Jika berteman denganku membuatmu lupa untuk bersujud lebih lama, maka jangan duduk terlalu lama di sampingku. Aku bisa membuatmu merasa hangat, tapi barangkali itu hanya karena aku menutupi angin yang seharusnya membuatmu ingat: tubuhmu fana.
Kalau aku hanya jadi tempat kau menumpahkan keluh, tapi tak pernah membuatmu ingin mendoakan sesuatu selain dirimu sendiri, maka jangan panggil aku kawan. Mungkin aku hanya cermin yang memantulkan egomu, bukan jendela ke arah yang lebih tinggi.
Aku tidak ingin kau menyukaiku karena kita punya tawa yang sama, atau luka yang serupa, tapi karena saat bersamaku, kau lebih takut kehilangan Allaah daripada kehilangan aku.
Jika kita hanya saling mengisi waktu kosong dan bukan mengisi catatan amal, apa gunanya kita saling ada?
Jika bahuku nyaman, tapi tak pernah kau jadikan tangga untuk mendaki taubat, maka larilah dariku. Aku tak ingin jadi persinggahan yang membius.
Aku ingin, jika kita berpisah, ada malaikat yang mencatat bahwa pertemuan kita bukan sekadar cerita, tapi sebab diselamatkannya salah satu dari kita. Atau semoga, keduanya.
Kalau itu tidak terjadi, jangan anggap aku penting.
Dulu waktu masih muda, kami sering merasa jalan raya itu milik sendiri. Motor dipacu kencang. Nyalip truk kontainer cuma soal reflek dan keberanian.
Waktu itu hidup terasa ringan karena tidak ada yang menunggu di rumah.
Sampai suatu sore, sepulang kerja, aku boncengan dengan seorang kawan lama. RX-King-nya, yang biasanya meraung liar, kali ini melaju pelan. Santai sekali.
Lalu di tengah suara angin dan knalpot kendaraan lain, dia ngomong gini:
"Pas bujangan, kalau mau nyalip kontainer aku nggak pake mikir. Tapi pas udah nikah, aku mikirin istriku.
Udah punya anak, aku mikir dua kali.
Mikirin anak dan istriku.
Mungkin nanti kalau si kecil punya adik, aku akan mikir tiga kali.”
Aku diam.
Karena tiba-tiba kalimat itu terasa lebih dalam daripada semua nasihat motivasi tentang kedewasaan.
Ternyata menjadi dewasa bukan soal umur, jabatan, atau soal gaji bulanan.
Kadang kedewasaan lahir saat seseorang mulai sadar: nyawanya bukan lagi cuma miliknya sendiri.
Ada istri yang menunggu suara motor di depan rumah. Ada anak kecil yang belum mengerti apa itu kehilangan. Ada masa depan keluarga kecil yang ikut bergantung pada seseorang yang sedang memegang setang motor di jalan raya.
Dan sejak itu aku sadar kenapa banyak lelaki berubah pelan setelah punya keluarga.
Cara nyetirnya berubah. Cara marahnya berubah. Cara mengambil risiko juga berubah.
Bukan berarti mereka jadi penakut.
Tapi karena akhirnya mereka menyadari ada orang-orang yang lebih penting daripada ego mereka sendiri.
Ternyata selain membuat manusia jadi puitis, cinta juga bisa membuat seseorang mengurangi kecepatan motornya sepulang kerja.
—ditulis ketika tiba-tiba keinget omongan seorang sobat lama, hampir dua dekade yang lalu.
Pagi yang biasanya riuh oleh dering notifikasi, mendadak luruh menjadi hening yang menyesakkan.
Di layar ponsel itu, sebuah daftar nama berderet, bukan daftar hadir reuni, melainkan barisan nama mereka yang telah melangkah jauh menjadi bagian dari doa, mendahului kita semua.
Satu per satu nama itu kuseberangi dengan tatapan mata. Ada yang terasa seperti hembusan angin lama, namun ada beberapa nama yang membuat napas terhenti sejenak. Nama-nama itu bukan sekadar ketikan huruf di atas latar putih WhatsApp; mereka adalah tawa yang pernah pecah di koridor sekolah, rahasia yang pernah kita bagi di balik buku pelajaran, dan janji-janji masa muda yang kini membeku dalam keabadian.
