Malam Hanya Milik Seorang Maling
Adzan subuh sudah ada di tenggorokan muadzin, hanya perlu menunggu beberapa jam lagi sampai kampung ini menjadi wadah yang penuh sesak. Seperti seorang perawan, pasar telah merapihkan wajahnya. Aku dan Rinto berjalan menyusuri gang-gang becek di bawah remang lampu rumah warga, ia jalan mendahuluiku, hanya berjarak dua kaki kiranya. Kemudian sampailah kami di depan jendela rumah yang sedari siang telah kami awasi. Bangunannya buruk sekali, hanya ada satu jendela dan tanpa kunci pengait. Rinto mengambil obeng dari kantong, ia mencongkel jendela seolah-olah ini rumahnya. Terkutuklah kecerobohan pemilik rumah yang tak pernah mempertimbangkan keberadaan kami.
“Kamu masuk duluan, Bar. Aku berjaga disini.”
“Batuk yang kencang, To, kalau sekiranya ada yang menyatroni kita.”
“Iya, Bar.”
Dalam gelap dan sunyi ini, aku mendengar napas Rinto yang pelan dan terputus-putus, ia pandai membuat dirinya tak dihiraukan, bahkan oleh malam sekalipun. Aku masuk dengan licinnya, di dalam aku ditimpa oleh cahaya terang redup yang berasal dari ruang tengah. Kalau boleh jujur, rasanya aku benar-benar ingin pulang saja, fokusku buruk sekali jika dalam keadaan seperti ini.
Aku membuka handel pintu yang tak jauh jaraknya dari tempatku berdiri, ya ampun, pemilik rumah benar-benar ceroboh, tak ada pintu yang terkunci, bahkan lemari. Sepasang suami istri tidur saling membelakangi, dengan mulut menganga, membuatku ingin terkekeh saja melihatnya, tapi segera aku tahan. Jorok sekali kamar ini pikirku, pakaian kotor bertumpuk di dekat tempat mereka tidur.
Aku bukanya lemari yang tidak di kunci tadi dan mulai mengeruk apa saja yang sekiranya berharga. Cincin, hanphone, laptop dan dua potong kaos, benar, sebuah kaos. Suaminya mengorok keras sekali persis seperti mesin parut kelapa, benar nasib buruk anak dan istrinya. Sebenarnya sudah terbilang cukup barang yang aku ambil ini, tapi entah mengapa, semakin haus rasanya aku dalam kewaspadaan ini.
Aku kembali berjingkat pelan keluar kamar dan mencari sesuatu yang bisa aku ambil lagi, di jalan menuju dapur aku melihat sesuatu berserakan diatas meja, bentuknya kecil-kecil, aku ambil semuanya. Jam tangan, batu giok, anting-anting, tidak peduli seberapa tidak berharganya ini. Aku juga mulai merogoh kantun celana suaminya yang tergantung. Aih, benar-benar jorok sekali sepasang suami istri ini. Daster, celana dalam, kaos oblong dan segala pakaian bersampir di mana-mana, bau apek merangsek ke lubang hidungku, bau menyengat, lebih-lebih tumpukan bangkai pikirku.
Aku mulai mencari sesuatu yang sekiranya bisa menampung semua barang curian ini, aku menjumpai tas bergambar kura-kura ninja, mungkin punya anaknya yang masih kecil, tidak terlalu besar tapi cukup rasanya menampung semua ini. Kini aku diruang tengah, beberapa langkah lagi aku sampai pada jendela tempatku masuk tadi, jendela yang menghubungkanku ke dunia luar.
“Tembak, serang, awas mereka!”
Sumpah mati kaget bukan kepalang aku karena igau suami itu, brengsek, kataku. Tapi Rinto kepalang lari, aku bingung, karena apa dia lari, igau suami pemilik rumah atau ada orang yang menangkap basah Rinto sedang berjaga? Aku melihat gerakan lari tubuhnya cepat sekali. Terkutuk, terkutuk Rinto karena kepanikannya. Aku mempercepat langkahku menuju jendela, aku memastikan tidak ada siapa-siapa diluar sana. Sungguh benar perkiraanku, Rinto salah sangka. Kaki kananku melangkahi jendela dan “dubrak!” kaki kiriku tersandung, nyala senter dari warga yang hendak ke masjid bersilang-silang.
“Siapa itu?”
“Hey! siapa itu?”
