I am not sorry for who I had to become in order to survive.
Schuyler Peck (via wordsnquotes)
d e v o n

No title available
Keni

Kiana Khansmith

oozey mess
occasionally subtle

tannertan36

#extradirty
No title available

No title available
Xuebing Du

JBB: An Artblog!

titsay
Show & Tell
đȘŒ
Monterey Bay Aquarium
Stranger Things
Lint Roller? I Barely Know Her

blake kathryn
Sade Olutola

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from Brazil

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Austria

seen from Indonesia

seen from United Kingdom
seen from Australia

seen from Maldives
seen from Portugal

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Indonesia

seen from Netherlands
@ucevan
I am not sorry for who I had to become in order to survive.
Schuyler Peck (via wordsnquotes)
seperti ada tali yang mengikatmu dengan âteman ketaatanâ mu, anna uhibbukifillahÂ
BELAJARLAH DARI BOSNIA
(Refleksi Terhadap Toleransi Beragama)
Pada abad ke-13, Bosnia adalah negara dengan mayoritas Muslim. Mereka hidup damai dengan kaum minoritas. Pada masa itu, setidaknya ada 45 persen dari 4,7 juta warga Bosnia memeluk agama Islam. Sisanya adalah Kristen Ortodoks, Katolik, Protestan, dan lainnya.
Arus modernisasi membuat penduduk Bosnia mengikuti gaya Eropa pada umumnya. Identitas agama tidak lagi terlihat mencolok. Semua hidup berdampingan dengan damai dalam bingkai kerukunan antarumat beragama.
Kehidupan Muslim dengan nilai-nilai Islamnya lambat laun pudar di negeri Balkan. Diskotek dan bar muncul di setiap sudut kota. Tak ada lagi jarak antara Muslim dan non-Muslim. Mulai dari cara berpakaian, bergaul, hingga merayakan hari-hari besar keagamaan. Semuanya membaur atas nama besar toleransi.
Dalam diary yang ditulis Zlatan Filipovic--seorang gadis Muslim yang terlahir dalam keluarga terhormat di Sarajevo yang menjadi ibu kota Bosnia--diceritakan bagaimana sekulernya warga Muslim sebelum 1992. Pada masa itu, tak ada lagi wanita Muslim yang memakai kerudung. Kaum lelaki juga hampir sama dengan para lelaki non-Muslim lainnya.
Ketika hari raya agama, seperti Natal dan Lebaran Muslim, hampir seluruh warga Bosnia merayakannya. Tak peduli dia Muslim atau bukan. Anak-anak Bosnia juga terbiasa dengan tradisi barat, seperti Valentine, April Mop, tahun baru, Halloween, dan sejenisnya. Sementara, shalat tak lagi dilakukan.
Muslim Bosnia--seperti Muslim Indonesia yang hijrah dari kepercayaan awalnya Hindu, Buddha, dan animisme--berasal dari pengikut Bogomil, pewaris keturunan Heretis. Keyakinan ini lenyap setelah Islam dari Ottoman Turki masuk dan menawarkan persamaan derajat. Sementara, Bosnia sendiri beridentitas sebagai penduduk mayoritas Muslim, pascaterpecahnya negara federal Yugoslavia (Slovenia, Kroasia, Bosnia dan Herzegovina, Serbia, Montenegro, dan Makedonia) pada 1990.
Di tengah keterlenaan mendalam umat Muslim Bosnia terhadap gaya hidup sekularisme dan toleransi agama yang berlebihan, bangsa Serbia yang mayoritas memeluk Kristen Ortodoks menyimpan api dalam sekam. Dengan dalih penyatuan kembali Yugoslavia dalam Republik Srpska, Serbia melakukan pembantaian terhadap Bosnia dan/atau pemeluk Islam.
Sejarah mencatat aksi Serbia kepada umat Muslim Bosnia itu sebagai genosida terbesar pada masa modern. Pembunuhan dilakukan secara sistematis. Tujuannya menghapus sebuah bangsa dan etnik. Sekuler dan bergaya non-Muslim tak menyelamatkan Muslim Bosnia. Mereka dilenyapkan dan dibantai karena menyandang identitas agama Islam.
