Swansea Bermain Lebih Indah, Tapi Kalah
Kemenangan eksplosif Man United di kandang Swansea merupakan awal yang bagus, bagi Moyes, bagi skuat, bagi fans & modal besar untuk mengarungi EPL musim ini. Namun, puaskah Anda akan permainan United semalam?
Di luar gol-gol yang tercipta, United bermain sangat biasa, bahkan di 20 menit pertama United harus mengakui keunggulan mutlak ball possession Swansea. Di akhir match pun United masih kalah dengan 53,4% v 46.6% ball possession oleh Swansea. Tapi permainan 'biasa' United malam tadi bukanlah suatu ketidaksengajaan, namun hal ini adalah buah strategi Moyes melihat celah yang dapat dieksploitasi untuk sebuah kemenangan.
Jika melihat cara bertahan United hingga menit ke-11, kita akan melihat cara bertahan Moyes di Everton. Pemain belakang berdiri lebih jauh dari De Gea (high defense line) & pemain tengah melakukan pressing ketat ke pemain lawan. Pemain depan rajin mengejar bola meski bola masih dimainkan di daerah pertahanan (anak-anak) Swansea.
Namun, Swansea bukan Wigan yang ketika diterapkan pertahanan seperti itu pemainnya tertekan & kerap melakukan salah umpan. Swansea cukup enjoy membawa bola & melakukan passing-passing pendek terukur meski tertekan (swansea melakukan 534 passing dgn 87% sukses sementara United 471 passing & 83% sukses). Memang, untuk saat ini pemain United masih belum bisa menerapkan taktik bertahan ala Everton ini. Bertahan seperti ini adalah bertahan secara kesatuan tim. Ketika bek melakukan pressing terhadap pemain yang membawa bola, pemain tengah juga harus melakukan pressing kepada pemain yang tidak membawa bola. Cleverley yang kemarin kerap 'keluar' dari pos-nya sehingga Nathan Dyer sering mengeksploitasi celah ini.
Di sinilah peran Moyes dalam membaca permainan diuji. Sejak menit 13 cara bertahan United diubahnya. Moyes membiarkan United kalah dalam hal ball possession & lebih memilih bertahan dengan 'menunggu' di dekat garis gawang. Pemain belakang bermain lebih dekat dengan De Gea. Carrick - Cleverley dipasang di depan bek menunggu untuk melakukan intercept ataupun tackle bola yang masuk. Akibatnya, memang serangan United jadi kendor & Canas - Dyer cukup leluasa membawa bola di tengah. Namun, rapatnya pertahanan United yang digalang Rio - Vidic tidak mampu ditembus Swansea. Serangan mereka hanya berasal dari eksplosif-nya pemain depan mereka, Michu. Itu pun masih digagalkan oleh De Gea.
Dari sisi serangan, United patut berterima kasih kepada Robin van Persie. Dari total 14 shots yang dilakukan United malam tadi 7 diantaranya dihasilkan oleh RvP, 3 on target & 2 menjadi gol. Dari 2 pertandingan awal musim ini pun dia sudah mengemas 4 gol. Saya masih merasa harga £24m masih terlalu murah untuk striker sekelasnya. RvP adalah striker dalam artian sempit. Keindahannya adalah saat dia mengeksekusi peluang sekecil apapun menjadi gol. Bukan melalui liukan-liukan seperti yang dilakukan pemain terbaik dunia, Messi. Gol pertama jadi bukti nyata kemampuannya itu.
Berselang 2 menit setelahnya giliran Welbeck yang memanfaatkan crossing rendah jarak dekat Valencia yang sebelumnya menerima crossing jauh dari Evra. Giggs sejatinya dipasang di sisi kiri, namun sama seperti Sir Alex, Moyes memberi intruksi Giggs untuk bebas menyisir ke tengah, sementara sayap dijelajah oleh Evra.
Di babak kedua, kematangan para manajer diuji, Laudrup yang merasa sudah ketinggalan 2 gol berusaha ngotot untuk mengejar. Hasilnya 12 shots, 4 on target di babak kedua ini & 1 menjadi gol yang harusnya tidak terjadi jika Welbeck memilih membuang bola alih-alih melakukan dribble tidak jelas yang menyebabkan turnover. Sementara di babak I Swansea hanya melakukan 5 shots, 2 on target. Sementara Moyes memilih untuk tetap 'menunggu' untuk melakukan serangan balik seperti yang terjadi di 2 gol babak kedua ini. Counter attack yang dua-duanya dimotori Rooney berhasil dikonversi menjadi gol oleh RvP & Welbeck. Bahkan Welbeck melakukan finishing kelas dunia dengan melakukan lob melewati kepala Vorm yang kemudian bola masuk tepat di sudut kanan gawang.
Tidak ada perubahan berarti yang dilakukan Moyes di awal musim ini. Skuat yang diturunkan pun hasil 'warisan' Sir Alex. Namun, Moyes sudah terbiasa dengan hal seperti itu saat di Everton. Mengenali pemainnya (yang terbatas dana), kemudian mengoptimalkan mereka saat di lapangan. Sir Alex tidak mempunyai ciri khas permainan seperti Pep atau manajer-manajer lain. Ekspektasi permainan indah ala tiki taka, total football yang melegenda, cattenacio ala Italia tidak kita lihat setiap hari di setiap pertandingan United era Sir Alex. Sir Alex lebih memilih strategi yang pas guna menjinakkan lawan. Dan Moyes di 2 pertandingan awal ini masih sama dengan yang dilakukan Sir Alex musim lalu. Menerapkan strategi yang tidak selalu kelihatan indah dilihat. Untuk melawan musuh yang bermain bagus, kita tidak perlu ikut bermain bagus untuk menang. Dan tim yang bermain indah belum tentu bisa memasukkan 4 gol seperti yang dilakukan United kemarin. Tidak diperlukan sniper saat membunuh musuh di jarak 5 meter.
@wendifaiz











