagi perempuan ini, dia wanita yang paling ia takuti jika harus kehilangannya. Seorang wanita yang merangkap menjadi ibu dan bapak bagi perempuan ini, dunianya hanya seputar wanita ini. Ah sial, pedes banget ini cabai.
Setelah sekian tahun, aku baru berani dan mau memperkenalkan seorang lelaki yang bukan teman pada beliau. Aku tau ini terlalu nekad, karna aku tau kadang pikiran beliau masih kolot. Tapi saat itu aku hanya yakin dengan apa yang aku yakini, tanpa berfikir panjang kedepan.
Aku hanya mau wanita itu tidak pernah tahu kalau anak perempuannya beberapa bulan ini selalu menangis sendiri di dalam kamar di bawah selimut ditemani lagu yang sengaja disetel keras, karna lelaki yang ia sukai itu.
Atau sampai mengetahui bahwa anak perempuannya diam-diam mendatangi seorang psikolog hanya untuk mencari ketenangan atau sekedar menangis kemudian diam berjam-jam dengan biaya yang cukup untuk membeli sneakers incaran yang masih di keranjang.
Bund, Maa atau siapapun sebutan yang sering aku lontarkan, maaf yaa.
.. jangan menunggu siapapun lagi bund, anak perempuanmu belum berani lagi membuka pintu. Tangisnya terlalu kencang di tembok persegi, atau tawanya paling lantang ketika di keramaian. Entah sedang masih menunggu, atau hanya ingin duduk tanpa memikirkan dan menunggu apapun.