Di atas kertas, Komisi Federal Bosnia untuk Orang Hilang mencatat ada 8.373 lelaki dan remaja Muslim Bosnia yang dibunuh dan terbuang dalam ratusan kuburan massal. Pada Juli 2012, 6.838 nama korban teridentifikasi dari galian kuburan massal.
Zlatan Filipovic, gadis 13 tahun (saat mulai peperangan) yang selamat dari pembantaian yang berlangsung hingga 1995 tersebut menulis kesaksiannya. Muslim Bosnia yang tadinya tidak begitu memedulikan nilai-nilai Islam tersentak kaget mendapat serangan yang dimulai pada April 1992.
Teman, saudara, dan anggota keluarga yang beragama lain yang tadinya akrab, natalan bersama, dan merayakan Valentine bersama, kini meninggalkan mereka, bahkan berbalik menyerang dan membunuh mereka bersama tentara Serbia.
Di tengah-tengah puing bangunan yang hancur terdengar desingan peluru yang menggema, ledakan mortir, dan tangis pilu wanita Muslim korban pemerkosaan. Dalam kegetiran, Muslim Bosnia mulai sadar dan kembali kepada identitas keislaman mereka.
Kesadaran muncul. Kaum perempuan kembali menggunakan kerudung, para lelaki sambil menenteng senjata untuk bertahan mulai kembali melakukan shalat. Azan mulai bergema di sela-sela gedung yang roboh. Kitab suci Alquran yang telah lama tersimpan di lemari-lemari dibuka kembali. Namun, mereka terlambat. Mereka sedang diburu peluru dan ujung belati yang haus darah Muslim.
Gempuran yang terjadi membuat Muslim Bosnia harus mengungsi ke kamp-kamp pengungsian. Srebrenica menjadi salah satu kamp terbesar. PBB menyatakan Srebrenica sebagai zona aman bagi pengungsi. Namun, zona itu hanya dijaga oleh 400 penjaga perdamaian dari Belanda, versi lain bahkan menyatakan hanya 100 personel. Tidak ada yang menjamin nyawa Muslim yang mengungsi aman.
Medan pembantaian terbesar umat Muslim abad modern ini bahkan membuat Indonesia tersentak. Pada awal Maret 1995, Presiden Soeharto dan rombongan terbang langsung ke Eropa dan merangsek ke wilayah yang membara, Sarajevo. Memimpin negara Muslim terbesar menjadikan Soeharto melakukan operasi "berani mati" walau PBB menyatakan tak bisa menjamin keamanan kunjungannya.
Pada 6 Juli 1995, pasukan Serbia mulai menggempur pos-pos tentara Belanda di Srebrenica dan berhasil memasuki Srebrenica lima hari setelahnya. Anak-anak, wanita, dan orang tua berkumpul di Potocari untuk mencari perlindungan dari pasukan Belanda. Pada 12 Juli, pasukan Serbia mulai memisahkan laki-laki berumur 12-77 tahun. Mereka dibawa dengan dalih untuk interogasi. Sehari setelah itu, pembantaian terjadi di gudang dekat Desa Kravica.
Malang tak terbendung. Kabar yang berembus menyebut 5.000 Muslim Bosnia yang berlindung diserahkan kepada pasukan Serbia karena Belanda meninggalkan Srebrenica. Muslim Bosnia pun sendirian di antara negara-negara Eropa yang hebat.
Dalam waktu lima hari, 8.000 orang terbunuh di Srebrenica. NATO turun tangan setelah pembantaian, memaksakan perdamaian yang sangat terlambat. Di Sarajevo, 11 ribu orang dibantai tanpa ampun selama tiga tahun penyerangan. Diperkirakan, keseluruhan korban perang Bosnia mencapai 100 ribu orang.
Sesuai dengan Kesepakatan Dayton tahun 1995, keutuhan wilayah Bosnia dan Herzegovina ditegakkan. Namun, negara tersebut dibagi dalam dua bagian: 51 persen wilayah gabungan Muslim-Kroasia (Bosnia dan Herzegovina) dan 49 persen Serbia. PBB juga berjanji mengadili para penjahat perang dalam serangan yang kemudian disebut genosida pertama di dunia.