Ingatan tentang mereka masih begitu lekat, seolah jika aku memejamkan mata, aku masih bisa mendengar gema suara mereka memanggil namaku. Ada haru yang merayap, menyadari bahwa kursi-kursi di meja nostalgia kita kini telah kosong secara fisik, meninggalkan lubang kecil dalam mosaik persahabatan kita.
Namun, di antara sesak dan haru, terselip sebuah getar syukur yang tulus.
Terima kasih, kawan, karena pernah menjadi bagian dari warna-warni hidupku. Terima kasih telah mengajarkan bahwa waktu adalah mata uang yang paling berharga. Kepergian kalian adalah pengingat paling tajam bahwa napas yang masih tersisa di dadaku pagi ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sebuah amanah.
Untuk kita yang masih berdiri di sini, biarlah duka ini tidak menjadi beban yang melumpuhkan, melainkan api yang menyemangati. Mari kita hidup lebih utuh, mencintai lebih tulus, dan berkarya lebih tekun, bukan hanya untuk diri kita sendiri, tapi juga untuk mewakili mimpi-mimpi mereka yang tak sempat tuntas.
Sebab selama ingatan tentang mereka masih kita jaga dengan penuh cinta, mereka tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya sedang menunggu kita di ujung jalan yang lain, sementara kita masih punya tugas untuk menyelesaikan sisa perjalanan ini dengan sebaik-baiknya.
Selamat jalan kawan, kami semua akan menyusulmu kemudian. Semoga kami lebih siap.
Ternyata ini alasan Rasulullah memilih Abu bakar menemaninya saat hijrah, bukan umar yang kuat, utsman yang kaya, atau ali yang mulia nasabnya. Itu karena Abu Bakar adalah sahabat yang paling saleh diantara 3 sahabat saleh lainnya.
Maka untuk kita yang hari ini sedang mencari teman...
Carilah teman yang saleh
Keaesalehan itu bisa menutupi fisik yang lemah karena bersamanya ada Allah yang maha kuat
Kesalehan itu bisa menutupi harta yang kurang karena bersamanya ada Allah yang maha kaya
Kesalehan itu bs meluhurkan derajat karena bersamanya ada Allah yang maha mulia
Teman terbaik adalah :
1. Teman yang bersamanya membuat kita ingat Allah dan akhirat
2. Teman yang bersamanya membuat kita bertambah ilmu
3. Teman yang bersamanya membuat kita bersemangat beramal saleh.
Aku mulai memahami bahwa hati ini memiliki lapisan-lapisan rahasia yang tak boleh dihuni oleh sembarang jiwa. Aku harus jujur pada diriku sendiri bahwa ada lebam di jiwaku yang tertinggal karena aku pernah begitu ceroboh; membiarkan tangan yang salah menyentuh lukaku, dan mengizinkan lisan yang tak bergetar oleh takut kepada Allah menjadi tempatku menumpahkan rahasia. Aku menyadari bahwa tidak semua yang menyapa adalah teman, tidak semua yang bersinggungan adalah kolega, dan sungguh, sangat sedikit jiwa yang benar-benar pantas menyandang gelar sahabat.
Kini aku belajar untuk lebih teliti memasang pagar di sekeliling jiwaku. Aku tidak lagi merasa bersalah saat harus menyaring siapa saja yang boleh melangkah masuk ke ruang terdalam hidupku. Bagiku, ini bukan tentang kesombongan atau menutup diri, melainkan tentang menjaga amanah Tuhan atas diri yang seringkali rapuh ini. Aku telah menyaksikan bagaimana prinsip yang kubangun bertahun-tahun bisa runtuh hanya dalam semalam, hanya karena aku salah meletakkan kepercayaan kepada mereka yang belum selesai dengan egonya sendiri.
