Pukul 16.00 saya tiba di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda untuk menjenguk sahabat yang mengalami musibah kecelakaan. Perasaan cemas dan was-was menghampiri sesaat ketika mengetahui kabar sahabat dekat saya terbujur di tempat pemeriksaan IGD. Saya berada pada kondisi yang tidak nyaman, di penuhi rasa takut memahami ukhuwah islam yang memberikan perhatian kepada sahabat yang pernah berjuang bersama menebar kebaikan. Tepat 3 hari yang lalu saya berjaga dan mengurus sahabat saya Fadly Idris. Namun, ada beberapa hikmah yang saya temukan, di kala berada di Rumah Sakit. Ya, ini adalah pengalaman dan pembelajaran yang berharga. Hal yang tidak terduga dan tiba-tiba menjadi tamparan bagi iman yang sering naik-turun bahkan futur sering menjadi bayangan yang kelam. satu pertemuan yang membuat saya sangat terenyuh. Sangat teramat terenyuh dengan keteguhan dan kesabarannya. Mencoba bertahan dengan balutan iman yang mengabdi penuh pada sang pencipta Allahu subhanahu wa ta’ala. Saya melihat begitu tampak ketaqwaan yang terlukis dari wajah yang bercahaya begitu menyejukkan hingga lupa akan ujian dan cobaan yang datang di depan mata. Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar. Hanya kalimat itu yang bisa saya lontarkan, melihat anak berkebutuhan khusus yang memilki keterbelakangan otak dan fisik (idiot, “maaf”) terbaring ketika hendak di suntik oleh perawat yang tepat berada diruangan yang sama di saat saya menjenguk fadly. Ditemani sang ibu terbalut kain hitam yang lebar menjulur hampir sampai alas kaki dan cadar menutupi raut wajahnya. Tiba pula sang ayah yang mengenakkan gamis di atas mata kaki dan “peci” dikepala serta jenggot yang tumbuh memanjang di dagu.
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”. “Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS.Al ‘Ankabut: 2-3). Al-mukminun (orang-orang yang beriman) patut diuji oleh allah karena allah membutuhkan bukti dari sejengkal iman yang ada dalam hati dan keyakinan kita . Apapun ujian dan cobaannya ketika kita menyerah, maka sesungguhnya kita jauh dari kata “al-mukminun”. Sahabat, semua yang kita hadapi adalah titipan yang diberikan Allah. Entah itu membahagiakan ataupun menyedihkan , kita harus bisa menerimanya dengan rasa syukur. Jangan mudah mengeluh, jangan mudah menyerah hingga diri pun hanya terucap “pasrah” . Saya pun pernah dalam kondisi seperti itu, jauh dari orang tua karena harus merantau berjuang melawan waktu, tinggal dengan keluarga yang tidak seagama dan berbuat maksiat karena iman masih belum tumbuh mengakar dalam hati dan jiwa. Inilah hidup yang terasa berat , ketika diwarnai dengan sumpah serapah dan keluh kesah. Saya memandang dengan haru. Maaf, mindset yang beredar seringkali menyayat hati. Beberapa oknum yang mengatasnamakan agama dan perintah agama mencoba bertindak diluar dari kendali prinsip rahmatan lil a’lamin. Sesungguhnya bukan agama yang menjadi sasaran hujatan semu kita, namun orang (oknum) yang belum memahami secara syumul apa yang di maksud dengan “taqwa” . Saya melihat dengan sadar rasa kasih sayang dan perhatian yang tercurah oleh sang ibu memberikan perlakuan yang sama seperti selayaknya hubungan ibu dengan anaknya. Dengan sabar mengelap liur anaknya yang sering menetes karena keterbatasan keadaan si anak. Beberapa kali ayah memeluk dan mencium pipi anaknya untuk memberikan ketenangan ketika sedang dirawat oleh perawat, walau sesekali si anak memberontak dan menangis kencang karena enggan mendapatkan penanganan medis diruang IGD tepat dimana saya pun duduk sekitar 2 meter berjarak dengannya. Sungguh menyejukkan al-mukminun bercampur dengan isak tangis yang tertahan menahan peristiwa yang membuat saya mulai tersadar pentingnya arti iman yang sebenar-benarnya.
“Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS.Ali Imran ayat 170) . “Mafiqolbi ghairullah” tak ada dihatiku selain Allah . Semua orang memiliki kadar keimanan yang berbeda. Tidak ada yang mengklaim bahwa dirinya lah yang paling sempurna dan terbaik ketika berhadapan Nabi Muhammad, saw. Karena seyogyanya kita lah yang berusaha memantaskan agar bisa mencontoh uswatun khasanah rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ini lah cinta , ini lah pengabdian dan pengorbanan. “Nahnu nuqottil annas bil hub”, kita menaklukan manusia dengan cinta , seperti nasihat Imam Hasan Al-Banna memberikan penyemangat bagi kita semua. Cinta yang terpaut hanya kepada allah. Saya menahan air mata ketika sang ibu mulai memeluk anaknya yang hendak disuntik perawat karena harus mendapatkan penanganan medis serius. Dengan lembut membelai sang anak yang mulai meronta kesakitan karena tangan kanannya telah terbungkus gips yang dipasang dokter. Sang ayah mencoba memberi penjelasan kepada dokter dengan seksama . Sekali lagi saya hanya melihat dari kejauhan dengan begitu takjub melafadzkan kalimat tasbih dalam hati berulang-ulang. Inikah cinta? . Tidak ada rasa beban yang terpampang dalam wajah teduhnya. Padahal cobaan nyata yang dihadapannya. Sang anak yang berkebutuhan khusus tak sadar sudah bersama dengan sang adik perempuan yang dibalut jilbab hitam memegang tangan sang ibu, seraya memandang sang kakak dengan tatapan kawatir. Ya, inilah cinta yang tertuju kepada allah. Saya yakin , teramat yakin. Allah menurunkan anak bagi pasangan suami-istri tidak lain hanyalah sebagai titipan bukan kebanggaan. Raut wajah sang ibu dan ayah begitu menenangkan tidak menganggap adanya cobaan maupun ujian. Masyaallah, “innama’al usri yusro” , sesungguhnya bersama dengan kesulitan, ada kemudahan.
Tentang Rasa Syukur yang Mendalam
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim : 7) . Berbagai hal yang hadir dalam hidup ini. Berbagai harapan dan kenyataan yang tertuang sebagai saksi hidup yang begitu memberikann cerita yang berbeda disetiap masanya. “likulli marhalatin masyakiluha”, setiap marhalah (masa) itu ada masalahnya. Inilah yang harus kita bangun sedari awal membangun niat dalam hati yang seringkali berubah tak terarah. Rasa syukur yang mendalam. Ya, inilah yang ingin saya ceritakan. Tidak ada cobaan yang menjadi beban. Tidak ada ujian yang terasa penuh dengan kesedihan dan penderitaan, ketika rasa syukur merasuk dalam keimanan dan ketaqwaan. Sampai saat ini , saya merasa bahwa inilah kesempatan yang tepat. Kesempatan yang memberikan hal yang paling berharga dalam proses pembelajaran. Ini bukan persoalan seberapa luas ilmu pengetahuan yang kita punya, seberapa lapang harta yang ada disekeliling kita, dan seberapa tinggi jabatan yang melekat pada diri dengan kuasa dan perintah semena-mena, tapi sesungguhnya hanya karena syukur kita bisa mengatasi semua hal yang hadir dalam bingkai hidup kita. Ketika tidak di selimuti dengan rasa syukur, subhannallah apa yang akan di lakukan orang tua yang memiliki anak yang tidak sempurna fisik dan jiwanya?. Sudah banyak berita media yang menggambarkan perilaku biadab orangtua membuang bahkan membunuh anaknya hanya karena rasa malu dan gengsi. Naudzubillah minzalik. Tapi berbeda dengan kisah Ayah dan Ibu anak berkebutuhan khusus yang saya temui dikala itu . Rasa haru melihat sikap orang tua sang anak tersebut. Bisik pelan sang ibu “nak, kamu akan sembuh bersabar ya. Allah bersama kita.”
Saya merasakan begitu tersayatnya hati ini ketika masih sering khilaf meragukan kebesaran sang pencipta. “Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik” ,wahai zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu (HR. Tirmidzi). Saya bukan ustad, saya bukan ulama, saya bukan orang yang dianggap alim dan suci, saya hanya manusia biasa yang tak luput dari perilaku dosa. Saya menemukan nikmat iman yang begitu mendalam. Saya mencoba memposisikan sebagai ayah dan ibu anak berkebutuhan khusus tersebut. Tidak ada rasa yang menggambarkan kebahagiaan, ketika kita mampu bertahan dalam berbagai terpaan yang hadir dalam kehidupan. Tidak ada yang berharga selain mensyukuri apa yang kita punya. Apapun itu , syukuri saja . Jangan mengeluh, jangan menghujat dan pasrah akan keadaan yang di berikan allah kepada kita. Karena seyogyanya allah telah berfirman, “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”(QS.Ali-Imran :139) . "Wasta'inu bissobri wassholaah", jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu. Percayalah, semua akan berlalu ketika kita mampu untuk melangkah maju melawan berbagai ketakutan dan kekawatiran akan masalah yang begitu besar menghadang, tapi ingatlah sahabat kita mempunyai Allah yang maha besar yang dapat dengan mudah menghilangkan masalah besar dalam kehidupan yang fana ini.
Fastabiqul khairat keep moving and so must go on.
Samarinda, 16 November 2016. Pukul 01.15 WITA.