Mantan presiden Republik Srpska (Serbia) Radovan Karadzic ditangkap pada 21 Juli 2008. Tiga bulan lalu, 23 Maret 2016, Karadzic diganjar 40 tahun penjara oleh International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia (ICTY). Dia terbukti bersalah atas pembantaian 8.000 Muslim Bosnia.
"Karadzic juga melakukan kejahatan kemanusiaan lain selama Perang Bosnia 1992-1995,'' demikian bunyi amar putusan ICTY. Sementara, pemimpin serangan Srebrenica, Jenderal Ratko Mladic, ditangkap pada Mei 2011. Kini dia sedang diadili di Mahkamah Internasional.
Pembantaian Muslim Bosnia dengan dalih penyatuan negara menjadi pelajaran bagi umat Islam di luar semenanjung Arab, khususnya Indonesia. Cerita pilu yang mendera Bosnia sepatutnya mengingatkan Indonesia agar tidak terlena dalam penghambaan pada sekulerisme. Sebab, sekulerisme memiliki banyak wajah. Salah satunya adalah untuk menghilangkan warna, pengaruh, dominasi, dan hak-hak yang mayoritas.
Ketika Muslim mayoritas lemah karena krisis identitas, akan sangat mudah dipecah dan diadu domba. Di Indonesia sendiri, upaya agar Muslim meninggalkan identitas agama dalam kehidupan berbangsa dan negara telah ada sejak dulu.
Belakangan, gerakan itu mulai tampak di permukaan dengan sangat masif dan sistematis, bahkan oleh lembaga legal sekali pun. Karena itu, jangan heran jika ada Muslim yang sangat ngotot menghina agamanya demi membela kebebasan versinya.
Jangan heran jika ada Muslim yang ikut menghina ulamanya hanya karena ulama tersebut tak sepaham dengannya. Tidak heran jika banyak Muslim tak suka dengan tulisan-tulisan yang membahas penolakan Islam terhadap sekularisme. Inilah yang terjadi di Indonesia masa kini, negara yang masih dihuni oleh mayoritas umat Islam.
Sementara, tidak ada yang salah dalam toleransi, sepanjang yang diberi toleransi tidak berlebihan, apalagi sampai menindas yang memberi toleransi. Di al-Ludd (kini Tel Aviv), Palestina pada 1903, beberapa Yahudi datang menawarkan persaudaraan dan hidup damai dengan warga Arab dan Palestina.
Namun, hari-hari setelah deklarasi berdirinya Negara Israel pada 1948 oleh Eropa, warga Yahudi berubah menjadi buas bersama kedatangan para tentara Israel. Juli 1948, warga Arab Palestina dibantai, termasuk ribuan orang yang dimasukkan ke dalam masjid kemudian diberondong dengan peluru antitank.
Malamnya, sekitar 35 ribu orang Arab Palestina berduyun-duyun meninggalkan kota kelahiran mereka, yang kemudian menjadi pusat pembantaian berikutnya: Tel Aviv. Hari berganti, warga Yahudi datang dengan gelombang eksodus setiap saat. Jadilah Palestina yang terjajah hingga saat ini. Sederhana, tapi sangat ekstrem dan kejam.
Dunia juga mencatat betapa kejam perlakuan kepada pemeluk Islam yang menjadi minoritas. Hanya PBB dan bantahan dari Myanmar sendiri yang menyatakan pembunuhan terhadap Muslim Rohingya bukan sebuah genosida. Jauh dari itu, kenyataan menceritakan bagaimana genosida dilakukan dengan cara brutal dan terbuka oleh Buddha Myanmar kepada Rohingya yang tak berdaya.
Belajar dari Muslim Bosnia yang mayoritas, saat ini mereka menjadi lebih agamais. Di tengah toleransi, perbedaan, dan kerukunan antarumat beragama, mereka tetap memperhatikan nilai-nilai Islam sebagai identitasnya. Kenyataan pahit 1992-1995 telah mengajarkan kepada mereka bagaimana dunia berdetak, bahwa keburukan hanya beberapa helai di balik kebaikan.
Kini Muslim Bosnia tak lagi merayakan tahun baru. Mereka lebih banyak menjaga diri dari melecehkan akidah Islam. Meski begitu, Bosnia tetap menjadi satu-satunya tempat di Eropa, di mana terdapat gereja, masjid, dan sinagoge yang berdiri berdampingan.