Aku mencoba membingkai ulang arti sebuah pertemuan; bahwa setiap orang memiliki "maqam" atau kedudukannya masing-masing dalam garis takdirku. Ada yang Allah hadirkan hanya sebagai kenalan untuk menggugurkan kewajiban salam, ada yang sebagai teman untuk berbagi tawa di permukaan, namun sahabat sejati adalah ia yang kehadirannya membuatku lebih mencintai Rabb-ku. Aku percaya bahwa sahabat adalah cermin iman; jika aku salah memilih tempat curhat, aku tidak hanya merusak duniaku, tapi juga sedang mempertaruhkan akhiratku. Bagiku, lebih baik memiliki satu jiwa yang mampu membawaku bersujud, daripada seribu kawan yang hanya membuatku semakin jauh dari jalan pulang.
pada hari-hari yang terasa berat dan melelahkan, aku senang menyelami lautan di kepalamu sembari menengadah ke langit pagi atau sore yang memayungi tanah pijakan. pada hari-hari berbeda yang ternyata tidak kalah penatnya, adalah giliranku menumpahkan benang kusut di kepala sembari berbaring menyerap ion dari dasar dengan kipas yang bergerak kiri-kanan.
pada waktu-waktu yang menyenangkan alih-alih melelahkan, kita tidak sempat bertukar pikiran, tetapi kehadiran satu sama lain sudah mampu menenangkan. pada saat-saat lain yang lebih dari sekadar melelahkan, barangkali satu pelukan panjang sebentar adalah yang kita butuhkan.
sebagaimana kucing-kucing menyebalkan yang gemar sekali mengekori para penghuni, tikus-tikus hitam yang bisa ditemui di kotak sampah sisa makanan kemarin, kecoa, cicak, dan ulat bulu (hiyyy!) yang menyeramkan tidak akan lelah untuk muncul, aku ingin kita sama-sama tahu bahwa meski kita tidak ada untuk satu sama lain, apa yang ada di dalam hati kita sudah lebih dari cukup.
Diantara indahnya Islam yaitu Allah ﷻ turunkan agama yang sempurna, "al-yawma akmaltu lakum dinakum" yang tidak akan kita temukan dalam agama lain. Sampai perkara tentang pertemanan pun diatur dalam Islam.
Diantara luasnya Rahmat Allah ﷻ. Allah ﷻ tidak menjadikan ladang pahala hanya pada perkara-perkara yang sulit melainkan terdapat pula ladang pahala pada perkara yang mudah semisal berteman.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi ﷺ , Beliau ﷺ bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” (HR. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031)
Saling mencintai karena Allah ﷻ adalah merupakan ibadah yang agung. Pertemanan Abadi adalah pertemanan yang berlangsung di dunia kemudian berlanjut di akhirat.
"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa." (QS. Az-Zukhruf: 67)
Pertemanan mendatangkan kebahagiaan di dunia apalagi pertemanan diatas agama Allah ﷻ, betapa kebahagian itu disegerakan oleh Allah ﷻ ketika kita merasakan bahagia walau hanya bertemu dan berkumpul bersama teman yang shalih.
استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة
“Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat.” (Hasan Al- Bashri dalam Ma’alimut Tanzil, 4/268).
Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya (no/183) dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ’anhu sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:
“Ketika orang-orang mukmin selamat dari neraka, Demi jiwaku yang ada di Tangan-Nya, ada seorang di antara kalian yang paling semangat menuntut kepada Allah mendatangkan kebenaran dari kalangan orang mukmin yang masih di neraka. Mereka mengatakan, ‘Wahai Tuhan kami, mereka dahulu berpuasa, shalat dan haji bersama kami. Dikatakan kepada mereka, ‘Keluarkan orang yang anda kenal. Maka diharamkan gambar mereka dari neraka. Maka banyak sekali makhluk yang dikeluarkan dari neraka yang telah dilalap (api) neraka sampai setengah kali dan sampai ke kedua lututnya. Kemudian mereka mengatakan: “Wahai Tuhan kami, sudah tidak ada lagi orang yang telah Anda perintahkan kepada kami. (Allah) berfirman: “Kembalilah, Siapa saja yang kamu dapatkan di hatinya seberat dinar dari kebaikan, maka keluarkan dia. Maka banyak sekali makhluk yang dikeluarkan. Kemudian mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, sudah tidak ada lagi orang yang telah Anda perintahkan. (Allah) berfirman: “Kembalilah, Siapa saja yang kamu dapatkan di hatinya seberat setengah dinar dari kebaikan, maka keluarkan dia. Maka banyak