Hobi, kata yang lama tak terdengar?
Zaman sekolah, apalagi SD dan SMP, praktik bertukar buku diari lazim terjadi. Bukan meminta teman membaca tulisan curhatan kita. Namun, meminta teman mengisi biodata di buku itu. Hal-hal yang biasa ditulis seperti, nama lengkap, nama panggilan, tempat tanggal lahir, zodiak, alamat, nomor telepon, hobi, makanan minuman kesukaan, binatang kesayangan, tayangan favorit, mata pelajaran favorit, warna kesukaan, musik/penyanyi/lagu yang sering didengar, cita-cita, dan tanda tangan.
Sesekali aku pernah mikir, “Apa faedah menulis biodata kita? Toh mereka juga kenal kita, sehari-hari main bareng, pasti hal-hal kayak gitu mudah diketahui.”
Menulis biodata biasanya dilakukan di sela-sela jam pelajaran. Tak butuh waktu lama membubuhi tinta pada kertas diari lucu. Seolah apa yang mesti ditulis sudah berada di luar kepala.
Saya ngak mau bahas soal diari atau biodata. Saya mau fokus ke hobi. Masa sekolah adalah masa paling lancar menjawab pertanyaan, “Hobi kamu apa?” Membaca, olahraga, mengaji, menulis, mononton tv, memasak, bersih-bersih rumah, dan banyak hal sederhana lainnya.
Namun, pertanyaan itu muai jarang terdengar saat SMA, kuliah, dan kerja. Pun tak banyak obrolan yang membahas hobi, mungkin ini karena pekerjaanku lebih banyak mengurus hajat hidup orang banyak.
Sampai beberapa hari lalu seorang kenalan menghubungi saya. Ia meminta saya mengisi biodata singkat untuk keperluan acar. Nama, tempat tanggal lahir, hobi, lulusan perguruan tinggi mana, berapa lama menggeluti pekerjaan.
Jujur, saya bingung harus mengisi apa di kolom hobi. Saya bertanya ke dua teman dekat, “Hobi kamu apaan?” Satu teman dengan enteng menjawab, “mencintai.” Satu lagi menjawab, ”tidur, nonton drama Korea.”
Bahkan, saya sempat mencari arti hobi di KBBI Daring yang menampilkan makna kata itu sebagai n kegemaran; kesenangan istimewa pada waktu senggang, bukan pekerjaan utama.
Dalam hati, “iya juga, hobi itu hal-hal sederhana dan menyenangkan.”
Hal-hal menyenangkan bagi saya, nonton drama Korea, kepo instastory anak-anak artis, nonton spoiler drama Korea di instagram, main gim di ponsel, mencari info terhits artis Korea, melamun, mengkhayal, dan tidur.
Namun, menurutku hal-hal seperti itu kurang pas ditulis untuk acara yang akan dibaca menteri, direktur jenderal, rektor dan jajaran, akademisi, dan sebagainya. Ahhhh, terus harus nulis apa dikolom hobi?
Tiba-tiba saya melihat buku sketsa mewarnai Stack City karya Sanchia Hamidjaja. Saya teringat, kan saya sering mewarnai pas gabut. Ada juga aplikasinya di hp. Hemm, baiklah, saya memutuskan menulis kolom hobi dengan mewarnai.