Mungkin 1,8 juta Muslim Bosnia mulai sadar bahwa apa yang dikatakan menantu Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib, "Kejahatan yang terorganisasi akan mampu mengalahkan kebaikan yang tak terorganisasi," benar adanya. Wallahualam.
Penulis : Ilham Tirta (Wartawan Republika Online)
PENGADUAN (Bag. 2)
by @salimafillah
Dalam sebuah acara akbar di kota Isma'iliyah, Presiden Mesir saat itu, Anwar Sadat berpidato. Di antara hal yang disampaikannya pada forum terbuka itu adalah tuduhan dan hujatannya terhadap Jama'ah Ikhwanul Muslimin sebagai "orang-orang sektarian, ekstrimis agama, radikalis sesat, penipu rakyat, yang berniat jahat terhadap bangsa, dan negara."
Begitu turun dari mimbar, Anwar Sadat terenyak.
Ternyata di acara itu hadir pula Ustadz 'Umar At Tilmisani, pemimpin Jama'ah Al Ikhwan. Mursyid 'Aam ketiga yang menerima amanah kepemimpinan organisasi dakwah setelah Hasan Al Banna dan Hasan Isma'il Al Hudhaibi ini memandang sang Presiden dengan senyum teduh namun sorot tajam.
Sang Presiden segera mendekatinya dan menyalaminya dengan ta'zhim tapi dengan perasaan campur aduk.
"Sudah selayaknya", ujar Ustadz 'Umar At Tilmisani, "Sebagai rakyat yang kaupimpin, jika mendapatkan kezhaliman dan fitnah, maka kami akan mengadukan masalah kami kepadamu." Beliau berhenti sejenak sambil menampakkan senyum kecewa. "Tapi jika kezhaliman dan fitnah itu justru datang dari dirimu, kepada siapa lagi kami mengadu?"
Anwar Sadat tersenyum kecut.
"Ya, kami hanya akan mengadukannya kepada Allah saja."
Kata-kata itu menitikkan bulir keringat dingin di dahi sang penguasa Mesir. Presiden yang dikecam dunia Islam karena menjadi pemimpin Arab pertama yang merintis perjanjian damai dengan Negara Zionis itu lalu kembali menggenggam tangan Mursyid 'Aam dengan gemetar dan meminta maaf berulangkali jika dia dianggap telah berbuat salah.
Tetap dengan senyumnya yang khas, Ustadz 'Umar At Tilmisani mengatakan, "Tenanglah wahai Tuanku Presiden. Kami mengadukanmu kepada Dzat Yang Maha Adil lagi tidak pernah zhalim, dan Dia Maha Teliti lagi tidak pernah keliru."
terima kasih Pak Lasmo, mudahan saya bisa bermanfaat untuk negeri ini.Â
4 November 2016
*copas dari fb Bu Suci Ummi Adam*
"Mengocehlah! Agar Jakarta tak seperti Granada"
Berita Islam 24H -
(1). Apa yg menyebabkan kerajaan Granada, sbg salah satu kerajaan Islam terkuat di Eropa, akhirnya runtuh?
(2). Jawaban pastinya adalah karena serangan musuh.
(3). Tapi serangan musuh tentu tidak serta merta dilakukan begitu saja. Banyak faktor yg harus diperhitungkan. Salah satunya adalah 'timing' yg pas.
(4). Utk mengetahui kapan 'timing' yg pas, raja Ferdinand dari Aragon perlu mengutus mata2.
(5). Yg dilakukan sang mata2 cukup sederhana : pantau 'ocehan' masyarakat Granada.
(6). Satu waktu ia melihat anak kecil menangis. Dihampirinya sang bocah dan bertanya ttg apa yg menyebabkannya menangis?
(7). "Aku menangis karena anak panahku tidak tepat sasaran", jawab sang bocah. "Bukankah kamu bisa mencobanya lagi?", kata sang mata2.
(8). Jawaban sang bocah cukup mengejutkan. "Jika satu anak panah saya gagal mengenai musuh, apa mungkin musuh memberi saya kesempatan utk memanahnya lagi?"
(9). Mendengar 'ocehan' bocah tsb, sang mata2 menyarankan raja Ferdinand utk tidak menyerang Granada saat ini. Anak kecilnya aja begitu, gimana org2 tuanya?