“Malingggggggg.” teriak orang itu kencang sekali
Ia melihatku, sial betul kataku. Aku bangun dan berlari sambil tak henti-hanti menyumpai Rinto dengan kata-kata yang buruk. Dengan cepat kampung yang tadinya bisu ini jadi gemuruh, warga mulai terbangun dengan suara ribut orang yang melihatku tadi. Rinto pasti sedang bersembunyi di gubuk tengah lapangan yang sudah kita rencankan, bajingan tengik. Tapi aku tidak bisa kesitu karena aku berlari pada jalan yang lain. Kencang sekali aku berlari, tas dan isinya ini cukup memberatkanku tapi entah dari mana aku punya kekuatan berlari sekencang ini. Untung sepanjang gang ini gelap, dan matahari belum muncul jadi aku bisa berlari sambil bersembunyi dalam kegelapan ini. Aku benar-benar berharap agar matahari tak muncul hari ini.
Dibelakang aku mendengar suara kaki bertalu-talu, aku memperkirakan setidaknya ada 20 puluh orang yang mengejarku. Kalau sampai tertangkap bisa jadi campuran pecel kangkung wajah ini. Gang ini hanya lurus, sebuah neraka untuk golongan maling.
Dengan cepat aku melihat kelokan dan segera berbelok. Berlari diantara malam dan jalan becek yang mencetak bentuk bulan.
Tenggorokanku kering sekali, tidak tersisa lagi liur di mulut untuk aku telan. Aku masih berlari, aku tahu sebagaimana aku tahu bahwa di ujung gang ini ada kali besar, aku terjebak kecuali aku berenang untuk menyebranginya. Tidak ada belokan lagi. Suara kejaran itu masih membuntutiku. Ya Tuhan, aku benar-benar takut. Persetan Rinto, kau adalah keparat, ucapku dalam hati. Segera aku tenangkan diriku, aku akan menceburkan diri ke kali depan, tak usah meloncat. Sekarang aku hanya perlu berlari kencang dan turun dengan tenang ke kali.
Tapi lamat-lamat aku tidak lagi mendengar suara kaki-kaki itu, tapi peduli setan, aku segera turun ke kali dan menunggu semua orang ini pergi.
Aku menenggelamkan diri kedalam kali, hanya menyisahkan hidung, mata dan ubun-ubunku saja. Tak peduli lagi harus bercampur dengan taik atau sampah, yang penting aku tidak di pukuli warga.
“Ampun, Paaakk. Ampun”
“Halah, tidak usah ampun-ampunan kamu, brengsek.”
“Pukul lagi, Pak, pukul, biar mampus.”
“Injak batang lehernya, Pak.”
“Mampus kamu bajingan.”
“Geret saja, Pak, ke pos ronda.”
“Nih makan bogemanku, anjing.”
Darahku berdesir mendengar suara-suara itu. Siapa yang mereka tangkap? Untunglah langit dan kali ini sama hitamnya hingga orang-orang itu tak bisa melihatku. Terpujilah Tuhan yang menciptakan kegelapan ini, ucapku.
“Kita habisi saja sekaligus.”
“Pukul lagi, pukul.”
“Jangan kasih bajingan ini ampun.”
“Pukul lagi.”
Suara orang yang dipukuli itu meraung-raung disusul suara bogem mentah dan tendangan dari warga. Dia akan mati, aku yakin, dia pasti mati.
Kalau saja aku yang di posisi itu, amboi, sudah tidak terbayang lagi bagaimana bentuk wajah ini. Aku makin gemetaran saja membayangkannya. Lama aku berendam di kali itu, aku berdoa mereka cepat bubar, aku takut pagi datang dan ada orang yang menyadari keberadaanku disini.
Aku tidak mendengar lagi suara kerumunan itu, mungkin mereka benar-benar sudah pergi untuk mengarak orang yang mereka tangkap itu ke kantor RW. Aku celingak-celinguk sebelum akhirnya naik keatas. Comberan menempel di sekujur tubuhku. Segera aku berjalan pelan, tak lama dari itu, suara adzan subuh pecah, orang berlalu-lalang antara masjid dan pasar.
Aku jalan sambil bersembunyi, takut-takut ada orang yang mencurigai keadaanku, segera saja aku ke masjid, menumpang membersihkan tubuhku yang penuh comberan ini. Untung saja masjid belum ramai, hanya ada muadzin dan beberapa jama’ah. Masuk ke kamar mandi dan menyiram tubuhku.
Jam enam pagi kiranya aku mulai berani berjalan seperti seolah-olah tak ada apa-apa, laptop, hanphone dan tas yang aku curi telah aku buang, menyisahkan benda yang bisa aku kantungi saja. Barang-barang elektronik itu selain mungkin sudah rusak karena terendam juga akan membuatku terlihat mencolok. Belum tahu mau aku apakan barang-barang curian ini, yang pasti tidak akan aku bagi kepada si brengsek Rinto itu barang sepeserpun.