sekali makhluk yang dikeluarkan. Kemudian mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, sudah tidak ada lagi orang yang telah Anda perintahkan. (Allah) berfirman: “Kembalilah, Siapa saja yang kamu dapatkan di hatinya seberat Dzarroh (atom) dari kebaikan, maka keluarkan dia. Maka banyak sekali makhluk yang dikeluarkan. Kemudian mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, sudah tidak ada lagi orang yang berbuat kebaikan.” Dan Abu Said Al-Khudri mengatakan, ‘Kalau sekiranya kamu semua tidak mempercayaiku dengan hadits ini, maka kalau mau bacalah ayat ‘Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar." (QS. An-Nisaa: 40)
"Berhak mendapatkan kecintaan-Ku, orang yang saling mencintai karena Aku. berhak mendapatkan kecintaan-Ku, orang yang saling menasehati karena Aku, berhak mendapatkan kecintaan-Ku, orang yang saling mengunjungi karena Aku, berhak mendapatkan kecintaan-Ku, orang yang saling memberi karena Aku. Mereka akan berada di mimbar-mimbar dari cahaya yang membuat iri para Nabi dan orang-orang shalih terhadap tempat mereka itu." (HR. Ibnu Hibban)
Umar ibn al-Khatthab berkata,
إن من عباد الله لأناسا ماهم بأنبياء ولاشهداء يغبطهم الأنبياء والشهداء يوم القيامة بمكانتهم من الله عز وجل
“Sungguh dari sebagian hamba-hambaku terdapat manusia, yang mana mereka bukanlah para Nabi dan tidak para syuhada’, namun membuat iri (cemburu) para Nabi dan para syuhada’, sebab mereka ditempatkan sebagaimana para Nabi dan Syuhada’ ditempatkan oleh Allah azza wa jalla”.
Mendengar itu, seseorang bertanya kepada Umar:
من هم وما أعمالهم؟ لعلنا نحبهم
“Siapakah Mereka, dan apa amal-amal yang mereka perbuat? Agar supaya kami juga ikut mencintainnya”.
قال: قوم يتحابون بروح الله عز وجل من غير أرحام بينهم ولا أموال يتعاطونها بينهم والله إن وجوههم لنور وإنهم لعلى منابر من نور لايخافون إذا حاف الناس ولايحزنون إذاحزن الناس
“Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah azza wa jalla tanpa ada hubungan saudara, dan tidak harta yang saling mereka berikan satu sama lain. Demi Allah, sunggu pada wajah mereka terdapat cahaya, pun mereka di atas berada dalam gudang-gudang dari cahaya. Mereka tidak takut sama sekali, di saaat manusia lain ketakutan, dan mereka tidak bersedih hati, di saat manusia lain bersedih”. (HR. Abu Daud)
Rasulullah ﷺ bersabda,
عن معاذ بن جبل رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: «قَالَ اللهُ -عَزَّ وجَلَّ-: المُتَحَابُّون فِي جَلاَلِي، لَهُم مَنَابِرُ مِن نُورٍ يَغْبِطُهُم النَبِيُّونَ والشُهَدَاء». [صحيح] - [رواه الترمذي وأحمد]المزيــد ...
Dari Mu'adz bin Jabal -radiyallahu 'anhu-, dari ﷺ, bahwasanya beliau bersabda, "Allah berfirman, 'Orang-orang yang saling mencintai karena keagungan- Ku, mereka memiliki mimbar-mimbar dari cahaya yang membuat iri para Nabi dan orang-orang yang syahid." (Hadist Shahih Diriwayatkan oleh Tirmidzi - Diriwayatkan oleh Ahmad)
Kita berteman dengan orang kafir dengan siapapun boleh jika ada hajat berdagang, berbisnis tapi jika kita ingin berteman dan sekaligus mendapatkan pahala maka bertemanlah secara khusus, bertemanlah dengan orang-orang shalih, bertemanlah dengan orang-orang yang bertakwa.
Rasulullah ﷺ menyuruh kita agar selektif dalam memilih teman,
عن أبي هريرة رضي الله عنه أَن النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ:
[حسن] - [رواه أبو داود والترمذي وأحمد] - [سنن أبي داود: 4833]
Abu Hurairah -radiyallahu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah kalian memperhatikan siapa yang dijadikan sebagai teman dekat." (Hasan) - HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad - Sunan Abu Daud - 4833)
Aturan-aturan agar pertemanan berlangsung abadi bukan hanya di dunia tapi berlanjut hingga di akhirat, yaitu:
“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1) barangsiapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah. (3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam Neraka.” (Al-Bukhari No.16)
“Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lainnya, dan seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya, mencegah hilangnya pekerjaan dan harta saudaranya, serta menjaga segala urusan saudaranya ketika tidak berada di tempat.” (HR. Abu Dawud, dihasankan oleh Al-Albani).