(10). Bbrp tahun kemudian sang mata2 kembali ke Granada dan dilihatnya seorang dewasa yg sedang menangis.
(11). "Mengapa kau menangis?" tanya si mata2. "Kekasihku meninggalkan aku", jawab si org dewasa tsb.
(12). Maka sang mata2 merekomendasikan inilah 'timing' yg tepat utk melakukan penyerangan.
(13). Tidak butuh lama, Granada sbg benteng terakhir kaum muslimin di Eropa, dapat dikuasai dgn mudah.
(14). Puncak malapetaka bagi kaum muslimin Granada adalah dgn dibentuknya lembaga Inguisition (inkuisisi, pengadilan yang dibentuk oleh dewan gereja). Pilihannya hanya 2 : menerima ajaran katholik atau dibantai.
(15). Maka tamatlah riwayat kaum muslimin di Andalusia, dan Eropa secara keseluruhan.
(16). Mungkinkah tragedi Granada terulang di negeri kita? Bisa iya, bisa tidak. Tergantung apa 'ocehan' kita.
(17). Saya teringat sebuah ceramah dari 'Da'i Sejuta Ummat', (alm) KH. Zainuddin MZ. Beliau katakan: "Allah memang menjamin bahwa Islam akan terus ada di muka bumi hingga akhir zaman; namum Dia tidak menjamin bhw Islam akan terus ada di Indonesia."
(18). Spt mata2 di Granada dulu, musuh2 Islam saat ini jg sedang memata-matai kita. Menunggu 'timing' yg pas.
(19). Bahkan kini mrk tak perlu repot2 terjun langsung ke lapangan utk mengetahui isi ocehan dan obrolan kita.
(20). Cukup pantau sosial media dan simak tema2 apa yg menjadi concern kaum muslimin.
(21). Utk saat ini bolehlah kita bernafas lega. Namun tetap bersiaga.
(22). Bahwa disaat MU kalah telak oleh Chelsea, kita masih 'ngoceh' soal penindasan saudara kita di Suriah dan Palestina.
(23). Bahwa tatkala valentino rossi terjatuh, kita masih 'ngoceh' ttg qur'an yg dinistakan.
(24). Bahwa ditengah dukungan terhadap adik Rachel di Voice Kids Indonesia, kita juga semangat mendukung petisi2 online yg digalang utk memenjarakan ahok.
(24). Ini tanda dan mjd pesan bagi musuh bhw ghiroh jihad itu blm luntur dari dada kaum muslimin.
(25). Apalagi kemudian terbukti bhw kita tidak sekedar besar ngoceh di sosial media, tapi juga wujud di dunia nyata.
(26). Jutaan kaum muslimin, tidak hanya di Jakarta, tapi di berbagai tempat hadir dalam aksi-aksi pembelaan terhadap kehormatan agama yg dilecehkan, dan puncaknya insya Allah pada 4 November nanti.
(27). Ini jelas membuat musuh ketar-ketir meski di back up kekuasaan sekalipun.
(28). Apalagi setelah ustadzuna, KH. Tengku Zulkarnain (wasekjen MUI) menyampaikan 'ocehan' nya: "Wahai Para Penjilat dan Penjual Agama! Berhenti lah Menghina Kami Umat Islam. Nanti Jika Kami Teriakkan JIHAD AKBAR, Kalian Musnah."
(29). Maka jangan anggap remeh meski sekedar 'mengoceh' di dunia maya utk membela Islam. Krn bisa jadi inilah yg membuat mrk berfikir ulang utk menyerang kita. #Granada
(30). Ini ocehanku mana ocehanmu?
Ocehan karyawan yg terjepit di KRL.
#penjarakanAHOK #AHOKpenjajah @ansoricca
retorika
Aku mulai bertanya,Â
Akankah ilmu yg sedang ditekuni ini kelak bermanfaat?.Â
Apakah waktu yang sudah kuhabiskan tanpa emak ini, dapat memperberat timbangan amal?Â
Apakah uang beasiswa yang kuhabiskan ini tidak akan menyakiti hati anak yatim piatu fakir miskin di luar sana?
Ya Rabb, aku tidak butuh jawaban. Aku hanya minta pada Mu, yaa Al âAliim, luruskan niat ini ketika berbelok sedikit saja agar tak ada ILLAH lain selain Engkau, yaa Al Ahad.Â
#minggupertamaujian
Engineer :)
An Engineer, A Mathematician, A Physicist, An Economist, and A Computer Scientist walk into a bar. They have a nice table talk and ready to pay for the bill.
Engineer: Remember to tip 18%, everybody.
