THE SCENE IS DEAD, LONG LIVE THE SCENE.
Mengatasnamakan diri sebagai pencinta musik pastinya akan menuai konsekuensi dan beban tersendiri. Saat semua nya bersandar pada teknologi dan peranan internet membuat kita secara tidak langsung harus berkejaran dengan kemajuan jaman dan diperbudak oleh trend. Trend, yang dulu mungkin akan dipandang sebagai aplikasi modern life style, saat ini dapat berubah secara periodik, bagai mesin waktu, membawa trend lama berulang. Hanya saja ada yang ditambah bahkan dikurangi dan di mix dengan kreatifitas modern yang lebih fresh.
Semakin banyaknya referensi dan influence dari budaya barat, dimana musik secara universal menjadi bentuk konkrit dari pengembangan bahasa. Ya, music is an universal language. Dan salah satu penghargaan terhadap hal itu adalah: Komunitas.
Sebagai makhluk yang terlahir dengan insting bersosialisi, mungkin sebutan komunitas tidaklah aneh.
Itu karenanya, untuk membahas komunitas, saya tidak pernah kehabisan akal. Begitu banyak yang harus dibahas, dari segi apapun bisa dijadikan inti. Jadi, ngga perlu basa – basi panjang untuk memulai ini semua.
Tiap komunitas pasti punya karakter masing-masing. Dan komunitas musik indie yang akan saya bahas saat ini. Sebagai penikmat musik , sudah sekian lama saya berusaha untuk memahami dan mendalami setiap celah – celah yang ada. Untuk kota Bandung sendiri, begitu banyak komunitas yang ingin saya bahas. Begitu banyak hal yang menarik dan layak untuk di teliti, mengingat karakter orang Bandung tidak hanya penikmat musik tapi juga mempunyai waktu dan pikiran yang lebih luang untuk menjadi pengamat. Ini hal yang bisa dibilang seru, bila membahas uniknya hubungan antara musik dan komunitas itu sendiri. Semakin banyak event atau gigs yang ada, semakin banyak penikmat musik, semakin beragam komunitas yang ada. Ini yang menarik bagi saya, membahas komunitas itu sendiri. Maka bermunculan lah banyak pertanyaan di otak saya. Ada apa dengan trend komunitas ini? Siapa otak-otak jenius idealis yang mau ribet dengan hal-hal yang berhubungan dengan mempertahankan ke-eksis-an suatu komunitas? Apa yang mendasari mereka memutuskan unite dan membentuk suatu koloni, berusaha mengangkat pride dari musik kegemaran mereka? dan banyak lagi pertanyaan – pertanyaan yang kalo dijadikan soal, pasti akan dijawab dengan senang hati oleh kalian yang memang penikmat bahkan pelaku musik sejati.
Kembali lagi kepada istilah: musik adalah bahasa universal. Dimana seharusnya dibahasakan secara verbal menjadi alat yang kebetulan bersifat menyenangkan, dan manusiawi membuat kebahagiaan yang sederhana.
Saat bertemu dengan kata “komunitas”, secara tidak langsung mungkin ada anggapan bahwa hal tersebut bisa berubah bentuk, yang tadinya berbentuk lingkaran, akhirnya menjadi pengotakan. Komunitas, yang positif nya bisa menjadi suatu wadah untuk pengekspresian dan pencurahan kreatifitas kadang ternodai oleh ego masing-masing, yang kita sebut sebagai: pengekslusifan komunitas. Yang bisa kita yakini, semua itu tidak terlepas dari attitude masing-masing personal.
Ya, satu lagi fenomena komunitas yang menjadi salah satu bahan untuk dibahas. Musik – Komunitas – Attitude dan pengaplikasiannya di kehidupan sehari-hari adalah bentuk yang senada dengan istilah RCA di luar sana : Roots, Character and Attitude. Suatu istilah yang diangkat oleh komunitas indie itu sendiri, lahir dari sebuah perlawanan simple tapi bermakna terhadap industri mainstream. Bila menyikapinya dengan bijaksana, RCA sendiri mengutamakan suatu gerakan untuk bisa secara mandiri membangun scene. Yang sayangnya mungkin entah karena hal tersebut terlalu keren dan didewakan, mungkin akan menjadi boomerang untuk komunitas itu sendiri.
Fenomena Britpop 90-an misalnya, dimana pada zamannya media berlomba-lomba mem-blow up perselisihan yang gagah dari dua band besar dan influential: Blur VS Oasis. Kharisma Galagher bersaudara dan Ekslusif nya pesona Duo Damon dan Coxon yang berujung dengan umpatan dan attitude yang bisa dibilang kasar bisa menjadi influence yang disalah-artikan. Padahal mungkin saja, the power of media yang saat itu sedang bekerja. Apa yang diserap oleh kaum muda saat ini tentu saja menuai sisi positif dan negatif. Sebagai penikmat musik fanatik, adalah mungkin untuk menyerap semua hal tersebut bulat-bulat. Musiknya, sekaligus dengan attitude nya. Tapi hal itu sebenarnya bisa menjadi positif, apabila dijalani dengan tanggung jawab.