Sebelum kita menasehati orang lain, jadilah orang yang hatinya lapang untuk dinasehati. Sebagai konsekuensi kita sebagai seorang sahabat mukmin adalah siap menasehati teman ketika dia melakukan kesalahan.
Al Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Apabila para salaf hendak memberikan nasehat kepada seseorang, maka mereka menasehatinya secara rahasia… Barangsiapa yang menasehati saudaranya berduaan saja maka itulah nasehat. Dan barangsiapa yang menasehatinya di depan orang banyak maka sebenarnya dia mempermalukannya.” (Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam, halaman 77).
3. Menjaga amanah.
Semakin kita dekat dengan seseorang maka semakin kita tahu aibnya. Maka jagalah aib mereka, jagalah rahasia mereka. Berikut anjuran untuk menjaga rahasia orang lain,
الترغيب والترهيب - (ج 3 / ص 62)
وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: إِذَا حَدَّثَ رَجُلٌ رَجُلًا بِحَدِيْثٍ ثُمَّ الْتَفَتَ فَهُوَ أَمَانَةٌ. (رواه أبو داود والترمذي، وقال: حديث حسن)
“Dan diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhum, sungguh Rasulullah ﷺ bersabda: “Ketika seseorang berbicara terhadap orang lain dengan suatu pembicaraan, kemudian ia berpaling (darinya), maka pembicaraan itu adalah amanah.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: “Ini hadits hasan).
“Kau menghendaki seorang sahabat yang tidak ada kekurangannya… Apakah ada kayu gaharu yang mengeluarkan bau wangi tanpa asap..??
Terkadang Allah menunjukkan kekurangan seorang teman karena Allah ingin kita hanya bersandar kepada-Nya.
5. Pertemanan tidak mengharuskan untuk sering bertemu kecuali ada maslahat.
Nabi ﷺ bersabda:
زُرْ غِبًّا تَزْدَدْ حُبًّا
“Kunjungilah jangan keseringan maka akan menambah kecintaanmu.” (HR. At-Thabrani dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Karena kita butuh privacy untuk meluangkan waktu untuk suami/istri, anak, kerabat, dan untuk menyendiri beribadah kepada Allah. Justru jika sering bertemu memudarkan rasa cinta dan rindu, berbeda jika tidak keseringan bertemu.
6. Pertemanan tidak mengharuskan engkau mengetahui semua rahasia teman.
7. Berteman perlu pengorbanan.
Terkadang sebagai teman kita perlu berkorban waktu, juga berkorban harta.
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Jaami’ no. 176).
🖋️ @flevr___ | بنت علي
🔖Tema:Pertemanan AbadiBersama :Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.📖 Pertemanan Abadi📅 Selasa, 28 Januari 2025⏰ Ba'da Dzuhur - Selesai🕌 Masjid AM
Pertemuan kita dengan seseorang adalah bagian dari skenario Allah. Meskipun pertemuan itu menyisahkan suka duka, kita harus bisa menerima dengan lapang.
Hari hari berlalu begitu cepat. Sampai pada akhirnya ku bertemu dengan teman baru di tempat perantauan yang bisa sefrekuensi dalam hal tanggungjawab, berproses dan tempat bertukar pikiran. Membersamai selama hampir 2 tahun (belum genap). Tapi ternyata sesingkat ini pertemuan. Satu persatu pindah pada waktunya. Termasuk ini terjadi pada dia. Meskipun begitu, nikmati saja alurnya, sebab setiap detik itu berarti.
Pertemuan kita berawal dengan kebaikan maka akhiri lah sebuah pertemuan dengan perpisahan yang memiliki kenangan indah.
Terimakasih!! Terimakasih untuk saling berbagi ceritanya (mulai dari sedih, tertawa, sedih lagi tiba2 tiba tertawa lagi. Serandom itu kita emang. Terimakasih untuk saling menguatkan saat kita jenuh. Sukses di tempat yang baru. Tetap membumi dan rendah hati. Sampai ketemu di lain tempat dan waktu dengan segala cerita kita yang baru dan pastinya HARUS RANDOM.