Mathematician: Is that 18% of the pre-tax total, or of the total with tax?
Physicist: You know, itâs simpler if we assume the system doesnât have tax.
Computer Scientist: But it does have tax.
Physicist: Sure, but the numbers work out more cleanly if we donât pay tax and tip. Itâs a pretty small error term. Letâs not complicate things unnecessarily.
Engineer: What you call a âsmall error,â I call a âcollapsed bridge.â
Economist: Forget it. Taxes are inefficient, anyway. They create deadweight loss.
Mathematician: There you go againâŠ
Economist: I mean it! If there were no taxes, I would have ordered a second soda.
But instead, the government intervened, and by increasing transaction costs, prevented an exchange that would have benefited both me and the restaurant.
Engineer: You did order a second soda.
Economist: In practice, yes. But my argument still holds in theory.
The computer scientist lays a smart phone on the table.
Computer Scientist: Okay, Iâve coded a program to help us compute the check.
Mathematician: Hmmph. Any idiot could do that. Itâs a trivial problem.
Computer Scientist: Do you even know how to code?
Mathematician: Why bother? Learning to code is also a trivial problem.
Engineer: Uh⊠your program says we each owe $8400.
Computer Scientist: Well, I havenât de-bugged it yet, if thatâs what youâre getting at.
Physicist: This is a waste of time. Letâs just split it evenly.
Economist: No! Thatâs so inefficient. Letâs each write down the amount weâre willing to put in, then auction off the remainder at some point on the contract curve.
Physicist: Huh?
Mathematician: Like most economics, thatâs just gibberish with the word âauctionâ in it.
Engineer: Look, itâs simple. Total your items, add 8% tax, and 18% tip.
Mathematician: Sure. Does anybody know 12 plus 7?
Computer Scientist: You donât?
Mathematician: What do I look like, a human calculator? Numbers are for children, half-wits, and bored cats.
The engineer looks at the cash theyâve gathered.
Engineer: Is everyoneâs money in? It seems weâre a little shortâŠ
Physicist: How short?
Engineer: Well, the total was $104, not including tip⊠and so far weâve got $31.07 and an old lottery ticket.
Physicist: Close enough, right? Itâs a small error term.
Mathematician: Which of you idiots wasted your money on a lottery ticket?
Economist: I should mention that Iâm not planning to eat here again. Are any of you?
Computer Scientist: What does that matter?
Economist: Well, in a non-iterated prisonerâs dilemma, the dominant strategy is to defect.
Engineer: Meaning?
Economist: We should be tipping 0%, since weâll never see that waiter again.
Computer Scientist: Thatâs awful.
Physicist: Will the waiter really care â 0%, 20%? Letâs not split hairs. Itâs a small error term.
The engineer looks up from a graphing calculator.
Engineer: All right. Iâve computed the precise amount each of us should pay, using double integrals and partial derivatives. I triple-checked my work.
Mathematician: Didnât we all order the same thing? You could have just divided the total by five.
Engineer: I could? I mean⊠of course I could! Shut up! You think youâre so clever!
Economist: So, weâre all agreed on a 0% tip?
Computer Scientist: Well⊠the waiter did only bring two orders of fries for the table.
Physicist: We only ordered two.
Computer Scientist: Exactly. We got the 1st order, and the 2nd, but never the 0th.
Economist: Iâll be frank. At this point, my self-interest lies in not paying. And the economy prospers when we each pursue our individual self-interest. See you later!