Filosofi dari RCA membawa kita untuk lebih memaknai tiap katanya. Roots: sebagai reminder dari apa yang mendasari kita menyukai musik. Character: pemaknaan dari karakter musik itu sendiri. Dan terakhir, Attitude: itu pilihan yang kita ambil untuk menyikapi kedua hal sebelumnya.
Fenomena selanjutnya datang dari komunitas post-rock tanah air. Tanpa menyebutkan orang-orang atau komunitas tertentu mari kita sedikit salami polemik dan intrik di dalamnya. Di tengah berjuta-juta penggemar musik, dengan genre atau jenis yang berbeda pula, dengan selera yang beragam, menurut saya adalah logis bila masing-masing individu mempunyai pakem sendiri terhadap apa yang mereka suka. Sudah hak setiap orang untuk menyukai hal apapun dan bebas untuk berekspresi. Yang menyedihkan adalah, ketika kita menyukai sebuah band atau jenis musik tertentu, jadinya malah memandang sebelah mata ke jenis musik yang lain. Atau bahkan meremehkan dan mencela.
Komunitas post-rock disini bisa terbilang baru mencuat. Menimbulkan banyak pro dan kontra. Yang seharusnya disambut baik oleh semua penikmat musik di tanah air, karena sudah memberi warna baru di belantika musik Indonesia. Dan mungkin karena adanya konsep yin dan yang, setiap ada hal yang positif, nampaknya bakal terbit pula segi negatif nya. Entah dari dasar apa akhirnya timbul intrik dari setiap hal yang sedang happening saat ini. Musik post rock itu sendiri jadi kambing hitam nya. Mungkin sebagian dari kita ada yang pernah mendengar gossip-gosip underground mengenai bagaimana genre ini berkembang di sini. Dari komunitas nya sendiri sempat terdengar kabar miring seputar ketidaksukaan mereka kalau musik post rock menjadi booming karena takut disebut mainstream. Anggapan ‘mainstream’ seperti apa yang dimaksud? Setujukah kalian bahwa menjadi ‘mainstream’ sepenuhnya buruk? Karena menurut saya, satu-satunya kekurangan dari industri mainstream adalah kemungkinan terkekang dan adanya sistem yang dibuat serta diatur yang mungkin dapat menghalangi kreatifitas musisi. Entah itu cara publish nya, proses produksi nya, atau bahkan cara promosinya. Sisanya, saya rasa sah-sah saja karena yang namanya industri, pasti ujungnya akan bertemu dengan profit. Penghasilan. Uang. Semangatnya bisa dibilang sama dengan idealis kaum indie, hanya RCA nya saja yang berbeda. Toh, di jaman modern ini, tidak lah aneh musisi indie bisa juga berkarier dan sama-sama menghasilkan.
Setelah menelaah lebih jauh mengenai fenomena-fenomena ini, seketika saya menyimpulkan bahwa mendengarkan musik saat ini tidak bisa se-simple yang dibayangkan. Untuk menjadi orang yang fanatik pada suatu band atau jenis musik tertentu harus didasari dengan pemahaman dan attitude yang sinkron. Kalau tidak, pasti akan menambah polemik baru.
Berbagai macam intrik yang ada di ranah musik indie ini seharusnya bisa lebih membuka mata kita untuk melihat bagaimana karakter orang-orang dalam menikmati musik. Saya, sebagai orang yang hobi mendengarkan musik, baik itu indie ataupun mainstream tidak mau menjadi orang yang dengan dinginnya memandang sebelah mata karya musik orang lain. Jelek atau bagus itu relatif. Memang yang punya hak untuk menilai adalah pendengar, tapi tidaklah perlu menghabiskan waktu untuk mencari kelemahan dari jenis musik yang tidak kita suka. Menghargai mungkin adalah pilihan kata yang tepat. Mungkin itu lebih bijak. Karena bila dipikir kembali, untuk terjun di scene indie, mungkin kalian akan setuju bahwa bukan hanya musik dan lagunya saja yang kita bisa hargai dan nikmati, akan tetapi proses dan semangatnya juga punya pengaruh besar.
Oleh karena itu, menurut saya peranan suatu komunitas disini sangatlah penting. Mereka harus memikirkan bagaimana cara nya tetap berpegangan pada masing-masing roots, akan tetapi tidak harus saling meng-eksklusifkan diri. Perlu di garis bawahi, komunitas bukan lah ajang pengelompokan orang atau jenis musik tertentu, tapi wadah bagi para musisi, penikmat bahkan pengamat musik itu sendiri.
Kesimpulannya, tulisan ini bukan suatu propaganda untuk membuat kita terpaku pada satu komunitas, akan tetapi sebagai bukti penghargaan pada semua scene yang ada. Harapannya, dengan ini kita secara jelas tidak berpihak pada satu komunitas saja, atau bahkan memandang sinis komunitas lain, tapi berusaha menghargasi setiap usaha yang telah dibangun oleh setiap scene nya.