Saat kudengar berita itu, hatiku bagai terhempas dalam ketidakpercayaan. Alasan yang diutarakan tak mampu kuterima, seperti angin yang membawa pesan tanpa sempat kucegah.
Target usia pernikahanmu, impian masa depanmu, segalanya telah kau susun rapi. Namun, mengapa bukan aku yang kau sebut dalam rencana itu?
Seseorang yang kau pilih, tak pernah kau nyatakan, tak pernah kau kisahkan. Dan kini, kabar itu datang begitu cepat, jauh lebih lekas dari yang pernah kubayangkan. Seolah waktu bersekongkol untuk meninggalkanku dalam tanya yang tak terjawab."
Betapa pahitnya menyadari, bahwa rencana yang dulu kurajut diam-diam, telah kau anyam bersama orang lain.