The economist dashes off. The engineer and computer scientist glance at one another, then follow.
Mathematician: Looks like itâs just me and you, now.
Physicist: Good. The two-body problem will be easier to solve.
Mathematician: How?
Physicist: By reducing it to a one-body problem.
The physicist scampers away.
Mathematician: Wait! Come back here!
Waiter: I notice your friends have gone. Are you done with paying the check?
Mathematician: Well, Iâve got a proof that we can pay. But I warn you: itâs not constructive.
ayah
Ibumu, ibumu, ibumu, lalu ayahmu.Â
Al Qurâan ternyata menyimpan dialog-dialog ayah dan anak-anaknya.Â
Dialog-dialog ini memang tidak seindah ucapan seorang ibu. Tapi lihatlah, betapa Nabi Yusuf AS masih menyimpan setiap perkataan ayahnya, Nabi Yaqub AS, meskipun sekitar 40 tahun tak bersua [QS. 12: hampir diseluruh ayat]. Tak keluar sedikitpun cerita derita dari ucapannya.
Atau coba baca Al Qurâan, bagaimana seorang ayah, Nabi Ibrahim AS, menanyakan pendapat ke anaknya, Nabi Ismail AS, tentang perintah penyembelihan [QS. 37:99-111]. Padahal Nabi Ismail AS tidak pernah bertemu ayahnya hingga saat mau disembelih. Sama sekali tidak ada kebencian muncul dihati Nabi Ismail AS.
Dialog yang kental nasihat, yang di awal ayat âyaa bunayyaâ, QS. 31:12-19. Di surah ini sangat jelas tertulis nasihat-nasihat ayah Lukman ke anaknya. Bacalah, nasihat pertama yg ayah Lukman sampaikan adalah tauhidullah. Nasihat berakhir dengan dialog muamalah yang dianalogikan dengan berjalan sederhana dan melunakan suara. Ya, ayah lebih punya pengalaman bermuamalah daripada ibu.
Jangan pikir ayah tak bisa sedih, bacalah Al Qurâan. Bacalah bagaimana Nabi Nuh AS terus-menerus memanggil anaknya supaya naik ke kapal [QS. 11:42-43]. Betapa hatinya tak remuk redam melabuhkan bahtera hanya ditemani hewan.Â
Baca juga Al Qurâan yang bercerita tentang betapa sayangnya Nabi Ibrahim AS pada ayahnya yang âberbedaâ. Nabi Ibrahim AS memilih berpisah dari ayahnya untuk menghindari pertengkaran, setelah segala usaha baik dilakukannya termasuk doâa [QS.19:41-50].
Satu kisah lagi, dialog sakaratul maut Nabi Yaqub AS kepada 12 orang putranya. Baca QS. 2:133, lihatlah betapa seorang ayah sangat merisaukan anaknya bahkan ketika nyawa sudah di ujung jasad. Lagi-lagi, tauhidullah yang disampaikan.
Ayah memang tak sehangat ibu, tak se-siaga ibu, juga tak secekatan ibu. Tapi coba cermati dialog-dialog dalam Al Qurâan itu. Niscaya akan terlihat, ternyata dialah yang sebenar-benarnya membentuk raga dan jiwamu.
Entahlah, tiba-tiba terpikir tentang ayah. Dan mulai merindukannya.
*Hint : coba lihat alur keturunan dari cerita ayah dan anak di atas. Masya Allah, kisah ayah-anak bermula dari Nabi Nuh AS hingga ke Nabi Yusuf, mereka berada dalam satu keturunan :)
just stored here supaya ga tenggelam :)
beside of homeless policy view, I love her british style :)Â
yup, bumi ini masih luas untuk menampung orang yang sedang dirampas hak hidupnya
âRemember, remember always, that all of us, and you and I especially, are descended from immigrants and revolutionists.â â Franklin D. Roosevelt
luruskan niat setiap saat dengan bismillah :)Â
anytime u called me, it donât matter where I am, I always be there like uâve been there
mama, i am grown up now.
missing u badly Â
Many people are lessons. Some people are friends. One person is a soulmate.
fossilized-dragon (via wnq-writers)
she is emak