Setiap manusia yang mempunyai ‘’burung’’ adalah lelaki. Begitulah pemikiran ku dahulu.
Yang kubayangkan dahulu tentang lelaki adalah bekerja, dapat gaji, berlibur. Ups... Salah BESAR.
Menjadi lelaki adalah proses pendewasaan seorang bocah yang memiliki ‘’burung’’ untuk menjadi panutan untuk anaknya. Hahhaa begitulah yang ku pikirkan.
Saat ini aku merasakan begitu perbedaaan mendalam antara bocah dan lelaki sesungguhnya. Perbedaan itu adalah tanggung jawab. Aku ingin bercerita sedikit tentang lelaki yang ku kagumi dari dulu.
Dapat ku mulai dari namanya Pak Djaman, seorang lelaki dari 7 bersaudara dan beliau adalah anak bungsu. Orang tuanya adalah petani biasa di daerah Maos, Cilacap. Saudara nya pun tidak berbeda dengan dengan pekerjaan orang tuanya, termasuk Pak Djaman ini. Pak Djaman mungkin sedikit berbeda karena beliau lahir saat Indonesia baru merdeka 1 tahun. Sedangkan saudara –saudarnya lahir sebelum masa kemerdekaan, mungkin hal ini juga membedakan pola pikirnya.
Pola pikir untuk ‘’Maju’’ beliau merantau ke Jogja untuk bersekolah sampai tingkatan STM. Kala itu beliau mengikuti Sekolah Pendidikan Guru atau sejenisnya. Setela merantau beliau memulai karir menjadi seorang guru, kala itu seorang guru adalah orang yang disegani oleh orang desa. Namun gaji guru kala itu tidak banyak. Beliau menemukan pasangannya, dengan hanya waktu 5 hari. Beliau melamar anak gadis hitam manis itu kepada bapaknya, dengan cepat lamaran itu diterima, walaupun sang gadi sebenarnya sdeang menunggu seorang tentara yang sedang bertugas.
Singkat cerita mereka hidup sederhana di gubuk yang tak jauh dari rumah orang tua gadis hitam manis. Sang gadis adalah anak ke- 2 yang memiliki 5 adik yang masih kecil. Sebagai kepala rumah tangga dan kakak dari adik sang gadis. Beliau harus berjuang menyekolahkan adik dan membesarkan anaknya. Membuka bengkel adalah sampingannya, dari keahlian yang didapat dari STM (baca. Istilah sekarang) dan belajar otodidak dengan membaca buku otomotif. Beliau membuka bengkel sepeda dan tambal ban, tidak hanya itu beliau pun mempunyai garapan sawah. Terbayang rutinitasnya, pagi harus mengajar, sore ke sawah dan selalu siap jika ada panggilan untuk menambal ban.
‘’Bapak, sudah 8 tahun setelah bapak meninggalkan kami. Sungguh anak bungsu mu ini sangat merindukanmu’’ Begitulah kata seorang anak bungsu yang merindukan bapaknya. Seorang lelaki yang bertanggungjawab menyekolahkan adik – adiknya dan anaknya. Waktu begitu cepat berjalan dari rutinitasnya setiap hari sampai beliau dapat membangun rumah memiliki sawah sendiri, menyekolahkan adik – adiknya dan membesarkan anaknya. Aku adalah anak bungsu dari pasangan Bapak Djaman dan Bu Sitem (baca. gadis manis).
Banyak belajar dari seorang bapak yang sangat bertanggungjawab pada anaknya. Seorang bapak yang menyayangi anak – anaknya, selalu tersenyum, mempunyai prinsip teguh. Aku berharap bisa menjadi seorang lelaki seperti bapak. Terimakasih bapak.